Sabtu, 09 Januari 2010

Addison

hipofungsi anak ginjal dengan gejala kehilangan tenaga dapat merubah warna kulit yang menjadi tengguli. Addison adalah suatu kondisi penyakit yang terjadi akibat gangguan penurunan fungsi kelenjar adrenal (keperawatan medikal bedah edisi e vol. 1).

Addison adalah insufisiensi adrenal yang berat dengan ekserbasi yang tiba – tiba. Hal ini dapat menimbulkan kematian bila tidak segera ditangani. (Keperawatan Kritis, Vol. III.)

2.2. Etiologi
Hipofungsi kortek adrenal dapat disebabkan oleh :
- Proses TBC
- DM
- Hiperteroid
- Autoimun
- Neoplasma
- Emboli
- Trombosis

2.3. Patofisiologi
Insufisiensi adrenal merupakan disfungsi kortek adrenal atau lebih dikenal dengan hipoadrenalisme / kiperkortikolisme. Hal ini dapat terjadi karena kerusakan pada kortek adrenal atau dapat juga karena penurunan stimulasi dari hormon adreno kortikolisme.
Keadaan ini berkaitan dengan hal psikologis dimana sekresi adrenal berkaitan erat dengan stres. Keadaan stres yang berat dapat menimbulkan shok yang apda akhirnya dapat menimbulkan ancaman kematian karena besarnya pengeluaran cairan natirum dan hipoglikemi.

2.4. Manifestasi Klinis
Penyakit Addison ditandai oleh kelemahan otot, anorexia, gejala gastro intestinal, keluhan mudah lelah, emosional (tubuh harus kering) pigmentasi pada kulit, jari berbuku – buku pada lutut, siku serta membran mukosa. Hipotensi glukosa rendah, kalium tinggi pada kasus yang berat disertai oleh dehidrasi yang kronis.
Gejala Lanjutan :
Dengan berkelanjutan penyakit yang disertai hipotensi otot sebagai akibat dari hipokortitolisme pasien akan mengalami krisis Addisonian yang ditandai oleh stanosis, panas dan tanda – tanda shoek, pekat, cemas, nadi cepat, TD rendah, sakit kepala, nyeri abdomen, diare. Pada pasien yang mengalami penyakit Addison akan ditemukan hal – hal sebagai berikut :
- Kelemahan otot yang luas
- Anorexia
- Gejala gastrointertinal
- Mudah lelah
- Omoslasis
- Hiperpigmentasi kulit
- Gangguan pola tidur
- Jari berbuku – buku
- Hipotensi
- Hipoglikemi
- Tanda – tanda shock
- Hiponatremia
- Hiperkalemia
- Dehidrasi
2.5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kadar Hormon
Kortikol Plasma : Menurun dengan tanda respons pada pemberian ACTH secara 1m (primer ) atau IV normal
Jam 8.00 à 9 – 24 us/dl
Jam 16.00 à 3 – 12 us/dl
(pada malam hari meningkat)
ACTH : Meningkat secara mencolok (pada primer)
Atau menurun (skunder)
Normal : > 25 mg/hari
ADH : Meningkat
Normal : 2,3 – 3,1 ps/ml serum
Aldesteron : Menurun
Normal : 1 – 5 ps/dl
b. Elektrolit :
Kadar dalam serum mungkin normala tau natrium sedikit menurun, sedangkan kalium (N : 2,3 – 3,5 mg eg) sedikit meningkat walaupun demikian, natrium dan kalium yang abnormal dapat terjadi sebagai akibat tidak adanya aldesteror dan kekurangan kortisol (mungkin sebagai akibat dari krisis)
c. Glukosa : Hipoglikemia
d. Ureum/Kreatinin :
Mungkin meningkat (karena terjadi penurunan per pari ginjal)
e. Analisa Gas Darah : Asidosis metabolik
f. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Normositik, aremia homokromile
g. Urine (24 jam)
17 – Ketosteroid
17 – Hidrosikortikoid
17 - Ketogenik Streorid Menurun, kadar kortisol bebas menurun
2.6. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Membantu istirahat pasien yang adekuat
2. Pengaturan tekanan darah pada batas – batas yang diharapkan
3. Memelihara nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan / mencapai berat badan yang diharapkan dan menjaga agar darah berada dalam batas normal
4. Memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit
5. Mengupayakan suasana lingkungan yang baik untuk beristirahat.


BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1. Pengkajian
Aktifitas / Istirahat : Kelemahan otot yang meluas
Cairan / Nutrisi : - Ada tidak shock
- Hipoglikemi
- Hipo Natremia
- Dehidrasi
- Hyperkalemia
- Anorexia
Sirkulasi : - TD 90/60 mmHg
- Nadi Lemah
Pernafasan : Nafas cepat
Gastro Intestinal : Mual, muntah
Integument : Hyperpigmentasi kulit, jari berbuku – buku
Integritas Ego : Emaslasis

3.2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan masa lalu :
- Ada riwayat krisis addisonial
- Ada riwayat Hypertiroid.

b. Pemeriksaan Diagnostik
Kortisol plasma : Menurun
Aldesteron : Meningkat
Na : Menurun
Kalium : Meningkat
Glukosa : Menurun

c. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan Lynda Juall, Carpenito, EGC, Jakarta, 1997 :
1. Resiko terhadap perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan anorexia dan mual
2. Resiko terhadap kurang volume cairan berhubungan dengan natrium dan air dalam jumlah yang berlebihan ditandai dengan hipoglikemi hiponatremia
3. Diare berhubungan dengan peningkatan ekspresi natrium dan air ditandai dengan dehidrasi, kelemahan
4. Resiko terhadap gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan skunder terhadap peningkatan pigmentasi kulit ditandai dengan hiperpigmentasi, jari berbuku – buku
5. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan hipotensi
6. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan aturan terapeutik berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang penyakit
7. Penurunan kesadaran berhubungan dengan penurunan volume cairan tubuh
8. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
9. Potensial gangguan citra tubuh berhubungan dengan emoblasis
10. Potensial terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan haluaran cairan tubuh
11. Anorexia berhubungan dengan kurang pengetahuan
12. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
13. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan aturan terapeutik berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang kondisi
14. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan hipertensi, hipoglikemi adanya tanda – tanda shock, kelemahan otot, nadi meningkat.

3.3. NCP
Saya mengangkat 5 diagnosa, yaitu :
1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan natrium dan air yang berlebihan, skunder terhadap polyuri ditandai dengan anorexia, kelemahan otot, natrium serum menurun, dehidrasi, pucat
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia ditandai dengan mual, nyeri abdomen, emaslasis
3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh ditandai dengan cemas, emasiasis, pigmentasi kulit, jari berbuku – buku.
4. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan aturan terapeutik berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang penyakit ditandai dengan cemas, sering bertanya tentang keadaannya.
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan hipotensi, hipoglikemi adanya tanda – tanda shock, kelemahan otot, nadi meningkat.

3.4. Diagnosa Keperawatan
DX. I
Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan natrium dan air yang berlebihan, skunder terhadap polyuri ditandai dengan anorexia, kelemahan otot, natrium serum menurun, dehidrasi, pucat
Tujuan : Kebutuhan volume cairan pasien terpenuhi
Kriteria hasil :
- Volume cairan pasien pada ambang normal
Intervensi :
- Kaji jumlah volume cairan pasien
- Pantau tanda – tanda vitla pasien terutama pada saat baring, duduk dan berdiri
- Anjurkan pAsien banyak minum
- Anjurkan pasien banyak mengkonumsi buah – buahan.
Rasionalisasi :
- Dengan mengkaji jumlah volume cairan pasien, maka perawat akan mengetahui besar kebutuhan cairan pasien
- Dengan pemantauan yang dalam berbagai posisi dapat diketahui penurunan volume cairan
- Dengan menganjurkan pasien banyak minum akan dapat memenuhi kebutuhan cairan pasien
- Dengan menganjurkan pasien mengkonsumsi buah – buahan akan memperkaya asupan cairan dari elektrolit pasien.

DX. II
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia ditandai dengan mual, nyeri abdomen, emaslasis
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
- Nafsu makan betambah
- Mual berkurang
Intervensi :
- Kaji kebiasaan makan pasien
- Berikan asupan nutrisi pasien dengan porsi sedang tapi sering
- Berikan pasien makanan selingan
- Atur diit pasien dengan makanan tinggi natrium
Rasionalisasi :
- Dengan mengkaji kebiasan makan pasien perawat dapat mengetahui seberapa besar masukan nutrisi pasien
- Dengan mengatur makanan pasien dengan porsi sedang tapi sering, maka akan mengurangi rasa mual pada saat makan
- Dengan memberikan makanan selingan agar ada variasi dalam menu makan pasien
- Dengan memberikan makanan tinggi natrium maka kebutuhan natrium pasien akan terpenuhi.

DX. III
Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh ditandai dengan cemas, emasiasis, pigmentasi kulit, jari berbuku – buku.
Tujuan : Konsep diri pasien menjadi lebih baik
Kriteria hasil :
- Pasien tidak cemas
Intervensi :
- Kaji penyebab konsep diri pasien
- Berikan dorongan kepada pasien
- Yakinkan pasien bahwa keadaannya dapat diperbaiki
- Ajak keluarga pasien dalam proses penatalaksanaan keperawatan
Rasionalisasi :
- Dengan mengkaji penyebab gangguan konsep diri pasien maka perawat akan memiliki konsep kerja dalam melaksanakan tindakan asuhan keperawatan
- Dengan memberikan dorongan / motivasi kepada pasien maka dapat meningkatkan rasa pada pasien
- Dengan meyakinkan pasien bahwa keadaannya dapat teratasi maka akan mengurangi rasa cemas pasien
- Dengan melibatkan keluarga dengan proses penatalaksanaan keperawatan maka pasien akan lebih kondusif dalam penatalaksanaan keperawatan.

DX. IV
Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan aturan terapeutik berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang penyakit ditandai dengan cemas, sering bertanya tentang keadaannya.
Tujuan : Penatalaksanaan aturan terapeutik lebih efektif
Kriteria hasil :
- Pasien tidak cemas lagi
- Memahami tentang keadaannya
Intervensi :
- Kaji tingkat pengetahuan pasien
- Berikan penjelasan kepada pasien tentang penyakitnya
- Ajak pasien berdiskusi mengenai pemberian tindakan keperawatan
- Libatkan keluarga dalam proses penatalaksanaan keperawatan.
Rasionalisasi :
- Dengan mengkaji tingkat pengetahuan pasien, perawat dapat mengetahui bagaimana respon pasien terhadap penyakitnya
- Dengan memberikan penjelasan kepada pasien mengenai penyakitnya dapat menambah tingkat pengetahuan pasien
- Dengan mengajak pasien berdiskusi mengenai pemberian tindakan keperawatan, maka akan terjalin rasa saling percaya antara pasien dengan perawat.
- Dengan melibatkan keluarga dalam proses penatalaksanaan keperawatan akan mempermudah perawat dalam memberikan tindakan asuhan keperawatan.

DX. V
Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan hipotensi, hipoglikemi adanya tanda – tanda shock, kelemahan otot, nadi meningkat.
Tujuan : Curah jantung tidak efektif
Kriteria hasil :
- Tensi normal
- Tanda – tanda shock tidak ditemui
- Nadi normal
Intervensi :
- Pantau tanda dan gejala penurunan curah jantung seperti peningkatan nadi, perningkatan nafas, hipotensi
- Atur posisi dengan kaki ditinggikan
- Bantu pasien dengan tindakan menghemat energi / tirah baring
- Bantu klien untuk mengurangi stressor
Rasionalisasi :
- Dengan memantau tanda dan gejala penurunan curah jantung dapat kita ketahui keadaan umum pasien
- Dengan mengatur posisi kaki ditinggakan dapat meningaktkan curah jantung
- Istirahat dapat menurunkan konsumsi O2 sehingga memperingan kerja jantung
- Dengan mengurangi stressor dapat menurunkan kebutuhan energi untuk metaboslime tubuh.


BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Addison adalah hipofungsi anak ginjal dengan gejala kehilangan tenaga dapat merubah warna kulit yang menjadi tengguli. Addison adalah suatu kondisi penyakit yang terjadi akibat gangguan penurunan fungsi kelenjar adrenal (keperawatan medikal bedah edisi e vol. 1).
Addison adalah insufisiensi adrenal yang berat dengan ekserbasi yang tiba – tiba. Hal ini dapat menimbulkan kematian bila tidak segera ditangani. (Keperawatan Kritis, Vol. III.)

4.2. Saran
1. Dalam merencanakan tindakan keperawatan dilakukan dengan prosedur keperawatan dan kode etik keparawatan.
2. Perencanaan yang dirumuskan harus sesuai dengan kebutuhan utama pasien, yang muncul agardapat diatasi dengan kebutuhan utama pasien
1. Dalam melakukan askep hendaknya perawat lebih memperhatikan kebutuhan dan keadaan pasien
2. Diagnosa yang ditegakkan pada pasien hendaknya berdasarkan pada data yang ditentukan pada saat pengkajian, tidak berfokus pada konsep teori saja tetapi dalam perumusanya diagnosa keperawatan harus berfokus pada diagnosa teoritis




DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner And Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. I Thun 2002, EGC
2. Marylynn E. Doenges, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999, EGC
3. Dr. MED. Ahmad Ramali, Kamus Kedokteran, Edisi Revisi, UI
4. Hudak and Gallok, Keperawatan Kritis Vol. II Edisi VI, Jakarta, EGC, 1996
5. Luckman’s Carea Principle And Practice of Medicalo Surgical Nursing, 1996
6. Carpenigo Juall Linda, DX. Kep, EGC, Jakarta, 1997
7. Luther Martin Susan, dkk, Standar Keperawatan DX Vol. 2, EGC, Jakarta, 1998
8. Silpia A. Price Loma’ane M. Wilson, Konsep Klinis, Proses – Proses Penyakit, Patofisiologi, Edisi 9, Buku II, FK, EGC, 1995

Tidak ada komentar: