Rabu, 13 Januari 2010

AIDS pada anak

AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh atau gejala penyakit infeksi tertentu / keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan)

1. Defenisi
AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh atau gejala penyakit infeksi tertentu / keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan).
Kasus AIDS yang terjadi pada anak pertama kali di temukan pada tahun 1982, sekitar bulan September 1992, jumlah kasus anak telah tercatat sebanyak 4051 dan jumlah ini semakin meningkat setiap tahunnya.

2. Etiologi
Resiko HIV utama pada anak-anak yaitu
- Pemakaian obat oleh ibunya
- Pasangan sexual dari ibunya yang memakai obat intravena
- Daerah asal ibunya yang tingkat infeksi HIV nya tinggi
Anak-anak (mereka yang berusia < 13 tahun) biasanya mendapatkan penyakit ini pada saat persalinan, tranfusi dan penatalaksanaan hemofilia. Pada bulan Desember 1989, presentase rata-rata cara penularan diatas berturut-turut sebesar 83%, 9% dan 5%, sisanya 3% tidak diketahui penyebabnya. Selain itu anak-anak memndapatkan mungkin juga terkena infeksi HIV melalui tindakan sexual termasuk pemerkosaan.
Tiga cara tranfusi dari ibu keanaknya terjadi melalui plasenta, kontak didarah ibu pada saat persalinan, dan ASI, seksio caesarea tidak dapat mencegah terjadinya infeksi saat persalinan.

3. Manifestasi Klinis
Pada anak-anak gejala yang timbul sangat bervariasi, tergantung dari usia saat anak mulai terkena. Anak-anak terkena AIDS juga sangat peka terhadap terjadinya infeksi kondidiasis oral, diare, infeksi pernafasan, demam yang tak dapat diketahui dan perkembangan yang terhambat.
Pada balita biasanya gejala dapat berupa parotitis, limfa denopati umum, infeksi bakteri berulang, penyakit neurologi atau abnormalitas perkembangan.
Pada anak lebih besar gejala yang timbul antara lain kegagalan perkembangan, hepatosplenomegali, pneumonia interstisial kronik, atau kombinasi penyakit-penyakit lain.

4. Patofisiologi
AIDS disebabkan oleh virus HIV, jadi virus HIV yang menjangkit ketubuh sehingga anak menjadi sakit, setelah terjangkit HIV, masih diperlukan bertahun-tahun agar dapat berkembang menjadi AIDS, tergantung daya tahan tubuh.
AIDS muncul, setelah daya tahan tubuh, yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit, runtuh oleh virus HIV, yaitu dihancurnya sel-sel lifosit T (Sl-T), karena kekurangan Sel-T, aka anak mudah sakit, terserang infeksi dan penyakit lain, kanker sekalipun. Jadi bukan AIDS yang menyebabkan kematian anak, tapi ma\elainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.

5. Komplikasi Infeksi HIV Pada Anak
Komplikasi pada paru-paru yang sering terjadi adalah pneumonia Pneumaeytysis Cariis (PPC), Pneumonia Interstitial Limfoid, TB Paru dan virus kinstial pernafasan, seperti halnya pada orang dewasa, PPC merupakan indikator AIDS yang utama.

6. Pemeriksaan Laboratorium
Himpofenisia T4 (helper) disertai penurunan jumlah linfosit T4 absolut dan ratio perbandingan T4 : T8 yang terbalik merupakan tanda utama adanya infeksi HIV. Walaupun begitu anak-anak terinfeksi HIV bisasaja mempunyai nilai hitung T4 yaitu normal, sel-sel B bisa juga menunjukkan perubahan; biasanya terjadi hipergamaglebulinemia, tetapi mungkin juga terjadi kebalikannya.
Pemeriksaan laboratorium biasanya terbagi 3 yaitu :
1. Pembuktian adanya antibody atau antigen
2. Pemeriksaan status imunitas
3. Pemeriksaan terhadap infeksi apertunistik dan keganasan

7. Pentalaksanaan
1. Pengobatan
- Pengobatan zidovadin untuk anak diberikan dosis umum melalui oral adalah 180 ,h/m2 1 x 6 jam atau 4 x/hari.
- Imunisasi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Kasus Secara Teori
Tanggal Pengkajian : 22 Oktober 2008
Tanggal Masuk : 20 Oktober 2008
Ruang / Kelas : -
Diagnosa Medis : AIDS
a. Identitas
Nama Pasien : An. A
Umur : 1 Tahun
Nama Ayah : Tn. A
Umur : 38 Tahun
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Buruh
Agama : Islam
Alamat : Jl. Hasim Musadi No. 22
Nama Ibu : Ny. M
Umur : 35 Tahun
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat : Jl. Hasim Musadi No. 22

b. Riwayat Kesehatan
AIDS pada anak sering ditemukan antara lain :
BB menurun, nafsu makan menurun, demam, diare, terhambatnya perkembangan, batuk menetap, infeksi pernafasan, paratitis, diaforesis, badan lemah, limfederopati umum.


c. Data Dasar Pengkajian Pasien Anak
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah, intoleransi terhadap aktivitas kurang, lelah / malaise, perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, frekuensi jantung, pernafasan.

b. Sirkulasi
Gejala : Proses penyembuhan luka yang lambat (bila anemia), perdarahan lama bila ada cedera.
Tanda : Takikardi, perubahan TD postural, menurunnya nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.

c. Integritas Ego
Gejala : Berat badan menurun, leci cacat.
Tandal : Menangis, takut, kontak mata kurang.

d. Eliminasi
Gejala : Diare kronik / intermiten, sering dengan atau tanpa disertai kram abdominal, rasa terbakar saat miksi.
Tanda : Feces encer atau tanpa disertai dengan mokus atau darah, nyeri tekan abdomen, lesi atau abses rectal, perianal, perubahan dalam jumlah, warna dan karakteristik urine.

e. Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, perubahan dalam kemampuan mengenali makanan, mual / muntah, infagia, penurunan BB yang cepat / progresif.
Tanda : Adanya bising usus hiperaktif, penurunan BB, badan kurus, menurunnya lemak subkuan / massa otot, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, kesehatan gigi kurang / gusi yang buruk, gigi yang tanggal, parotitis.
f. Higine
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan Aks
Tanda : Penampilan kusut.

g. Neurosensiri
Gejala : Pusing-pusing, sakit kepala, perubahan status mental, kegagalan perkembangan intelektual, kelemahan otot, tremor, dan perubahan ketajaman penglihatan, kesemutan pada ekstremitas.
Tanda : Perubahan status mental, apatis, retardasi, psikomator / respons melambat, refleks tidak normal, menurunya kekuatan otot, dan gaya berjalan ataksia.

h. Nyeri / Keamanan
Gejala : Nyeri umum / lokal, sakit, menangis, sakit kepala, demam.
Tandal : Pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan, gerak melindungi bagian yang sakit, badan panas.

i. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek yang progresif, batuk, bendungan atau sesak pada dada.
Tandal : distres pernafasan, takipnea, perubahan bunyi nafas (adventisius), spuntum : Kuning deneu, onia).

j. Keamanan
Gejala : Demam berulang, berkeringat malam.
Tanda : Rektum kuku-kuku perianal / abses, timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfa (leher, axila, paha), badan lemah, tekanan otot lemah, perubahan gaya berjalan.


k. Imunisasi
Imunisasi tidak lengkap / tidak pernah imunisasi.

l. Riwayat Orang Tua
Riwayat ibu terinfeksi HIV – Positif, kebiasaan konsumsi obat-obatan narkotik melalui intravena, seks bebas.

d. Tujuan Pemulangan
1. Bebas dari infeksi oportunistik / nopsokomial
2. Meningkatkan BB dengan sesuai
3. Melakukan keterampilan khusus sesuai kelompok usia dalam lingkup tingkat perkembangan yang ada
4. Orang tua / pemberi asuhan memahami kondisi prognosis dan kebutuhan tindakan.


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidak adekuatan sistem imun yang didapat, respon dan inflamasi tertekan, prosedur invasif, malnutrisi, penyakit kronis (infeksi).

2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang berlebihan, diare, diaforesis, muntah, pembatasan pemasukan : Anoreksia, mual, alergi, status hipermetabolisme : demam.

3. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan perfusi ventilasi (PCP / pneumonia interstisial, anemia).

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia, ketidakmampuan mencerna, mual/muntah, diare, gangguan interstisial, ditandai dengan BB menurun, penurunan lemak subcutan/massa otot, anoreksia, perubahan indra pengecap, bising usus hiperaktif, diare, puratitis.

5. Nyeri : Akut / kronis berhubungan dengan inflamasi / kerusakan jaringan : infeksi, lesi kutaneus internal / exsternal,ekskroisasi rektal, nekrosis, ditandai dengan ada rasa nyeri, gerak melindungi bagian yang sakit, perubahan pada denyut nadi : kejang otot, anoreksia, lemah otot, parestesis, paralisis, menangis, gelisah, badan panas.

6. Resiko tinggi / aktual terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Aktual : Defisit imunologis, resti : penurunan tingkat aktivitas, perubahan sensasi, malnutrisi, perubahan status metabolisme. Ditandai dengan lesi kulit, ulserasi, fermasi, ulkus dekubitus (aktual).

7. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan defisit imunologis dan timbulnya lesi penyebab patogen, (misal candida, herpes, ks), kesehatan oral tidak efektif ditandai dengan lsi ulkus terbuka, vertikal, rasa sakit / tidak nyaman pada bagian oral, stomatitis : leukoplakia, gingivitis dan karies gigi.

8. Kelemahan berhubungan dengan perubahan produksi energi metabolisme, peningkatan kebutuhan energi ditandai denga mudah lelah, intoleransi aktivitas, lemah / malaise, otot lemah, menurun massa otot.

9. Resiko tinggi terhadap perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan pngasingan dari orang terdekat / orang tua, ketidak adekuatan perawatan, respons pengasuh tidak konsisten, tidak adanya dukungan orang tua.

10. Kurang pengetahuan orang tua mengenai kondisi pregnosis, dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak mengenal sumber-sumber dan kurang mengingat ditandai dengan meminta informasi, pernyataan salah konsepsi, ketidak adekuatan mngikuti intraksi.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. DX I
Tujuan : Bebas dari infeksi oportuniskit
KH :
- Mencapai masa penyembuhan luka / lesi
- Tidak demam dan bebas dari pengeluaran / sekresi purulen dan tanda-tanda lain dari infeksi.
Intervensi :
- Pertahankan teknik septik dan antiseptik (cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan)
- Pantau tanda-tanda vital
- Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan, perhatikan batuk spasmedik kering pada inspirasi dalam
- Periksa adanya luka / lakuasi infasif, dan tanda-tanda inflamasi.
- Gunakan sarung tangan dan shout selama kontak langsung yang akresi / sekresi
- Pantau studi laboratorium, JDL dan periksa kultur / sensivitas lesi, darah, urine dan spuntum
- Berikan antibiotik, entijamun / agen antimikroba.
Rasionalisasi :
- Mengurangi resiko kontaminasi silang
- Memberikan informasi data dasar upeneana, tindakan
- Kongesti / distres pernafasan dapat mengidentifikasikan perkembangan PCP
- Candidiasis oral, ks, herpes CMU dan Cyptococcus adalah penyakit umum dan memberi pengaruh pada membran kulit
- Perawatan infulsi aktual dapat mencegah supsis
- Mencegah penularan
- Mengidentifikasi proses infeksi dan untuk menentukan metode perawatan
- Menghambat proses infeksi
2. DX II
Tujuan : Kebutuhan volume cairan terpenuhi
KH :
- Membran mukosa lembab,
- Anak tampak rileks
- Turgor kulit baik
- Tanda-tanda vital stabil
- Haluaran adekuat.
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda vital
- Catat pningkatan suhu dan durasi demam, berikan kompres hangat sesuai indikasi
- Kaji turgor, membran mukosa dan rasa haus
- Kaji intake dan output
- Hilangkan makan yang potensial menyebabkan diare
- Berikan cairan / elektrolit melalui NGT / IV
- Pantau He / Hb
- Berikan obat sesuai indikasi seperti anti ementik, anti diare, anti piretik
Rasionalisasi :
- Indikasi dari volume cairan sirkulasi
- Meningkatkan kebutuhan metabolisme dan diaforesis yang berlebihan
- Indikator tidak langsung dari status cairan
- Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus dan melembabkan membran mukosa
- Mungkin dapat mengurangi diare
- Mendukung / memperbesar volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tak adekuat
- Bermanfaat dalam memperbaiki kebutuhan cairan
- Mengurangi insiden muntah, menurunkan jumlah keenceran feces dan membantu mengurangi demam.


3. DX III
Tujuan : Pola pernafasan kembali efektif
KH :
- Tidak sesak lagi / siaosis
- Anak tidak sesak lagi.
Intervensi :
- Auskultasi bunyi nafas, ditandai adanya kelainan
- Catat kecepatan / kedalaman pernafasan, siaosis, dispnea dan ansietas.
- Atur posisi fowler, anjurkan batuk efektif
- Selidiki keluhan, tentang nyeri dada
- Berikan periodik istiraaht yang cukup dan atur lingkungan tenang
- Tinjau ulang sinar X dada
- Berikan O2 sesuai indikasi
- Berikan obat antimikroba dan bropkodilator.
Rasionalisasi :
- Memperkirakan adanya perkembangan komplikasi / infeksi pernafasan
- Takipnea, sianosis tidak dapat beristirahat dan peningkatan nafas menunjukkan kesulitan pernafasan
- Mengikui fungsi penafasan yang optimal dan mengurangi aspirasi
- Nyeri dada pleuritis dapat menggambarkan adanya pneumonia non spesifik
- Menuunkan konsumsi O2
- Adanya infiltrasi meluas memungkinkan terjadinya pneumonia atau PCP
- Mempertahankan ventilasi / oksigenasi efektif untuk mencegah / memperbaiki krisis pernafasan
- Pilihan terapi tergantung pada situasi individu.

4. DX IV
Tujuan : Kebutuhan nutrisi pada anak terpenuhi
KH :
- Terlihat adanya pertumbuhan BB anak
- Nila-nilai laboratorium dalam batas normal
- Bebas dari tanda malnutrisis / gagal untuk tumbuh (GUT)
- untuk mengetahui cara pemberian makan dan kebutuhan khusus untuk anak.
Intervensi :
- Kaji BB dasar
- Observasi koordinasi menghisap dan refleks menelan
- Insfeksi rongga mulut
- Anjurkan pemberian makan alternatif dan konsulkan ibu mengenai resiko menyusui
- Tinjau ulang diet sesuai usia dan tambahan makanan padat dan kemampuan perkembanan
- Berikan nistat sesuai indikasi
- Berikan makanan enteral / parenteral dengan tepat.
Rasionalisasi :
- Anak resti GUT ditandai dengan BB menurun atau penambahan BB sedikit dari waktu lahir
- Pola motorik oral abormal dapat merusak pemberian makan
- Sariawan merusak kemampuan makan
- HIV ada pada kolestrum serta ASI dan meskipun terbatas tetap ada beberapa resiko pada bai
- Memberikan nutrisi optimal berdasarkan kebutuhan anak setelah pulang
- Tindakan efektif untuk infeksi jemu oral
- Kerusakan motorik dan adanya infeksi memerlukan alternatif teknik pemberian makanan untuk memenuhi kebutuhan diet.

5. DX V
Tujuan : Nyeri teratasi / hilang
KH :
- Klien tampak rileks
- Dapat tidur / istirahat adekuat.
Intervensi :
- Kaji keluhan nyeri, lakasi, intensitas, frekuensi dan waktu
- Ajarkan teknik relaksasi (tarik nafas dalam)
- Lakukan tindakan paliatif ex : ubah posisi, rentang gerak pada sendi yang sakit
- Berikan obat analgetik / antipiretik sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Mengindikasikan kebutuhan untuk intervcensi dan juga tanda-tanda perkembangan / resolusi komplikasi
- Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat
- Menurunkan tegangan otot
- Menurunkan nyeri / tidak nyaman : mengurangi demam.

6. DX VI
Tujuan : Integritas kulit kembali normal
KH :
- Tidak ada lagi lesi
- Permukaan kulit normal.
Intervensi :
- Kaji tiap hari, catat warna, turgor, sirkulasi dan sensori
- Pertahankan higiene kulit mis : masase dengan lotion dan krim
- Autr posisi secara teratur, ganti seprei sesuai kebutuhan
- Pertahankan sprai bersih, kering dan tidak berkeringat
- Bersihkan area perianal
- Gunting kuku anak secara teratur
- Berikan matras / tempat tidur busa
- Berikan obat-obatan topikal / sistemik sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Menentukan garis dasar perubahan dan melakukan intervensi yang tepat
- Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi
- Mengurangi stress pada titik tekanan, meningkatkan aliran darah, kejaringan meningkatkan proses penyembuhan
- Friksi kulit disebabkan kain yang berkerut dan basah
- Mencegah maserasi yang disebabkna oleh diare
- Kuku yang panjang meningkatkan resiko kerusakan dermal
- Menurunkan istemia jaringan
- Digunakan pada perawatan lesi kulit.

7. DX VII
Tujuan : Membran kembali normal
KH :
- Membran mukosa utuh, warna merah jambu, bawah dan bebas dari inflamasi / ulserasi.
Intervensi :
- Kaji membran mukosa / catat seluruh lesi oral
- Berikan perawatan oral setiap hari dan setelah makan
- Cuci lesi mukosa oral dengan menggunakan hidrogen peroksidan / salin
- Berikan obat sesuai indikasi mis : histurai betokonorzal.
Rasionalisasi :
- Edema, lesi, membran mukosa oral dan tenggorok kering menyebabkan rasa sakit dan disfagin
- Mencegah pembentukan asam dan meningkatkan rasa sehat dan nyaman
- Mengurangi penyebaran lesi dan krustasi dari kandidiasis dan memberi kenyamanan
- Obat khusus pilihan tergantung pada organisme infeksi.

8. DX VIII
Tujuan : Adanya peningkatan energi
KH : Anak melaksankan aktivitas.

Intervensi :
- Catat pada istirahat dan tidur dalam proses prilaku
- Menyediakan fase istirahat
- Pantau respon psikologis terhadap aktivitas
- Dorong masukan nutrisi
- Berikan O2 tambahan sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Faktor meningkatkan kelelahan mis : Kurang tidur, penyakit SPP, efek samping obat
- Istirahat yang sering dibutuhkan untuk energi
- Toleransi bervariasi tergantung pada status penyakit
- Nutrisi yang adekuat penting untuk aktivitas dan energi
- Adanya anemia / hipoksemia mengurangi persediaan O2 dan menunjang kelalahan.

9. DX IX
Tujuan : Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia anak
KH :
Intervensi :
- Tentukan status individu / anak
- Identifikasi hambatan tumbang anak
- Observasi interkasi anak orang lain
- Anjurkan pengungkapan perasaan olah orang tua / keluarga
- Anjurkan dukung orang tua dalam perawatan anak
- Pertahankan pentingnya sering dilakukan skrining dan evaluasi formal oleh spesialis perkembangan.
Rasionalisasi :
- Memberikan data dasar untuk memperhatikan kemajuan tumbang anak
- Menguatkan bahwa anak dapat tumbang dengan dukungan intervensi yang tepat
- Kontak mata dan pendekatan anak meningkatkan respons orang dewasa
- Perasaan bersalah, kecewa dapat diekspresikan dengan marah dan menyangkal
- Meningkatkan proses ikatan orang tua dan anak
- Mengidentifikasi perlambatan perkembangan dan keefektifan tahap.

10. DX X
Tujuan : Orang tua / keluarga dapat memahami tentang kondisi dan kebutuhan tindakan
KH :
Intervensi :
- Tentukan pemahaman orang tua tentnag kondisi dan progresif
- Berikan informasi realitstis
- Perhatikan respons terhadap kontak dengan anak, orang rua / keluarga, diskusikan masalah anak
- Identifikasi cara-cara untuk melindungi anak dari pemanjanan pada infeksi imun
- Tekankan pentingnya imunisasi rutin dengan teapt
- Tinjau ulang efek samping terasi mis zidovadin.
Rasionalisasi :
- Memberikan titik awal untuk informasi dan memperjelas konsep
- Meningkatkan proses kebutuhan dan materi pengaburan
- Interaksi mungkin dipengaruhi oleh rasa takut terkontaminasi
- Kerusakan sistem imun menurunkan kemampuan anak untuk mengatasi penyakit
- Memberikan perlindungan pada beberapa agar infeksius
- Untuk membatasi terapi / dosis obat.

BAB III
P E N U T UP

A. Kesimpulan
AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan daya tahan tubuh. AIDS pada anak biasanya akibat pemakaian obat-obatan intravena ibunya, seks bebas, daearah asal ibunya untuk tingkat infeksi HIV nya tinggi.
Gejala AIDS pada anak biasanya bervariasi karena dapat mempengaruhi seluruh organ vital tubuh, sampai sekarang obat AIDS belum ditemukan hanya gejala dan penyebab yang dapat kita cegah dan hindari.

B. Saran dan Kritik
Tidak ada gading yang tidak retak kami menerima saran dan kritik teman-teman dan para dosen semua untuk memperbaiki makalah ini agar menjadi lebih baik, jangan ragu untuk menyeluarkan pendapat anda. Kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan partisipasi yang telah diberikan.



DAFTAR PUSTAKA


Doenges, Marilynn, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedoktera, 2000, EGC.

Mansjoer, Arief, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid I, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran UI, 2001, Jakarta.

Price, Sylvia A. Wilson Lorraine M, Psikologi, Edisi 4, Buku I, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 1995, Jakarta.

Muma, Richard D, dkk, HIV, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 1997.

Doergoe, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan Bayi / Maternal, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2001, Jakarta.

Tambayong Jan, dr. Patofisiologi Untuk Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000, Jakarta.

1 komentar:

MAniezzz mengatakan...

pengen copy na gmna../