Sabtu, 09 Januari 2010

Abortus Iminens & Inkompleks

Abortus :Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (Arif Mansjoer, Jilid 1 : 260).

Abortus : Penghentian atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin viabel (dalam konteks ini, usia kehamilan 20 minggu). Diperkirakan 10 – 20% dari kehamilan berakhir dengan Abortus spontan dan sebagian besar peristiwa ini terjadi dalam usia 12 minggu pertama. (Hellen Farrer, hal. 53)

1. Abortus Iminens
Pada tipe ini terlihat perdarahan pervaginam. Pada 50% kasus, perdarahan tersebut hanya sedikit dan berangsur – angsur akan berhenti setelah berlangsung beberapa hari dan kehamilan berlangsung secara normal. Jika perdarahan tetap berlangsung dan disertai rasa nyeri serta dilatasi serviks, abortus tersebut kemudian diklasifikasikan sebagai abortus insipiens.

2. Abortus Inkompleks
Berkaitan dengan retensi sebagian produk pembuahan (hampir selalu plasenta) yang tidak begitu mudah terlepas pada kehamilan dini seperti halnya pada kehamilan aterm. Dalam keadaan ini, perdarahan tidak segera berkurang sementara serviks tetap terbuka. Evakuasi uterus harus segera dikerjakan setelah diagnosis ditegakkan untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
A. Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
· Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu, faktor yang menyebabkan kelainan ini ialah :
- Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
- Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
- Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat – obatan, tembakau dan alkohol
· Kelainan pada plasenta, misal : endarteritis villi korialis karena hipertensi menahun
· Fak. Maternal seprti penumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan tuksoplasmosis
· Kelainan traktus genitalia seperti inkomptensi serviks (untuk abortus pada trimester ke-2) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

B. Patofisiologis
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasaslis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum nemembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 minggu sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amonion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (blighted ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

C. Manifestasi Klinis
· Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu
· Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
· Perdarahan pervaginan, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
· Rasa mulas atau keram perut didaerah atau simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.
· Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam. Ada / tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/ tidak bau busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uterui, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup. Ada / tidak jaringan keluar dari ostium, ada / tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok vagina : porsio masih teruka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa.

D. Pemeriksaan Penunjang
· Tes kehamilan : positif bila jain masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus
· Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hdiup
· Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

B. Komplikasi
· Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi
· Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi pembekuan darah.

C. Penatalaksanaan
1. Abortus Iminens
· Istirahat baring agar aliran darah ke uerus bertambah dan rangsang mekanik berkurang
· Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap empat jam bila pasien panas
· Tes kehamilan dapat dilakukan. Bila hasil negatif, ungkin janin akan mati, pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
· Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600 / 1.000 mg
· Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
· Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat

2. Abortus Inkompleks.
· Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
· Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikan ergometris 0,2 mg intramuskular
· Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual
· Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.




BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Abortus Imminens adalah terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan atau tanpa kontraksi uterus yang nyata dengan hasil konsepsi dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi servik uteri.
Abortus Inkomplitis adalah terjadinya perdarahan yang sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus.

B. Saran
Saran – saran yang ingin disampaikan penulisan adalah :
- Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Abortus sebaiknya masalah pasien dikaji secara lengkap, agar dapat ditegakkan diagnosa yang dapat sehingga masalah pasien dapat teratasi dengan baik.
- Dalam melakukan tindakan keperawatan pada pasien sebaiknya dibuat rencana tindakan sesuai dengan prioritas masalah yang akan diatasi terlebih dahulu agar masalah pasien dapat teratasi dengan baik.
- Dalam merawat pasien diperlukan adanya kerjasama yang baik antara keluarga dengan perawat dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari pasien, seperti : makan, minum, mandi, eliminasi, dll, karena dengan adanya hubungan yang baik akan lebih mudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

1 komentar:

herra mengatakan...

pemberian fenobarbitalnya pa ga papa tuh tanpa pengawasan dokter, lagipula harusnya motivasi dulu tho dan yang pling penting kan edukasi pada abortus iminens