Sabtu, 09 Januari 2010

AIDS ADA PASIEN

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Defeciency Syndrom. Secara umum adalah Sekumpulan gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang didapat dari faktor luar. Jadi AIDS merupakan kumpulan gejala - gejala penyakit infeksi atau keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan penderita).

I. Etiologi
Infeksi HIV menyebabkan suatu penyakit dengan spektrum yang luas, mulai dari golongan penyakit tanpa gejala tetapi pemeriksaan darahnya menunjukkan adanya infeksi HIV, sampai golongan full blown AIDS yang merupakan stadium akhir dan mematikan dan spektrum ini. Penyakit HIV mempunyai spektrum yang luas, maka penyakit ini dalam kelompok – kelompok penyakit dari awal infeksi HIV sampai stadium akhir.

Klasifikasi infeksi HIV :
Kelompok I : Infeksi HIV akut
Kelompok II : Seropositif HIV tanpa gejala
Kelompok III : Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap (PCL = Persistent Ceneralized Limphaducati)
Kelompok IV : Penyakit berat yang berkaitan dengan AIDS.
Sub Kelompok A : Penyakit konstitusional
(AIDS Reloded Complex = ARC)
Sub Kelompok B : Penyakit neurologik
Sub Kelompok C : C-1 infeksi oportunistik
: C-2 infeksi sekunder berulang lain
Sub Kelompok D : Kanker oportunistik
Sub Kelompok E : Kondisi serius lainnya.
Infeksi HIV Akut
Pada tahap awal infeksi HIV sulit dikenali karena gejalanya tidak spesifik dan masih banyak gejala penyakit. Keluhan dan gejala yang dapat dijumpai adalah demam, berkeringat, lesu, mengantuk. Nyeri dipersendian, Sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening dan bercak kemerahan tubuh.
Gejala ini timbul mendadak dan berlangsung selama 3 – 13 hari. Apabila virus menyerang jaringan syaraf maka akan dijumpai adanya kelainan – kelainan syaraf. Kadang – kadang dijumpai kelainan fungsi hati. Masa inkubasi dari infeksi primer HIV berkisar antara 3 hari – 3 bulan dan paling sering sekitar 2 – 4 minggu.

Penyakit berat yang berkaitan dengan AIDS :
a. Sub Kelompok A : AIDS – Related Complex (ARC)
Agar diagnosis AIDS – Related Complex dapat ditentukan, dibutuhkan paling sedikit dua dari gejala klinik yang menetap selama 3 bulan atau lebih.
1. Demam lebih dari 37,80C
2. Kehilangan berat badan 10% atau lebih dari 6,75 kg
3. Radang kelenjar getah bening yang mengenai 2 atau lebih kelenjar getah bening diluar daerah kemaluan
4. Diare yang terdapat dijelaskan sebabnya
5. Kelelahan
6. Berkeringat dimalam hari

b. Sub Kelompok B : Penyakit Neurologik
Di defenisikan bila terdapat 1 atau lebih kelainan berikut :
1. Demensia
2. Mielopati
3. Neuropati periter tahap disertai penyakit atau kelainan lain selain infeksi HIV yang merupakan penyebab gejala tersebut.
Gejala yang timbul bervariasi dapat berupa kelemahan otot, kesulitan bicara, gangguan keseimbangan waktu berjalan, radang otak, sampai demensia dari mudah lupa, bingung, disorientasi, halusinasi psikosis sampai koma.

c. Sub Kelompok C : Infeksi oportunistik
Hampir seluruh penderita AIDS menderita infeksi oportunistik multipel akan berakhir dengan kematian karena :
1. Infeksi tersebut dapat diobati secara efektif
2. Kerusakan kekebalan tubuh menyebabkan tubuh tidak berdaya melawan infeksi tersebut dan tidak memberikan respon terhadap pengobatan.
Infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai adalah :
1. Meningitis Cryptococcus
2. Toksoplasmosis susunan syaraf pusat
3. Radang paru – paru pneumocyis carinil
4. Crytosporidosis
5. Infeksi virus herpes sipleks
6. Tuberkulosis (TBC)

d. Sub Kelompok D : Kanker Oportunistik
Beberapa jenis kanker yang dapat timbul ialah Cimfoma Burkir dan Limfoma Non, hodgkin, roman yang paling banyak dijumpai adalah sarkoma koposi. Sarkoma koposi adalah kanker pembuluh darah, penderita AIDS lebih agresif daripada penderita bukan AIDS.
Sarkoma koposi biasanya sebagai nodul dikulit yang berwarna biru gelap / ungu tua, tidak gatal dan tidak nyeri, bendolan ini timbul pertama kali di badan, anggota gerak atas, telinga / hidung, biasanya menyebar ke organ bagian dalam tubuh.


e. Sub Kelompok E : Kondisi Serius Lainnya
Di defenisikan sebagai adanya gambaran klinik / penyakit lain tidak dapat diklasifikasi seperti diatas yang mungkin berhubungan dengan infeksi HIV / merupakan tanda gangguan imunites selular. Termasuk golongan penderita pneumonitis interstitial limfoid kronik.

II. Patofisiologi
Pada tahun 1983 dan 1984 para penilai menemukan suatu virus yang merupakan penyebab AIDS, unsur pokok dalam proses kekebalan tubuh terhadap bibit penyakit adalah pembentukan antibody (zat anti). Anti bodi hanya bereaksi secara khusus terhadap protein atau karbohidrat dari bibit penyakit yang terkenal sebagai antigen.
Apabila antibodi bertemu dengan antigen terjadi suatu reaksi yang salah satu bentuknya adalah reaksi pengumpulan. Hasil reaksi dimakan oleh sel makrofag, yaitu salah satu sel yang penting dalam kekebalan tubuh.
Dalam sistem kekebalan tubuh, sel darah putih leukosit dan limfosit mempunyai peranan penting dalam sistem kekebalan human dan seluler.
Sel limfosit yang penting adalah sel limfosit T – helper atau sel T-4 jenis limfosit T adalah sel limfosit penekan T-8.
Sel limfosit T-4 berjalan mengatur reaksi kekebalan tubuh dengan ciri – ciri mengeluarkan reaksi kimiawi yang merangsang terbentuknya antibodi dan merangsang pematangan beberapa jenis sel dalam sistem kekebalan tubuh.
HIV bersifat limfotropik dan neurotropic, HIV dapat diisolasi dari limfosit (terutama limfosit T-4), limfosit B, monasit, sel glia, dan makrofag seseorang yang menderita penyakit AIDS umumnya didahului oleh infeksi HIV. Agar dapat masuk kedalam sel tubuh, virus membutuhkan reseptor khusus dipermukaan sel tubuh, sehingga virus dapat melekat dan selanjutnya masuk kedalam sel tubuh, virus membutuhkan reseptor khusus dipermukaan sel tubuh, sehingga virus dapat melekat dan selanjutnya masuk kedalam sel itu. HIV membutuhkan reseptor khusus yang dikenal dengan nama CD4 antigen, yang hanya terdapat pada permukaan sel limfosit 7 – 4, monosit dan makrofag setelah HIV. Melakat karaseptor CD4 Antigen. Selanjutnya HIV masuk kedalam sel itu dengan cara endositosis. Selama berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun HIV dalam sel tersebut dalam keadaan tidak aktif. Fase ini dikenal sebagai fase laden, fase laden berakhir setelah virus menjadi aktif berkembang biak.
Untuk mengaktifkan HIV dalam fase produktif diperlukan faktor – faktor tertentu. Faktor – faktor ini belum jelas benar. Namun diduga apabila penderita tersebut mendapat infeksi virus lain, seperti misalnya infeksi cytomegalo virus. Virus herpes simplex. Virus hepatitis B dan virus epstein barr, maka HIV akan menjadi aktif dan berkembang biak. Dalam proses pengaktifan virus sel ini dimana HIV bersarang yaitu sel limposit – T4 dan akibatnya tubuh penderita ialah kelemahan dan kerusakan kekebalan tubuhnya. Kerusakan sistem kekebalan tubuh penderita akan menyebabkan penderita lebih mudah mendapat infeksi parasit, virus dan jamur. Jenis tertentu disamping mungkin pula menderita kanker jenis tertentu.
Pada infeksi HIV jumlah limfosit B normal atau malah meningkat menyebabkan terbentuknya antibodi spesifik terhadap HIV seperti pada infeksi lain. Adanya antibodi spesifik ini merupakan pertanda bahwa orang itu pernah terdapat HIV, defisiensi imun pada infeksi HIV. Merupakan campuran defisiensi imun humoral dan selular. Kerusakan kekebalan tubuh penderita akibat HIV berbeda dengan penyakit infeksi lainnya, tuberkulosis, malaria, influenza, dll. Dapat menurunkan kekebalan tubuh untuk jangka waktu tertentu dan setelah infeksi tersebut sembuh kekebalan tubuh akan kembali normal. Hal ini tidak berlaku untuk infeksi HIV karena kerusakan kekebalan tubuh yang terjadi bersifat menetap.

III. Manifestasi Klinis
Gejala Mayor :
- Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 9 bulan
- Diare kronik yang berlangsung lebih dari 9 bulan
- Demam berkepanjangan lebih dari 9 bulan
- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologi
- Demensial / ensefalofasi HIV
Gejala Minor :
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Dermatitis genetalisata yang gatal
- Herpes 20 stes berulang
- Limfa denopati generalisaka
- Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

IV. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan infeksi HIV / AIDS meliputi penatalaksanaan fisik, psikologis dan sosial. Penatalaksanaan medik terdiri dari :
1. Pengobatan suportif
- Nutrisi dan vitamin yang cukup
- Bekerja
- Pandangan hidup yang positif
- Hobi
- Dukungan psikologis
- Dukungan sosial.
2. Pencegahan serta pengobatan infeksi oportunistik dan kanker
3. Pengobatan antiretroviral
Saat memulai pengobatan :
- Asimtomatik : CD4 > 500 tapi RNA HIV (Viral Blood) tinggi (lebih dari 30.000 kopi / ml)
- Asimtomatik : CD4 > 350 (boleh ditunda bila CD4) 350 dan viral load rendah (10.000)
- Infeksi HIV dengan gejala.

V. Pemeriksaan Laboratorium
Umumnya pemeriksaan laboratorium untuk HIV / AIDS dibagi atas 3 kelompok yaitu :
I. Pembuktian adanya anti bodi (A6) atau Antigen (A9) HIV
II. Pemeriksaan status imunitas
III. Pemeriksaan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan
BAB II
TINJAUAN KASUS

I. Kasus Secara Teori
Tanggal masuk rumah sakit :
Jam :
Ruang / kelas :
Diagnosa :

1. Pengkajian
Pengumpulan Data
a. Nama Klien :
b. Umur :
c. Jenis Kelamin :
d. Status Marital :
e. Bahasa yg dipakai :
f. Agama/Kepercayaan :
g. Pendidikan terakhir :
h. Pekerjaan :
i. Alamat :
j. Tgl Pengkajian :
k. Diagnosa Medis : AIDS

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama (Chief Complain)
Pada AIDS ditemukan keluhan antara lain :
- Diare
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Demam
- Pusing / sakit kepala
- Mudah lelah

- Nafsu makan menurun
- Berat badan turun drastis

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada “AIDS” riwayat kesehatan masa lalu dapat ditemukan “Riwayat Imunisasi Yang Kurang Lengkap”, klien merupakan pengguna (IDU) / narkoba suntik atau PSK, homa, hetero sexsual, adanya riwayat transfusi.

Pengkajian menurut Marylin Doengoes meliputi :
1. Aktifitas / Istirahat
Mudah lelah, toleransi aktifitas berkurang, progresi kelelahan / malaise, perubahan pola tidur ditunjukkan dengan adanya kelemahan otot, menurunnya masa otot, perubahan dalam TD, frek. Jatung, pernafasan.
2. Sikrulasi
Taki kardia, perubahan TD postural, penyembuhan luka yang lambat, sianosis, pengujian kapiler panjang.
3. Integritas Ego
Merasa kehilangan, menguatirkan penampilan (kepercayaan diri) berhubungan dengan alopsia, cacat dan menurunnya berat badan, mengingkari, putus asa, depresi.
4. Eliminasi
Terjadi diare yang intermiten, tanpa kram abdominal, feces encer, adanya perubahan dalam jumlah, warna, karakteristik urine.
5. Makanan / Cairan
Tanpa nafsu makan, mual, muntah, disfagia, nyeri retrosternal ditunjukkan dengan penurunan berat badan, turgor kulit buruk, gigi dan gusi yang buruk, edema.
6. Hygiene
Tidak mampu menyelesaikan aktifitas, ditunjukkan dengan penampilan yang tidak rapi, aktivitas perawatan diri kurang.
7. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, daya konsentrasi menurun, tremor, penglihatan mengalami gangguan kesemutan pada ekstremitas, mudah lupa, respons lambat, ansietas yang tinggi, menurunnya kekuatan otot dan gaya berjalan ataksia.
8. Nyeri / Kenyamanan
Nyeri umum / lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki, sakit kepala, nyeri dada (pleuritis) adanya pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan dan perubahan gaya berjalan.
9. Pernafasan
Nafas pendek, batuk (produktif / non produktif sputum), sesak pada dada, takipnea, perubahan pada bunyi nafas, sputum kuning.
10. Keamanan
Proses penyembuhan luka yang lambat karena adanya rriwayat jatuh, terbakar dan pingsan, adanya riwayat transfusi darah yang sering, injeksi dengan PHS ditunjukkan dengan adanya perubahan integritas kulit, perubahan warna, timbuilnya nodul – noduk, pelebaran kelenjar limfe.
11. Seksualitas
Adanya riwayat hubungan sex dengan pasangan HIV (+), heterosex, libido menurun, penggunaan kondom yang tidak konsten, ditunjukkan dengan pada genetalia terjadi pada kulit (misal herpes kulit)
12. Interaksi Sosial
Merasa kehilangan kerabat, kesepian, rasa takut untuk mengungkapkan pada orang tua, isolasi tidak mampu membuat rencana.
13. Vital Sign berdasarkan pengkajian diatas :
Nadi = Takikardia (Peningkatan)
TD = Perubahan TD postural
RR = Takipnea
Suhu = Hipertermia



DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resti infeksi (sepsis / infeksi oportuistik) berhubungan dengan pertahanan primer tak efektif, depresi sistrem imun, teknik invasif.
2. Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hiper metabolisme, kehilangan B >>, diare berat, berkeringat, muntah, pembatasan masukan : mual anoreksia.
3. Resti pola nafas tidak efektif / gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi, obstruksi trakeo bronkial, proses inflamasi.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna, mengunyah, peningkatan laju metabolisme / kebutuhan nutrisi ditandai dengan berat badan menurun, nafsu makan menurun, perubahan indera pengecap, diare.
5. Nyeri akut / kronik berhubungan dengan inflamasi, neuropati perifer, kejang abdomen ditandai dengan keluhan nyeri, berfokus pada diri sendiri, perubahan denyut nadi, respon autonomik, gelisah
6. Resti / aktual kerusakan integritas kulit berhubungan dengan defisit imunologis, penurunan tingkat aktivitas, perubahan sensasi, malnutrisi ditandai dengan lesi kulit ulserasi, formasi ulkus dekubitus.
7. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan defisit imunologis, kometerapi, kesehatan oral tidak efektif ditandai dengan sakit pada bagian oral, stomatitis.
8. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolisme, peningkatan kebutuhan energi, tuntutan psikologis / emosional berlebihan ditandai dengan tidak mampu mempertahankan rutinitas sehari – hari, kelesuan, tidak berhasrat dengan lingkungan.
9. Perubahan proses pikir berhubungan dengan hipoksemia, infeksi SPP oleh HIV ditandai dengan perubahan lapang perhatian, defisit memori, disorientasi, tidak mampu mengambil keputusan.
10. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian, perubahan status kesehatan ditandai dengan perasaan tidak berdaya / putus asa, insomnia, gelisah, stimulasi simpatis.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. DX I
Tujuan : Resiko terjadinya infeksi berkurang
Kriteria hasil :
- Penyembuhan luka tercapai
- Tidak menunjukkan adanya tanda – tanda dari kondisi infeksi
Intervensi :
- Perhatikan tindakan septik dan anti septik dalam kontak perawatan klien
- Ciptakan lingkungan yang bersih, ventilasi baik, kurangi resiko terhadap infeksi dengan memeriksa pengunjung / staf
- Pantau tanda – tanda vital
- Perisak adanya luka / lokasi alat invasif, perhatikan tanda – tanda inflamasi / infeksi lokal
- Kolaborasi dalam pemberian antibiotik anti jamur / anti mikroba.
Rasionalisasi :
- Mengurangi resiko kontaminasi silang
- Mengurangi patogen pada sistem imun dan mengurangi kemungkinan klien mengalami infeksi nosokomial
- Mengetahui perkembangan kondisi klien
- Identifikasi perawatan awal dari infeksi skunder dapat mencegah terjadinya sepsis
- Menghambat proses infeksi.

2. DX II
Tujuan : Volume cairan tubuh normal
Kriteria hasil :
- Mukosa lembab, kulit baik, tanda vital stabil, haluaran urine adekuat
Intervensi :
- Pantau tanda – tanda vital
- Kaji turgor kulit, membran mukosa dan rasa haus
- Ukur haluaran urine
- Timbang berat badan sesuai indikasi
- Beri cairan yang mudah ditoleransi oleh klien yang mengguantikan elektrolit yang dibutuhkan
- Berkolaborasi dalam pemberian obat, cairan dan elektrolit sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Mengetahui indikasi dari volume cairan sirkulasi
- Mengetahui indikasi tidak langsung akibat dari status cairan
- Menunjukkan adanya perubahan pada perfusi ginjal / vol sirkulasi
- Mengetahui sejauh mana perubahan berat badan berkenaan dengan diare
- Meningkatkan pemasukan, mengurangi resiko dehidrasi
- Mengurangi insiden muntah untuk mengurangi kehilangan cairan / elektrolit lebih lanjut

3. DX III
Tujuan : Pola nafas kembali efektif
Kriteria hasil :
- Klien tidak mengalami sesak
- Bunyi nafas normal
Intervensi :
- Catat frekwensi pernafasan
- Berikan tambahan O2
- Atur posisi dengan tinggikan kepala tempat tidur
- Anjurkan klien untuk batuk dan menarik nafas dalam sesuai kebutuhan
- Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan
- Kaji perubahan tingkat kesadaran
- Berkolaborasi dalam pemberian obat – obatan.

Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui kesulitan pernafasan klien dan meningkatkan pengawasan / intervensi
- Mempertahankan ventilasi untuk mencegah krisis pernafasan
- Meningkatkan fungsi pernafasan yang optimal
- Untuk mengurangi aspirasi / infeksi
- Membantu membersihkan jalan nafas dan mencegah komplikasi pernafasan
- Mengetahui kondisi akibat terjadinya hipoksemia
- Berkolaborasi dalam peberian terapi untuk mempertahankan jalan nafas.

4. DX V
Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien menunjukkan bebas ditandai malnutrisi
- Mempertahankan berat badan
Intervensi :
- Kaji kemampuan untuk mengunyah,merasakan dan menelan
- Auskultasi bising usus
- Timbang berat badan sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dalam pemberian diit sesuai indikasi
Rasionalisasi :
- Lesi mulut, tenggorokan dan esofagus menyebabkan disfagfia, mengurangi keinginan untuk makan
- Untuk mengetahui hiper motalitas saluran intestinal
- Mengetahui indikator kebutuhan nutrisi / pemasukan yang adekuat
- Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit sesuai indikasi


5. DX V
Tujuan : Nyeri dapat hilang / berkurang
Kriteria hasil :
- Ekspresi wajah rileks
- Dapat istirahat / tidur dengan adekuat
Intervensi :
- Kaji lokasi karakter dan intensitas nyeri
- Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan
- Ajarkan klien metode relaksasi
- Ubah posisi, masase dan rentang gerak pada sendi yang sakit
- Beri kolaborasi dalam pemberian analgetik
Rasionalisasi :
- Mengetahui sejauh mana nyeri yang dirasakan oleh klien
- Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, persepsi akan intensitas nyeri berkurang
- Mengurangi rasa nyeri
- Meningkatkan relaksasi mengurangi tegangan otot
- Berkolaborasi untuk mengurangi nyeri atau tidak nyaman

6. DX VI
Tujuan : Kulit klien dengan keadaan baik
Kriteria hasil :
- Lesi dikulit berkurang
- Penyembuhan luka menunjukkan kemajuan
Intervensi :
- Kaji warna kulit, turgor, sirkulasi dan sensasi kulit
- Pertahankan hygiene kulit
- Ubah posisi secara teratur
- Dorong klien untuk ambulasi / turun dari tempat tidur jika memungkinkan
- Tutupi luka dengan pembalut yang steril
- Kolaborasi dalam pemberian obat topikal / sistemik sesuai indikasi
Rasionalisasi :
- Menentukan garis datar dimana perubahan yang terjadi pada kulit dengan intervensi yang tepat
- Mempertahankan kebersihan kulit, mengurangi resiko infeksi
- Mengurangi penekanan pada bagian tubuh tertentu, meningkatkan aliran darah untuk proses penyembuhan
- Menurunkan tekanan pada kulit dari istirahat lama ditempat tidur
- Dapat mengurangi kontaminasi bakteri, meningkatkan proses penyembuhan
- Berkolaborasi untuk perawatan lesi dikulit

7. DX VII
Tujuan : Membran mukosa baik / normal
Kriteria hasil :
- Mukosa utuh, basah, bebas dari inflamasi
- Menunjukkan adanya pertahanan mukosa oral
Intervensi :
- Kaji membran mukosa / catat adanya lesi dan keluhan klien
- Beri perawatan oral setiap hari setelah makan
- Cuci lesi mukosa oral dengan menggunakan hidrogen peroksida
- Dorong pemasukan oral sedikitnya 2500 ml / hari
- Kolaborasi dalam pemberian obat
Rasionalisasi :
- Edema, lesi pada membran mukosa dan tenggorokan kering menyebabkan rasa sakit dan sulit mengunyah / menelan
- Mengurangi rasa tidak nyaman
- Mengurangi penyebaran lesi dan krostasi dan meningkatkan kenyamanan
- Mempertahankan hidrasi mencegah pengeringan rongga mulut
- Berkolaborasi dalam pemberian obat, khusus tergantung pada organisme infeksi

8. DX VIII
Tujuan : Klien tidak mengalami kelelahan yang berlbihan
Kriteria hasil :
- Klien mampu melaksanakan aktifitas dan berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan
- Klien menunjukkan adaya peningkatan energi
Intervensi :
- Kaji pola tidur dan catat perubahan dalam proses berpikir
- Atur aktitiftas, siapkan fase istirahat dan libatkan orangf terdekat dalam penyusunan rencana
- Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan perawatan pribadi
- Dorong klien untuk melakukan aktifitas apapun yang mungkin
- Catat perubahan TD, frekuensi pernafasan / jantung
- Beri O2 sesuai petunjuk
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui faktor tersebut pencetus kelelahan termasuk kurang tidur dan tekanan emosi
- Periode istirahat penting untuk menghemat energi, perencanaan akan membantu klien menjadi aktif dimana tingkat energi lebih tinggi
- Rasa lemas dapat membuat aktifitas hampir tidak mungkin bagi klien untuk menyelesaikannya
- Mendorong klien agar lebih aktis tanpa menyebabkan kepenatan dan rasa prustasi
- Un tuk mengetahui perkembangan kondisi klien
- Untuk mencegah terjadinya hipoksemia yang megnakibatkan kelelahan.

9. DX V
Tujuan : Proses berpikir klien aktif dan optimal
Kriteria hasil :
- Klien dapat berorientasi dengan baik
- Fungsi kognitif optimal
Intervensi :
- Kaji status mental dan neurologis
- Pantau aturan penggunaan obat – obatan
- Pantau adanya tanda – tanda infeksi, SSP
- Pertahankan lingkungan yang menyenangkan, aman dan kurangi kebisingan
- Dorong keluarga / orang terdekat untuk bersosialisasi dengan baik kepada klien
Rasionalisasi :
- Menetapkan dan mengetahui tingkat fungsional
- Penerimaan klien dan mengetahui adanya kemungkinan infeksi dan penyakit SSP
- Untuk menghindari dari efek toksisitalis dan mengetahui keefektifan fungsi obat – obatan.
- Gejala SSP menunjukkan adanya perubahan keperibadian
- Membantu dalam mempertahankan orientasi, menurunkan resiko terhadpa cidera dan memberi rasa aman pada situasi yang membingungkan
- Membantu mempertahankan orientasi realita dan dukungan semangat sangat dibutuhkan

10. DX X
Tujuan : Kecemasan klien dapat berkurang / hilang
Kriteria hasil :
- Menunjukkan tentang normal diperasaan dan berkurangnya rasa takut
- Menunjukkan kemampuan untuk mengatasi masalah
- Menyatakan kesadaran tentang perasaan dan cara sehat untuk menghadapinya
Intervensi :
- Kaji tingkat kecemasan klien
- Pertahankan hubungan yang sering dengan klien
- Izinkan klien untuk mengekspresikan perasaaannya
- Berikan dorongan dan libatkan anggota keluarga
- Beri informasi yang dapat dipercaya dan konsisten
Rasionalisasi :
- Dapat mengkaji tingkat kecemasan klien, diketahui seberapa jauh kekhawatiran klien
- Menjain klien tidak akan sendiri atau ditelantarkan oleh meningaktkan rasa percaya
- Penerimaan perasaan akan membuat klien dapat menerima situasi
- Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sepenuhya
- Menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut.



BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan
1. Penyakit AIDS disebabkan oleh infeksi HIV merusak sistem kekebalan tubuh
2. Kerusakan sistem kekebalan tubuh tidak dapat melindungi tubuh terhadap infeksi tertentu lainnya dan jenis kanker tertentu yang akan menimbulkan kematian
3. Kerusakan sistem kekebalan tubuh yang terjadi bersifat menetap
4. Sampai saat ini penyakit AIDS belum ada obatnya
5. Penyakit AIDS tidak ditularkan melalui kontak biasa, namun ditularkan melalui hubungan seksual, kontak dengan darah ayng tercemar HIV dan melalui jarum suntik / alat kedokteran lainnya yang tercemar HIV
6. Seseorang yang dlama tubuhnya terdapat virus AIDS dapat tampak sehat/merasa sehat, namun sebenarnya sangat menular bagi orang lain
7. Seseorang wanita yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV kepada janinnya.

II. Saran
1. Oleh karena belum ada obat untuk AIDS maka satu – satunya harapan untuk mengontrol AIDS pada saat ini hanyalah melalui pendidikan yaitu merubah prilaku manusia
2. Diharapkan hendaknya perawat lebih memperhatikan klien terutama dalam pemberian obat – obatan harus sesuai dengan jadwal, dosis pemberian dan mencegah terjadinya penularan penyakit
3. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan hendaknya perawat memproritaskan tindakan sesuai dengan septik dan anti septik.

DAFTAR PUSTAKA

- Mansjoer Arif, dkk, Kepita Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid 2, Media Ausculapius, Fakultas Kedokteran UI, 2001, Jakarta
- Carpenito Juall Lynda, Diagnosa Keperawatan, edisi 6, Buku Kedokteran EGC, 1997, Jakarta.

Tidak ada komentar: