Rabu, 13 Januari 2010

Alzheimer

Gangguan mental organic bukan akibat zat pada proses degeneratif yang terjadi pertama-tama pada sel yang terletak pada dasar dari otak depan yang mengirim informasi kekorteks serebral dan hipokampus (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999)

1. Definisi
Alzheimer adalah :
- Gangguan mental organic bukan akibat zat pada proses degeneratif yang terjadi pertama-tama pada sel yang terletak pada dasar dari otak depan yang mengirim informasi kekorteks serebral dan hipokampus (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999).
- Kehilangan organic fungsi intelektual, bentuk dimensi presenile yang disebabkan oleh eliminasi substansi putih sebkortil otak yang disertai dengan perubahan eleutrolit pada pembuluh darah yang menuju kesana (encephalitis subrucorticalis cronica).

2. Etiologi
- Seringkali tidak diketahui meskipun beberapa riset sedang dan telah dilakukan dalam beberapa area seperti : genetic, virus-virus lambat dan faktor lingkungan.
- Penurunan yang intermiten dalamotak dengan gejala yang berfluktuasi, fokal atau terus berkembang dalam satu tahapan tertentu.
(Marilynn, E. Doengen, dkk, 1999).
- Kekurangan leuron didasar otak, yang menguras zat yang disebut dopamine didalam kortex.


3. Patofisiologi
Alzheimer pertama menggumpalnya serat-serat dalam sel-sel saraf yang disebut dengan serat saraf kemudian dipenuhi dengan tonjolan abnormal pada sel saraf, semua ini berada antara serat dan sel- sel otak normal dalam korteks otak, lapisan luar otak sumber kemampuan dan proses pikiran. Dan hipokampus, yang kelihatannya memainkan peranan penting dalam proses belajar dan ingatan
(Ronald H. Sitorus, dkk, 1996).

4. Manifestasi Klinis
a. Sulit untuk mengingat kejadian-kejadian yang baru/lalu
b. Pelupa dan kebingungan
c. Disorientasi dan gemetarnya tangan karena sulit (mengontrol otot).
d. Paranoid (cemas, ketakutan sendiri)
e. Halusinasi dan berkelakuan luar
(Ronald H. Sitorus, dkk, 1996).
f. Meningkatkan koping mekanisme dari orang terdekat (keluarga).
g. Memberikan sokongan/dorongan pasien (orang terdekat dalam proses berkabung).
h. Memberikan informasi tentang proses penyakit, diagnosa dan pemanfaatan sumber-sumber yang ada untuk membantu.

5. Penatalaksanaan
a. Memberikan keamanan lingkungan
b. Meningkatkan sosialisasi pasien yang masih dapat diterima, membatasi tingkat laku yang tidak sesuai.
c. Memaksimalkan orientasi terhadap realita/mencegah deprivasi sensori/sensori yang berlebihan.
d. Menganjurkan untuk tetap berpartisipasi dalam perawatan diri sendiri dalam keterbatasan yang ada.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian yang harus dilakukan pada penderita Alzheimer, data umum terdiri dari nama klien, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, status perkawinan, suku bangsa, alamat, No. register rumah sakit, tanggal masuk rumah sakit.
a. Aktivitas / Istirahat
Meras lelah.
b. Sirkulasi
Riwayat penyakit vaskuler serebral / sistemik, hipertensi, episode emboli.
c. Integritas Ego
Curiga atau takut terhadap situasi / orang khayalan.
d. Eliminasi
Dorongan berkemih (dapat mengindikasikan kehilangan tonus otot).
e. Makanan / Cairan
Riwayat episode hipoglikemia, perubahan dalam pengecapan, nafsu makan, mengingkari terhadap rasa lapar / kebutuhan untuk makan.
f. Hygiene
Perlu bantuan / tergantung pada orang lain.

g. Neuro Sensori
Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif, dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondrial tentang kelelahan, diare, pusing atau kadang-kadang sakit kepala.
h. Kenyamanan
Adanya riwayat trauma kepala yang serius.
i. Interaksi Sosial
Merasa kehilangan kekuatan, faktor psikososial sebelumnya.
DS : 1. Klien mengatakan sering merasa tidak yakin akan kemampuan dirinya.
2. Klien mengatakan sering kesulitan alam mengakomodasikan ide atau perintah.
3. Klien mengeluh tidak bisa tidur dan terus menerus terjaga.
4. Klien mengatakan tidak mampu untuk membersihkan bagian-bagian tubuh tertentu (Marilynn. E. Doenges, dkk, 1999).
DO : 1. Klien tampak cemas, mudah tersinggung, tingkah laku curiga, kekacauan metanl dan menraik diri.
2. Kliendisorientasi, paranoid, delusi, bingung/frustasi dan terjadi perubahan dalam respons-respons tingkah laku.
1. Klien tampak lelah, mata sayu, konjungtiva pucat, tidur +5 jam/hari.
2. Klien tampak kotor dan kusut (Marilynn. E. Doenges, dkk, 1999).


2. Diagnosa Keperawatan
DX I :
Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori penurunan fungsi fisik ditandai dengan klien mengatakan sering merasa tidak yakin akan kemampuan dirinya, klien cemas, mudah tersinggung, tingkah laku curiga, kekacauan mental dan menarik diri.
Tujuan :
Klien kembali merasa yakin akan kemampuan dirinya dengan kriteria hasil :
- Klien mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan perubahan aktivitas kehidupan sehari-hari.
- Klien mampu menunjukkan rentang perasaan yang sesuai dan rasa takut yang berkurang.
- Tidak menyimpan pengalaman yang mengguncangkan
Intervensi :
- Identifikasi kekuatan individu yang dimilikinya sebelumnya.
- Pertahankan dalam keadaan tenang, tempatkan dalam lingkungan yang tenang yang memberikan kesmepatan untuk beristirahat.
- Atasi tingkah laku agresif dengan pendekatan yang tenang batas-batas yang tegas.
Rasional :
- Memfasilitasi bantuan dengan komunitas dan manajemen dari kekurangan sekrang dan selanjutnya.
- Memenenangkan situasi-situasi dan memberi pasien waktu untuk memperoleh kendali terhadap prilaku dan emosinya.
- Rasa diterima menurunkan rasa takut dan respons agresif.

DX II :
Perubahan proses piker berhubungan dengan kehilangan memori ditandai dengan klien mengatakan sering kesulitan dalam mengakomodasikan ide/perintah, klien disorientasi, paranoid, delusi, bingung/frustasi dan terjadi perubahan dalam respons tingkah laku.
Tujuan :
Klien tidak kesulitan dalam mengakomodasikan ide atau perintah dengan kriteria hasil :
- Mampu mengenali perubahan dalam berpikir/tingkah laku dan faktor-faktor penyebab jika memungkinkan.
- Mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak diinginkan, ancaman dan kebingungan.
Intervensi :
- Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang
- Gunakan suara yang agak rendah dan berbicara dengan perlahan pada pasien.
- Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang.
Rasional :
- Pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang mengalami kesalahan persepsi/perasaan terancam oleh imajinasi orang dan atau situasi tertentu.
- Meningkatkan kemungkinan pemahaman, ucapan yang tinggi dan suara yang keras menimbulkan stress/marah yang kemungkinan dalam pencetuskan memori konfrontasi sebelumnya dan menjadi provokasi respons marah.
- Kebisingan, keramaian, orang banyak biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang menaikkan gangguan neuron.

DX III :
Perubahan pola tidur berhubungan dengan tekanan psikososial ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa tidur dan terus menerus terjaga, klien tampak lelah, mata sayu, konjungtiva pucat, tidur + 5 jam/hari.
Tujuan :
Pola tidur klien kembali normal dngan kriteria hasil :
- Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun).
- Melaporkan dapat beristirahat dengan cukup.
Intervensi :
- Berikan kesempatan untuk beristirahat/tidur sejenak
- Hindari penggunaan “pengikatan” secara terus menerus
- Evaluasi tingkat stress/orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
Rasional :
- Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan.
- Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
- Mepengajan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif dapat melangar pola tidur.

DX IV :
Kurang perawatan diri berhubungan dengan frustasi atas kehilangan kemandiriannya ditandai dengan klien mengatakan tidak mampu untuk membersihkan bagian-bagian tubuh tertentu, klien tampak kotor dan kusut.

Tujuan :
Klien kembali mampu merawat dirinya sendiri dengan kriteria hasil :
- Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan diri sendiri.
- Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber-sumber pribadi atau komonitas yang dapat memberikan bantuan.
Intervensi :
- Usahakan untuk melakukan satu bagian kegiatan untuk setiap waktu.
- Perhatikan adanya tanda-tanda non verbal yang fisiologis.
- Lakukan pengawasan namun berikan kesempatan untuk melakukan sendiri sebanyak mungkin sesuai kemampuan.
Rasional :
- Aktivitas yang sederhana dapat menurunkjan frustasi dan risiko terjadinya, marah dan putus asa.
- Kehilangan sensori dan penurunan fungsi bahasa mungkin menyebabkan pasien mengungkapkan kebutuhan perawatan diri dengan cara non verbal.
- Mudah sekali terjadi frustasi jika kehilangan kemandirian.
(Marilynn. E. Doenges, dkk, 1999)



BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Dari hasil pengkajian yang ditemukan bahwa kebanyakan bentuk dimensia yang paling umum ditandai oleh kelainan yang menetap dan global. Dalam perbandingannya, dimensia multi infark mencerminkan pola penurunan yang intermiten dalam otak dengan gejala yang berfluktuasi, fokal atau terus berkembang dalam satu tahapan tertentu. Kemerosotan tersebut berkembang diperkirakan terjadi sebagai respons terhadap infark otak yang berulang.
Perencanaan tindakan pada klien disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan prioritas masalah dan mengacu pada studi perpustakaan yang berhubungan dengan masalah klien tersebut.


B. Saran
Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien khususnya klien dengan Alzheimer, hendaknya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi, sehingga tujuan asuhan keperawatan akan tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

H. Sitorus Ronald, Pedoman Perawatan dan Pengobatan Berbagai Penyakit, Bandung : 1996.

E. Doenges Marilynn, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta : 1999.

Kamus Kedokteran Donald, Edisi 26, Jakarta : 1994.

Tidak ada komentar: