Sabtu, 09 Januari 2010

AIDS

AIDS adalah nama suatu penyakit yang disebabkan oleh HIV (Human Immune Deficiency Virus). Setelah terjangkit HIV masih diperlukan bertahun-tahun agar dapat berkembang menjadi AIDS, tergantung daya tahan tubuh

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah : Kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mengakibatkan rusaknya/ menurunnya sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.
AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukan kelemahan utama kerusakan daya tahan tubuh. AIDS ini juga adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi kuman Immuno Deficiency Virus (HIV).
AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh, yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakait, runtuh oleh virus HIV. Yaitu dengan hancurnya sel-sel limfosit T (sel T). Karena kekurangan sel T maka penderita mudah sekali terkena infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.
Penyakit ini dicirikan dengan berbagai penyakit infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus yang bersifat opurtunistik / keganasan seperti sarkoma kaposi dan limfoma primer di otak.
Dengan ditegakkannya penyakit tersebut, meskipun hasil pemeriksaan laboratorium untuk infeksi HIV belum dilakukan atau tidak dapat diambil kesimpulan, maka diagnosis AIDS telah dapat ditemukan.

A. Etiologi
Kerja virus: merusak sel darah putih yang berfokus merusak titik pusat sistem kekebalan tubuh, sehingga infeksi HIV ini menyebabkan daya tahan tubuh menjadi rusak. HIV merupakan retravirus penyebab penyakit deficiency immune ini. HIV ditemukan oleh “Montagnier dan dkk” pada tahun 1983.

Klasifikasi infeksi HIV :
Kelompok 1 : infeksi HIV akut
Kelompok 2 : seropositif HIV tanpa gejala
Kelompok 3 : radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap (PCL : Parsistent Ceneralized Limphaducati ).
Kelompok 4 : penyakit berat yang berkaitan dengan AIDS
· Sub kelompok A : penyakit konstitusional (AIDS Reloded Complek : ARC).
· Sub kelompok B : penyakit Neurologik.
· Sub kelompok C : C- 1 Infeksi oportunistik, C-2 Infeksi sekunder
· Sub kelompok D : kanker opurtunistik
· Sub kelompok E : kondisi serius lainnya

B. Patofisiologi
Hasil penelitian menunjukan bahwa Aquired Immune Defeciency Syndrome (AIDS) adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV), yang melekat dan memasuki limfosit T helper CD 4+.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus untuk melewati saluran darah otak masuk kedalam otak. Virus ini ditularkan hanya melalui kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh. Melalui pemakaian obat-obatan intravena, kontak seksual, trasmisi perinatal dari ibu ke bayi, dan menyusui. Tidak ada bukti yang menunjukan infeksi HIV didapat dari kontak biasa.
4 populasi utama pada kelompok usia pediatrik yang terkena HIV :
a) Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang terinfeksi (disebut juga transmisi vertikal), hal ini menimbulkan lebih dari 85 % kasus AIDS pada anak – anak yang berusia kurang dari 13 tahun.
b) Anak - anak yang telah menerima produk darah (terutama anak dengan hemofilia).
c) Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam prilaku resiko tinggi
d) Bayi yang mendapat ASI (terutama dinegara-negara berkmbang)

C. Gejala Klinis
Pada anak-anak, gejala yang timbul sangat bervariasi, tergantumg dari usia saat anak mulai terkena AIDS. Anak juga sangat peka terhadap terjadinya infeksi kandidiasis awal, direa, infeksi pernafasan,keluhan utama lemah.

Gejala mayor :
· BB menurun lebih dari 10 % dalam satu bulan.
· Diae kronik yang berlangsung lebih dari satu bulan.
· Demam berkepanjangan lebih dasri satu bulan.
· Penurunan kesadaran dan gangguan neurologi.
· Demensial / ensefalofasi HIV.


Gejala minor :
· Batuk menetap lebih dari satu bulan
· Dermatitis genetalisata yang gatal
· Herpes bester berulang

D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis umum :
· Farmakoterapi : zidovudine (retro vir) disebut juga AZT, dideoxynosine (DDI), didioxycytidine (DDC)
· Medica mentosa
· Non medica mentosa

Penatalaksanaan fisik psikologis, sosial :
· Pengobatan supertif :
- Nutrisi dan vitamin yang cukup
- Bekerja
- Pandangan hidup yang positif
- Hoby
- Dukungan psikologi dan sosial

BAB III
TINJAUAN KASUS SECARA TEORITIS

A. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya, progresi kelelahan / malaise
2. Sirkulasi
Proses penyembuhan luka yang lambat (bila anemia), perdarahan lama pada cidera (jarang terjadi)
3. Integritas EGO
Faktor stress yang berhubungan dengan kehilangan, mengingkari, cemas, depresi, akut, menarik diri.
4. Eliminasi
Diare yang intermiten, feses encer dengan / tanpa disertai mukus / darah
5. Makanan / cairan
Tidak nafsu makan, penurunan BB / progresif
6. Hygiene
Tidak dapat menyelesaikan AKS, memperlihatkan penampilan yang tidak rapi
7. Neurosensori
Pusing / sakit kepala, perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai dimensi.
8. Nyeri / kenyamanan
Nyeri umum / lokal, pembengkakkan pada sendi
9. Pernafasan
Nafas pendek yang progresif, takipnea, perubahan pada bunyi nafas

10. Keamanan
Riwayat jatuh, perubahan integritas kulit terpotong, ruang
11. Seksualitas
Riwayat prilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan seksual dngan pasangan positif HIV, kehamilan / resiko terhadap hamil
12. Interaksi sosial
Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis misalnya : kehilangan kerabat, perubahan pada interaksi keluarga
13. Penyuluhan / pembelajaran
Kegagalan untuk mengikuti perawatan / aktivitas yang tak terorganisasi
14. Pemeriksaan Diagnostik
- JDL : anemia dan trombositopenia idiopatik.
- DSP : leukopenia mungkin ada, pergeseran diperensialkekiri menunjukan proses infeksi (PCP) : bergeser kekanan dapat terlihat.
- Panel energi : energi kutaneus ( kurang reaktifitas pada antigen dimana pasien telah mengetahuinya ) adaalah indikator yang umum ditemukan pda depresi sel imunitas humoral.
- TB ( PPD ) : untuk menentukan pemajanan / atau penyakit aktif ( harus diberikan dengan panel energi untuk menentukan hasil negatif palsu-palsu pada respons defisiensi imun. Pada pasien AIDS, 100 % akan memiliki mikobakterium TB positif pada kehidupan mereka bila terjadi kontak.
- Tes PHS : pembungkus hepatuitis B dan inti anti bodi, sipilis, CMV mungkin positif.


B. Diagnosa Keperawatan
1. Resti infeksi ( spesialis / infeksi oportuistik ) berhubungan dengan pertahanan primerta efektif, depresi sistem imun, teknik invasif
2. Resti kekurangan vume cairan yang berhubungan dengan status hiper metabolisme,kehilangan B >>, diare berat, berkeringat, muntah, pembatasan masukan, mual anoreksia.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna, mengunyah, peningkatan laju metabolisme / kebutuhan nutrisiditandai dengan berat badan menurun, nafsu makan menurun, perubahan indra pengecap, diare.

C. Perencanaan
1. DX. I
Intervensi :
- Perhatikan tindakan septik dan antiseptik dalam kontak perawatan klien.
- Ciptakan lingkungan yang bersih, ventilasi baik, kurangi resiko terhadap infeksi dnegan memriksa pengunmjung / staf.
- Pantau tanda-tanda vital
- Periksa adanya luka / lokasi alat infasiv, perhatikan tanda-tanda inflamasi / infeksi lokal.
- Kolaborasi dalam pemberian antibiotik, anti jamur / anti mikroba.
Rasionalisasi :
- Mengurangi resiko kontaminasi silang
- Mengurangi patogen pada sistem imun dan mengurangi kemungkinan klien mengalami infeksi nosokomial.
- Mengetahui perkembangan kondisi klien.
- Identifikasi perawatan awal dari infeksi sekunder dapat mencegah terjadi sepsis.
- Menghambat proses infeksi.

2. DX. II
Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital
- Kaji turgor kulit, membran mukosa dan rasa haus.
- Ukur haluaran urin.
- Timbang berat badan seuai indikasi
- Beri cairan yang mudah ditoleransi oleh klien yang menggantikan elektrolit yang dibutuhkan.
- Berkolaborasi dalam pemberian obat, cairan dan elektrolit sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Mengetahui indikasi dari volume cairan sirkulasi
- Mengetahui indikasi tidak langsung akibat dari status cairan
- Menunjukkan adanya perubahan pada perfusi ginjal / volume sirkulasi
- Mengetahui sejauh mana perubahan berat badan berkenaan dengan diare
- Meningkatkan pemasukan, mengurangi rsiko dehidrasi
- Mengurangi insiden muntah untuk mngurangi kehilangan cairan / elektrolit lebih lanjut.

3. DX. III
Intervensi :
- Kaji kemampuan untuk mengunyah, merasakan dan menelan
- Auskultasi bising usus
- Timbang berat badan sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dalam pemberian diet sesuai indikasi
Rasionalisasi:
- Dapat mengkaji tingkat kecemasan klien, diketahui seberapa jauh kekhawatiran klien.
- Menjanjikan klien tidak akan sendiri atau ditelantarkan oleh keluarga, meningkatkan rasa percaya
- Penerimaan perasaan akan membuat klien dapat menerima situasi
- Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sepenuhnya
- Menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut.








BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. AIDS adalah suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan utama kerusakan daya tahan tubuh.AIDS juga adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi kuman immuno deficiency virus (HIV).
2. HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang yang mengidap virus itu, dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk cairan tubuh lainya.pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim atau vagina.begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genetalianya ada luka atau lecet.

B. Saran
1. Dalam merencanakan tindakan keperawatan dilakukan dengan prosedur keperawatan dan kode etik keparawatan.
2. Perencanaan yang dirumuskan harus sesuai dengan kebutuhan utama pasien, yang muncul agardapat diatasi dengan kebutuhan utama pasien
3. Dalam melakukan askep hendaknya perawat lebih memperhatikan kebutuhan dan keadaan pasien
4. Diagnosa yang ditegakkan pada pasien hendaknya berdasarkan pada data yang ditentukan pada saat pengkajian, tidak berfokus pada konsep teori saja tetapi dalam perumusanya diagnosa keperawatan harus berfokus pada diagnosa teoritis

DAFTAR PUSTAKA

Waluya, Bisma Raga AIDS, Pionir Jaya. Bandung, 2000.

Mantra, Ida Bagus. Dr. MPH, AIDS di Rutan. Cetakan ke 2. Departemen Kesehatan, 1994.

Marilynn E. Doenges, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. jakarta. EGC, 1998.

Tidak ada komentar: