Sabtu, 09 Januari 2010

Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS)

merupakan keadaan gagal nafas mendadak yang timbul pada klien dewasa tanpa kelainan paru yang mendasari sebelumnya.(Arif Muttaqin,2008)

Kegagalan pernafasan akut (KPA) adalah suatu kegawatan yang disebabkan oleh gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida, sehingga system pernafasan tidak mampu memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.(Ilmu Kesehatan Anak 3,1985)
Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) atau penyakit membran hialin merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas neonatal.(Betz, Cecily L, 2002)
Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru.( http://harnawatiaj.wordpress.com)
Gagal napas akut adalah gangguan sistem pernapasan yang disebabkan adanya gangguan primer pada paru atau gangguan lainnya, sehingga sistem pernapasan tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.( http://akperppnisolojateng.blogspot.com)
Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)
Kegagalan pernafasan adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri), dan asidosis. (http://blog.ilmukeperawatan.com)

1. Etiologi
· Depresi sistem saraf pusat
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernafasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.
· Kelainan neurologis primer
Akan mempengaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi.
· Efusi pleura, hematoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
· Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar.


· Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.

2. Manifestasi Klinis
Gejala berikut terlihat pada 6 sampai 8 jam pertama kehidupan :
· Takipnea (lebih dari 60 kali per menit)
· Retraksi interkostal dan sternal
· Dengkur ekspiratori
· Pernafasan cuping hidung
· Sianosis sejalan dengan peningkatan hipoksemia
· Menurunnya daya komplian paru (nafas ungkang-ungkit paradoksal)
· Hipotensi sistemik (pucat perifer, edema, pengisian kapiler tertunda lebih dari 3 sampai 4 detik)

3. Patofisiologi
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.
Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkanatau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.
PATHWAYS

4. Penatalaksanaan Medis dan Pengobatan
Mortalitas pada ARSD mencapai 50% dan tidak bergantung pada pengobatan. Oleh karena itu, perawat perlu mengetahui tindakan pencegahan terhadap kemunculan ARSD. Hal-hal penting yang perlu diketahui dan dipahami dengan baik adalah faktor-faktor prediposisi seperti sepsis, pneumonia aspirasi dan deteksi dini ARSD. Pengobatan dalam masa laten lebih besar kemungkinannya untuk berhasil daripada jika dilakukan ketika sudah timbul gejala ARSD.
Tujuan pengobatan adalah sama walaupun etiologinya berbeda, yaitu mengembangkan alveoli secara optimal untuk mempertahankan gas darah arteri dan oksigenisasi jaringan yang adekuat, keseimbangan asam basa dan sirkulasi dalam tingkat yang dapat ditoleransi sampai membran alveoli kapiler utuh kembali.
Pada dasarnya pengobatan ARSD meliputi :
· Pembersihan jalan nafas, untuk mempertahankan lancarnya jalan nafas
· Memperbaiki ventilasi
· Oksigenisasi
· Pengobatan penyebab dan penyulit
Pada penderita ARSD pembersihan jalan nafas mutlak dikerjakan sebaik-baiknya dengan mempergunakan cara yang aseptik dan antiseptik. Penghisapan lendir berguna untuk membersihkan sekret dalam saluran pernafasan disamping merangsang refleks batuk. Untuk mempermudah pembersihan jalan nafas, penderita diletakkan dalam posisi ’sniffing’. Bilamana mungkin pembersihan jalan nafas ini dilakukan dengan bantuan intubasi endotrakeal, yang dilanjutkan dengan perbaikan ventilasi alveolus dengan ventilator, baik manual maupun ventilator mekanik.
Pemberian cairan harus dilakukan secara seksama, terutama jika ARSD disertai kelainan fungsi ginjal dan sirkulasi, sebab dengan adanya kenaikan permeabilitas kapiler paru, cairan dari sirkulasi merembes ke jaringan interstisial dan memperberat edema paru. Cairan yang diberikan harus cukup untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat (denyut jantung yang tidak cepat, ekstremitas hangat dan diuresis yang baik) tanpa menimbulkan edema atau memperberat edema paru. Jika perlu, dimonitor dengan kateter swan ganz dan tekhnik thermodelution untuk mengatur curah jantung.
Pemberian albumin tidak terbukti efektif pada ARSD, sebab pada kelainan permeabilitas yang luas, albumin akan ikut masuk ke ruang ekstravaskular. Peranan kortikosteroid pada ARSD masih diperdebatkan. Kortikosteroid biasanya diberikan dalam dosis besar, pemberian metilprednisolon 30 mg/kg BB secara intravena setiap 6 jam sekali lebih disukai, kortikosteroid terutama diberikan pada syok sepsis.
Pada klien dengan ARSD, posisi semifowler dilakukan untuk mengurangi kemungkinan regurgitasi asam lambung. Pada klien dengan ARSD yang mendapat makanan melalui pipa nasogatrik (NGT), penting untuk berpuasa 8 jam sebelum operasi yang akan mendapat anestesia umum agar lambung kosong. Selain berpuasa selama 8 jam, pemberian antasida dan simetidine sebelum operasi. Pada klien yang akan mendapat anestesia umum dilakukan untuk menurunkan keasaman lambung sehingga jika terjadi aspirasi, kerusakan paru akan lebih kecil. Setiap keadaan syok, harus diatasi secepatnya adekuat, dan jika perlu hilangkan sumber infeksi dengan tindakan operasi. Pengawasan yang ketat harus dilakukan pada klien dengan risiko ARSD selam masa laten, jika klien mengalmi sesak nafas segera lakukan pemeriksaan gas darah arteri (astrup).

5. Komplikasi
· Ketidakseimbangan asam basa
· Kebocoran udara (pneomothoraks, pneumomediastinum, neumoperikardium, pneumoperitoneum, emfisema subkutan, enfisema interstisial pulmoner)
· Perdarahan pulmoner
· Displasia bronkopulmoner
· Apnea
· Hipotensi sistemik

6. Pemeriksaan Penunjang
· Pemeriksaan gas-gas darah arteri
Hipoksemia :
a. ringan : PaO2 < 80 mmHg
b. sedang : PaO2 < 60 mmHg
c. berat : PaO2 < 40 mmHg
· Pemeriksaan roentgen dada
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui
· EKG
Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan
Disritmia
· Hemodinamik
Tipe I : peningkatan PCWP

B. TINJAUAN KASUS SECARA TEORITIS
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian Primer
a. Airway
· Peningkatan sekresi pernapasan
· Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi
b. Breathing
· Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
· Menggunakan otot aksesori pernapasan
· Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis
c. Circulation
· Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
· Sakit kepala
· Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
· Papiledema
· Penurunan haluaran urine
Penampilan dan manifestasi klinis ARSD merupakan gambaran fungsi pulmonal atau nonpulmonal yang menyebabkan sindrom. Tetapi, kebalikan dari seriusnya kedaruratan medis ini, pemeriksaan fisik biasanya dapat tidak jelas. Pokok utama pengkajian adalah distres pernafasan, hipoksemia berat dan difusi bilateral infiltrasi alveolar pada rontgen thoraks.
Tanda utama distres pernafasan dan hipoksemia berat berubah pada tingkat kesadaran, takikardi dan takipnea. Frekuensi pernafasan sering kali meningkat secara bermakna dengan ventilasi menjadi tinggi. Dispnea dengan sesak nafas dan berhubungan dengan retraksi interkostal adalah umum dan mungkin ditemukan sianosis. Hal ini harus diingat, karena sianosis merupakan tanda awal dan nyata dari hipoksemia.
Berdasarkan pada pemeriksaan auskultasi dada didapatkan bunyi nafas. Ronkhi sekunder terhadap sekresi jalan nafas besar tidak terjadi. Pemeriksaan auskultasi jantung biasanya menunjukkan bunyi jantung normal tanpa gallop atau murmur, kecuali bila ada penyakit jantung atau mengalami trauma.
Pemeriksaan fisik menurut pengumpulan data dasar oleh Doengoes :
a. Aktivitas dan istirahat
Subyektif : Menurunnya tenaga/kelelahan dan insomnia
b. Sirkulasi
o Subyektif : Riwayat pembedahan jantung/bypass cardiopulmonary, fenomena embolik (darah, udara, lemak)
o Obyektif : Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya hipoksemia), hipotensi terjadi pada stadium lanjut (shock)
o Heart rate : takikardi biasa terjadi
o Bunyi jantung : normal pada fase awal, S2 (komponen pulmonic) dapat terjadi disritmia dapat terjadi, tetapi ECG sering menunjukkan normal
o Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin. Cyanosis biasa terjadi (stadium lanjut)
c. Integritas Ego
o Subyektif : Keprihatinan/ketakutan, perasaan dekat dengan kematian
o Obyektif : Restlessness, agitasi, gemetar, iritabel, perubahan mental.
d. Makanan/Cairan
o Subyektif : Kehilangan selera makan, nausea
o Obyektif : Formasi edema/perubahan berat badan, hilang/melemahnya bowel sounds
e. Neurosensori
Subyektif atau Obyektif : Gejala truma kepala, kelambatan mental, disfungsi motorik
f. Respirasi
o Subyektif : Riwayat aspirasi, merokok/inhalasi gas, infeksi pulmolal diffuse, kesulitan bernafas akut atau khronis, “air hunger”
o Obyektif : Respirasi : rapid, swallow, grunting
g. Rasa Aman
Subyektif : Adanya riwayat trauma tulang/fraktur, sepsis, transfusi darah, episode anaplastik
h. Seksualitas
Subyektif atau obyektif : Riwayat kehamilan dengan komplikasi eklampsia

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan ARSD :
a. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa sputum, cyanosis.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient.
c. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan penggunaan deuritik, ke-luaran cairan kompartemental.
d. Resiko tinggi kelebihan volome cairan berhubungan dengan edema pulmonal non Kardia.
e. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran balik vena dan penurunan curah jantung,edema,hipotensi.
f. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.
g. Defisit pengetahuan, mengenai kondisi, terapi yang dibutuhkan berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan, menyatakan masalahnya.

3. Perencanaan
a. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa sputum, cyanosis.
Tujuan :
o Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-)
o Pasien bebas dari dispneu
o Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan
o Memperlihatkan tingkah laku mempertahankan jalan nafas
Tindakan :
Independen
o Catat perubahan dalam bernafas dan pola nafasnya
Rasional : Penggunaan otot-otot interkostal/abdominal/leher dapat meningkatkan usaha dalam bernafas
o Observasi dari penurunan pengembangan dada dan peningkatan fremitus
Rasional : Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan dan adanya cairan dapat meningkatkan fremitus
o Catat karakteristik dari suara nafas
Rasional : Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang tracheo branchial dan juga karena adanya cairan, mukus atau sumbatan lain dari saluran nafas
o Catat karakteristik dari batuk
Rasional : Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada penyebab dan etiologi dari jalan nafas. Adanya sputum dapat dalam jumlah yang banyak, tebal dan purulent
o Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala dan gunakan jalan nafas tambahan bila perlu
Rasional : Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas dengan paten
o Kaji kemampuan batuk, latihan nafas dalam, perubahan posisi dan lakukan suction bila ada indikasi
Rasional : Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi perkembangan atelektasis dan infeksi paru
o Peningkatan oral intake jika memungkinkan
Rasional : Peningkatan cairan per oral dapat mengencerkan sputum

Kolaboratif
o Berikan oksigen, cairan IV ; tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi
Rasional : Mengeluarkan sekret dan meningkatkan transport oksigen
o Berikan therapi aerosol, ultrasonik nabulasasi
Rasional : Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan sekret
o Berikan fisiotherapi dada misalnya : postural drainase, perkusi dada/vibrasi jika ada indikasi
Rasional : Meningkatkan drainase sekret paru, peningkatan efisiensi penggunaan otot-otot pernafasan
o Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin, albuteal dan mukolitik
Rasional : Diberikan untuk mengurangi bronchospasme, menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient.
Tujuan :
o Pasien dapat memperlihatkan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat dengan nilai ABGs normal
o Bebas dari gejala distress pernafasan
Tindakan :
Independen
o Kaji status pernafasan, catat peningkatan respirasi atau perubahan pola nafas
Rasional : Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan usaha nafas
o Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles, dan wheezing
Rasional : Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli – kapiler. Wheezing terjadi karena bronchokontriksi atau adanya mukus pada jalan nafas
o Kaji adanya cyanosis
Rasional : Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut, bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik, cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas adalah vasokontriksi.
o Observasi adanya somnolen, confusion, apatis, dan ketidakmampuan beristirahat
Rasional : Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardium
o Berikan istirahat yang cukup dan nyaman
Rasional : Menyimpan tenaga pasien, mengurangi penggunaan oksigen
Kolaboratif
o Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika ada indikasi
Rasional : Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus dengan tekanan yang sesuai
o Berikan pencegahan IPPB
Rasional : Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasi
o Review X-ray dada
Rasional : Memperlihatkan kongesti paru yang progresif
o Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti steroids, antibiotik, bronchodilator dan ekspektorant
Rasional : Untuk mencegah ARDS

c. Resiko tinggi defisit volume cairan
Faktor resiko : penggunaan deuritik, keluaran cairan kompartemental
Tujuan :
o pasien dapat menunjukkan keadaan volume cairan normal dengan tanda tekanan darah, berat badan, urine output pada batas normal.
Tindakan :
Independen
o Monitor vital signs seperti tekanan darah, heart rate, denyut nadi (jumlah dan volume)
Rasional : Berkurangnya volume/keluarnya cairan dapat meningkatkan heart rate, menurunkan tekanan darah, dan volume denyut nadi menurun.
o Amati perubahan kesadaran, turgor kulit, kelembaban membran mukosa dan karakter sputum
Rasional : Penurunan cardiac output mempengaruhi perfusi/fungsi cerebral. Defisit cairan dapat diidentifikasi dengan penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, sekret kental.
o Hitung intake, output dan balance cairan. Amati “insesible loss”
Rasional : Memberikan informasi tentang status cairan dan keseimbangan cairan negatif merupakan indikasi terjadinya defisit cairan.
o Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Perubahan yang drastis merupakan tanda penurunan total body water
Kolaboratif
o Berikan cairan IV dengan observasi ketat
Rasional : Mempertahankan/memperbaiki volume sirkulasi dan tekanan osmotik, meskipun cairan mengalami defisit, pemberian cairan IV dapat meningkatkan kongesti paru yang dapat merusak fungsi respirasi.
o Monitor/berikan penggantian elektrolit sesuai indikasi
Rasional : Elektrolit khususnya pottasium dan sodium dapat berkurang sebagai efek therapi deuritik.

d. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.
Tujuan :
o Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya secara verbal
o Mengakui dan mau mendiskusikan ketakutannya, rileks dan rasa cemasnya mulai berkurang
o Mampu menanggulangi, mampu menggunakan sumber-sumber pendukung untuk memecahkan masalah yang dialaminya.
Tindakan
Independen:
o Observasi peningkatan pernafasan, agitasi, kegelisahan dan kestabilan emosi.
Rasional : Hipoksemia dapat menyebabkan kecemasan.
o Pertahankan lingkungan yang tenang dengan meminimalkan stimulasi. Usahakan perawatan dan prosedur tidak menggaggu waktu istirahat.
Rasional : Cemas berkurang oleh meningkatkan relaksasi dan pengawetan energi yang digunakan.
o Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi.
Rasional : Memberi kesempatan untuk pasien untuk mengendalikan kecemasannya dan merasakan sendiri dari pengontrolannya.
o Identifikasi persepsi pasien dari pengobatan yang dilakukan
Rasional :Menolong mengenali asal kecemasan/ketakutan yang dialami
o Dorong pasien untuk mengekspresikan kecemasannya.
Rasional : Langkah awal dalam mengendalikan perasaan-perasaan yang teridentifikasi dan terekspresi.
o Membantu menerima situasi dan hal tersebut harus ditanggulanginya.
Rasional : Menerima stress yang sedang dialami tanpa denial, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.
o Berikan informasi tentang keadaan yang sedang dialaminya.
Rasional : Menolong pasien untuk menerima apa yang sedang terjadi dan dapat mengurangi kecemasan/ketakutan apa yang tidak diketahuinya. Penentraman hati yang palsu tidak menolong sebab tidak ada perawat maupun pasien tahu hasil akhir dari permasalahan itu.
o Identifikasi tehnik pasien yang digunakan sebelumnya untuk menanggulangi rasa cemas.
Rasional : Kemampuan yang dimiliki pasien akan meningkatkan sistem pengontrolan terhadap kecemasannya
Kolaboratif
o Memberikan sedative sesuai indikasi dan monitor efek yang merugikan.
Rasional : Mungkin dibutuhkan untuk menolong dalam mengontrol kecemasan dan meningkatkan istirahat. Bagaimanapun juga efek samping seperti depresi pernafasan mungkin batas atau kontraindikasi penggunaan.

e. Defisit pengetahuan, mengenai kondisi, terapi yang dibutuhkan berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan, menyatakan masalahnya.
Tujuan :
o Pasien dapat menerangkan hubungan antara proses penyakit dan terapi
o Menjelaskan secara verbal diet, pengobatan dan cara beraktivitas
o Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian medis
o Memformulasikan rencana untuk follow –up
Tindakan :
Independen
o Berikan pembelajaran dari apa yang dibutuhkan pasien. Berikan informasi dengan jelas dan dimengerti. Kaji potensial untuk kerjasama dengan cara pengobatan di rumah. Meliputi hal yang dianjurkan.
Rasional : Penyembuhan dari gagal nafas mungkin memerlukan perhatian, konsentrasi dan energi untuk menerima informasi baru. Ini meliputi tentang proses penyakit yang akan menjadi berat atau yang sedang mengalami penyembuhan.
o Berikan informasi masalah penyebab dari penyakit yang sedang dialami pasien.
Rasional : ARDS adalah sebuah komplikasi dari penyakit lain, bukan merupakan diagnosa primer. Pasien sering bingung oleh perkembangan itu, dalam k esehatan sistem respirasi sebelumnya.
o Instruksikan tindakan pencegahan, jika dibutuhkan. Diskusikan cara menghindari overexertion dan perlunya mempertahankan pola istirahat yang periodik. Hindari lingkungan yang dingin dan orang-orang terinfeksi.
Rasional : Pencegahan perlu dilakukan selama tahap penyembuhan. Hindari faktor yang disebabkan oleh lingkungan seperti merokok. Reaksi alergi atau infeksi yang mungkin terjadi untuk mencegah komplikasi berikutnya.
o Berikan informasi baik secara verbal atau tulisan mengenai pengobatan misalnya: tujuan, efek samping, cara pemberian , dosis dan kapan diberikan
Rasional : Merupakan instruksi bagi pasien untuk keamanan pengobatan dan cara-cara pengobatan dapat diikutinya.
o Kaji kembali konseling tentang nutrisi ; kebutuhan makanan tinggi kalori
Rasional : Pasien dengan masalah respirasi yang berat biasanya kehilangan berat-badan dan anoreksia sehingga kebutuhan nutrisi meningkat untuk penyembuhan.
o Bimbing dalam melakukan aktivitas.
Rasional : Pasien harus menghindari kelelahan dan menyelingi waktu istirahat dengan aktivitas dengan tujuan meningkatkan stamina dan cegah hal yang membutuhkan oksigen yang banyak
o Demonstrasikan teknik adaptasi pernafasan dan cara untuk menghemat energi selama aktivitas.
Rasional : Kondisi yang lemah mungkin membuat kesulitan untuk pasien mengatur aktivitas yang sederhana.
o Diskusikan follow-up care misalnya kunjungan dokter, test fungsi sistem pernafasan dan tanda/gejala yang membutuhkan evaluasi/intervensi.
Rasional : Alasan mengerti dan butuh untuk follow up care sebaik dengan apa yang merupakan kebutuhan untuk meningkatkan partisipasi pasien dalam hal medis dan mungkin mempertinggi kerjasama dengan medis.
o Kaji rencana untuk mengunjungi pasien seperti kunjungan perawat
Rasional : Mendukung selama periode penyembuhan

4. Pelaksanaan
Dalam memenuhi kebutuhan klien perawat melaksanakan fungsinya secara independent, interdependent dan dependent. Secara independent perawat melaksanakan tindakan keperawatan atas dasar inisiatif sendiri, contoh : memberikan oksigen jika klien sesak nafas, fungsi dependent perawat melakukan latihan fisioterapi, sedangkan fungsi interdependent perawat melakukan kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lainnya, contohnya program pengobatan.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses keperawatan yang merupakan penilaian dari asuhan keperawatan sesuai tujuan keperawatan yang telah ditentukan kemungkinan yang dapat terjadi dari evaluasi sebagai berikut :
a. Masalah klien dapat teratasi seluruhnya
b. Masalah klien dapat diatasi sebagian
c. Masalah klien sama sekali tidak dapat teratasi
d. Kemungkinan timbul masalah baru.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) merupakan keadaan gagal nafas mendadak yang timbul pada klien dewasa tanpa kelainan paru yang mendasari sebelumnya.(Arif Muttaqin,2008)
Acute respiratory distress syndrom (ARDS) sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. ARDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung.
Etiologi ARDS meliputi depresi sistem saraf pusat, kelainan neurologis primer, efusi pleura, hematoraks dan pneumothoraks, trauma, penyakit akut paru dan manifestasi klinisnya antara lain peningkatan jumlah pernapasan, klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis, paada auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan.
Pada dasarnya pengobatan ARSD meliputi :
a. Pembersihan jalan nafas, untuk mempertahankan lancarnya jalan nafas
b. Memperbaiki ventilasi
c. Oksigenisasi
d. Pengobatan penyebab dan penyulit
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan ARSD :
a. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa sputum, cyanosis.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient.
c. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan penggunaan deuritik, ke-luaran cairan kompartemental.
d. Resiko tinggi kelebihan volome cairan berhubungan dengan edema pulmonal non Kardia.
e. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran balik vena dan penurunan curah jantung,edema,hipotensi.
f. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan pertukaran gas tidak adekuat, pening katan sekresi, penurunan kemampuan untuk oksigenasi dengan adekuat atau kelelahan.
g. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.
h. Defisit pengetahuan, mengenai kondisi, terapi yang dibutuhkan berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan, menyatakan masalahnya.

B. SARAN
a. Bagi Klien
Diharapkan klien/keluarga dapat melaksanakan anjuran-anjuran yang diberikan oleh dokter dan perawat dalam hal ini terapi obat maupun kebiasaan dan diit.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan pada institusi pendidikan agar lebih dapat meningkatkan mutu perpustakaan guna meningkatkan kualitas mahasiswa/I.






DAFTAR PUSTAKA

Cecily L, Betz (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak (1985). Ilmu Kesehatan Anak 3. Fakultas Kwdokteran Universitas Indonesia
Muttaqin, Arif (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
Carpenito,Lynda Juall. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan.EGC. Jakarta.
Doengoes, M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.
http://rusari.com/askep-aspirasi-distress-sindrom.html
http://blog.ilmukeperawatan.com
http://members.fortunecity.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pernapasan
http://www.e-smartschool.com

Tidak ada komentar: