Sabtu, 09 Januari 2010

Afasia

Afasia merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf otak dengan itu akan melumpuhkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi

Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovas killer hemisfen dominan, trauma kepala atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita Afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan menulis dalam derajat berbeda.

A. Etiologi
Afasia biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pusat bahasa otak dan juga bisa disebabkan oleh angin ahmar atau cedera fizikal, tergantung pada letak dan tahap cedera. Seseorang mungkin mampu berbicara akan tetapi tidak mampu untuk menulis atau sebaliknya ataupun memahami sesuatu yang lebih sulit dari yang dapat mereka hasilkan.

B. Patofisiologi
Afasia disebabkan gangguan sistem saraf (neurological disorder) seperti ketumbuhan otak, atau bisa juga sejenis penyakit parkinson. Afasia ini disebabkan terdapatnya ciri-ciri yang lebih ditamakan seperti kehilangan daya berfikir. Afasia dapat dibantu dengan bantuan terapi bicara bahasa isyarat juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan gangguan Afasia.
C. Manifestasi Klinis
- Ketidakmampuan untuk memahami percakapan
- Ketidakmampuan untuk membaca (aleksia)
- Ketidakmampuan untuk menulis (agraphia)
- Ketidakmampuan untuk berbicara, lumpuh otot
- Ketidakmampuan untuk membentuk huruf
- Lemah berbicara
- Perkataan yang tidak sesuai atau salah
- Ketidakmampuan untuk mengulangi pembicaraan


BAB III
TINJAUAN SECARA TEORITIS

A. Pengkajian
Tahap awal yang harus dilakukan dalam proses pengkajian ialah pengumpulan data yang mencakup data umum (biodata), kelumpuhan utama, riwayat kesehatan masa kini, riwayat kesehatan masa lalu, dan riwayat kesehatan keluarga. Adapun data dasar pengkajian :
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Persanaan tidak enak (malaise)
Keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisinya
Tanda : Kesulitan berbicara
2. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat memahami percakapan
Tanda : Tekanan darah meningkat
3. Eliminasi
Tanda : Urine pekat gelap
4. Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri
5. Keamanan
Gejala : Adanya riwayat cedera kepala
Tanda : Gangguan sensasi



B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses berpikir berhubungan dengan kehilangan memori
2. Kerusakan komunikasi berhubungan dengan sirkulasi serebral
3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

C. Perencanaan
1. DX I
Tujuan : Mampu mengenali perubahan dalam berfikir atau bertingkah laku.
K/H :
- Mampu mengenali perubahan dalam berfikir/tingkah laku
- Mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak diinginkan
Intervensi :
- Gunakan suara yang agak rendah dan berbicara dengan perlahan pada pasien
- Gunakan kata-kata yang pendek pada kalimat yang sederhana
- Berikan isyarat-isyarat tertentu dan gunakan kalimat terbuka jika memungkinkan
- Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang
Rasional :
- Meningkatkan kemungkinan pemahaman
- Menghilangkan kemampuan individu pada proses penerimaan pesan dan percakapan secara keseluruhan
- Isyarat menstimulai komunikasi dan memberikan orang tersebut satu kemungkinan pengalaman yang positif
- Pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung
2. DX II
Tujuan : Dapat menggunakan sumber-sumber dengan tepat
K/H :
- Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi
- Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
Intervensi :
- Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik
- Tunjukkan objek dan minta pasien untuk menyebutkan nama benda tersebut
- Berikan metode komunikasi alternatif
- Bicaralah dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat
Rasional :
- Umpan balik membantu pasien merealisasikan
- Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik
- Memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan
- Pasien tidak perlu merusak pendengaran dan meninggikan suara dapat menimbulkan marah pasien/menyebabkan kepedihan.

3. DX III
Tujuan : Ansietas berkurang
K/H :
- Mengakui dan mendiskusikan rasa takut
- Mengunkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi

Intervensi :
- Kaji status mental
- Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan tkutnya
- Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya
- Berikan petunjuk mengenai sumber-sumber penyokong yang ada
Rasional :
- Gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya
- Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut ditujukan
- Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas
- Memberikan jaminan bahwa bantuan yang diperlukan adalah penting untuk meningkatkan atau menyokong mekanisme koping pasien.

4. DX IV
Tujuan : Mengungkapkan pemahaman
K/H : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/proses penyakit dan pengobatan
Intervensi :
- Berikan informasi dalam bentuk-bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana
- Diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yang lama
- Tingkatkan perkembangan dari sistem latihan yang dimodifikasi
- Kaji ulang pengobatan yang diberikan
Rasional :
- Menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk menerima dan menyimpan informasi yang diberikan
- Proses pemulihan dapat berlangsung beberapa minggu/bulan
- Mencegah kejenuhan dan membantu mempertahankan rasa berguna dalam hidup selama periode pemulihan
- Pemenuhan program pengobatan terjadwal perlu untuk mengatasi proses infeksi.



BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Afasia merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf otak, dengan itu akan melumpuhkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi.
Afasia biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pusat bahasa otak dan juga bisa disebabkan oleh angin ahmar atau cedera fizikal tergantung pada letak dan tahap cedera.

B. Saran
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, khususnya pada klien afasia, hendaknya memperhatikan dengan seksama masalah-masalah yang ada yang akan terjadi sehingga asuhan keperawatan akan tercapai.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E. Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawtan Edisi 3, Penerbit Buk Kedokteran, EGC Jakarta.

Bojes, Penyakit THT.

Tidak ada komentar: