Sabtu, 09 Januari 2010

Abortus Inkomplitis

terjadinya perdarahan yang sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. (Sarwono, 1996, hal. 261)

A. Defenisi
Abortus : adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 : 260).
Abortus Inkomplitis : adalah terjadinya perdarahan yang sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. (Sarwono, 1996, hal. 261)

B. Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
· Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi.
· Kelainan pada plasenta.
· Penyakit ibu
· Kelainan traktus genitalia.
· Kelainan endokrin .
· Trauma.
· Gangguan nutrisi.
· Stress psikologis.

C. Patofisiologis
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasaslis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum nemembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 minggu sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amonion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (blighted ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

D. Manifestasi Klinis
· Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu
· Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
· Perdarahan pervaginan, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
· Rasa mulas atau keram perut didaerah atau simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.
· Pemeriksaan ginekologi :

E. Pemeriksaan Penunjang
· Tes kehamilan : positif bila jain masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus
· Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hdiup
· Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

F. Diagnosis
Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas :
· Abortus iminens, perdarahan pervaginan pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa ada tanda – tanda dilatasi serviks yang meningkat.
· Abortus Insipiens, bila perdarahan diikuti dengan dilatasi serviks
· Abortus inkomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. Bila abortus inkomplit disertai infeksi genitalia disebut abortus infeksiosa
· Abortus Komplit, bila seluruh jaringan ajnin sudah kelaur dari uterus
· Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih

G. Penatalaksanaan
· Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
· Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikan ergometris 0,2 mg intramuskular
· Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual
· Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.



BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Identitas
Data yang perlu dikaji oleh perawat adalah :
1. Data2 dasar.
2. Data fokus yaitu : data yang sesuai dengan kondisi pasien saat ini yang meliputi :
- Riwayat kehamilan
- Riwayat sebelumnya, penggunaan kontrasepsi dan jenisnya, riwayat kehamilan sebelumnya, lahir hidup atau lahir mati, riwayat haid yang meliputi siklus haid, lama haid dan akhir hair
- Pengkajian fisik meliputi :
· Usia kehamilan saat ini, adanya tanda – tanda awal kehamilan
· Perhatian pendarahan yang terjadi
· Adanya infeksi
· Rasa nyeri pada saat terjadi pendarahan
· Ada riwayat masalah pengobatan
· Aktivitas yang dilakukan selama kehamilan
- Masalah psikologis
- Adanya dukungan dari keluarga
- Pemeriksaan LAB : pemeriksaan test kehamilan, Hb, Ht Leukosit.
- Pemeriksaan USG untuk mengetahui pertubuhan janin
- Monitor denyut jantung janin dan tinggi fundus uteri.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemehan fisik ditandai dengan sus, saya lemah sebagian aktivitas klien ditolong orang lain, kekuatan otot menurun, tonus otot menurun
3. Resti infeksi berhubungan dengan tekontaminasi kuman penyebab infeksi
4. Resti anemia berhubungan dengan pendarahan
5. Anxietas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan informasi tentang proses penyakit ditandai dengan sus, gimana kondisi saya, klien tampak cemas, klien sering bertanya tentang penyakitnya

C. Rencana Asuhan Keperawatan
1. DX. I
Tujuan : Nyeri klien teratasi dengan
Intervensi :
- Kaji tingkat nyeri klien
- Pantau vital sign
- Ajarkan teknik relaksasi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui tingkat nyeri klien
- Uintuk mengetahui perkembangan klien
- Tektik relaksasi dapat mengendorkan otot – otot
- Untuk mempercepat proses penyembuhan


2. DX. II
Tujuan : Aktivitas sehari – hari teratasi
Intervensi :
- Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari
- Latih klien secara bertahap
- Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan klien
- Dekatkan alat – alat yang dibutuhkan klien
Rasionalisasi :
- Kebutuhan sehari – hari klien terpenuhi dengan bantuan keluarga dan perawat
- Melatih klien secara bertahap agar tidak terjadi kekakuan pada otot klien
- Kebutuhan klien terpenuhi dengan adanya bantuan keluarga
- Klien dapat mengambil kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain

3. DX. III
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Intervensi :
- Jelaskan pada keluarga atau klien untuk menjaga kebersihan
- Dengan menggunakan tehnik aseptik
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
Rasionalisasi :
- Dengan menjaga kebersihan dapat mencegah infeksi
- Agar tidak terjadi infeksi
- Untuk mempercepat proses penyembuhan


4. DX. IV
Tujuan : Anemia tidak terjadi
Intervensi :
- Anjurkan klien jangan terlalu banyak bergerak
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penambah darah
Rasionalisasi :
- Pergerakan yang terlalu banyak dapat memperbanyak perdarahan
- Agar tidak terjadi anemia

5. DX. V
Tujuan : Ansietas berkurang
Intervensi :
- Kaji ansietas klien
- Beri informasi akurat dan jawab dengan jujur
- Beri waktu kepada klien untuk mengluarkan unek – uneknya
- Anjurkan kepada klien untuk tenang dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa
Rasionalisasi :
- Membantu mengidentifikasi kekuatan yang bisa membuat mengatasi keadaan sekarang
- Dengan memberikan penjelasan yang akurat bisa membuat klien lebih tenang
- Agar klien merasa lebih ringan dalam mengatasi masalahnya
- Klien tenang dan bisa menerima keadaannya.


BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Abortus Inkomplitis adalah terjadinya perdarahan yang sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus.

B. Saran
Saran – saran yang ingin disampaikan penulisan adalah :
- Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Abortus sebaiknya masalah pasien dikaji secara lengkap, agar dapat ditegakkan diagnosa yang dapat sehingga masalah pasien dapat teratasi dengan baik.
- Dalam melakukan tindakan keperawatan pada pasien sebaiknya dibuat rencana tindakan sesuai dengan prioritas masalah yang akan diatasi terlebih dahulu agar masalah pasien dapat teratasi dengan baik.
- Dalam merawat pasien diperlukan adanya kerjasama yang baik antara keluarga dengan perawat dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari pasien, seperti : makan, minum, mandi, eliminasi, dll, karena dengan adanya hubungan yang baik akan lebih mudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi ke 3. Jakarta,tahun 1999.

Helen Farrer. Perawatan Maternitas, Esisi 2, EGC : Jakarta, 2002

Sarwono Prawiroharjo, Ilmu Kebidanan, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta tahun 1996

Tidak ada komentar: