Rabu, 13 Januari 2010

amputasi

Pengangkatan melalui bedah/traumatik pada tungkai (Marilynn E. Doenges, 2000)

A. Defenisi
1. Amputasi adalah
Pengangkatan melalui bedah/traumatik pada tungkai (Marilynn E. Doenges, 2000).

2. Amputasi adalah
Pengangkatan semua atau sebagian ekstremitas (Barbara Engram, 2000).

3. Amputasi dapat digolongkan menjadi :
a. Amputasi terbuka (goilotine), amputasi dilakukan untuk indeksi berat. Ini meliputi pemotongan tulang dan jaringan otot pada tingkat yang sama.
b. Amputasi tertutup
Dokter bedah menutup luka dengan flap kulit yang dibuat dengan memotong tulang kira-kira dua inci lebih pendek daripada kulit dan otot.

B. Etiologi
Pada umumnya amputasi disebabkan oleh kecelakaan, penyakit dan gangguan kongenital.

C. Manifestasi Klinis
Biasanya pasien amputasi akan merasa adanya gangguan harga diri, nyeri pada area amputasi karena adanya perubahan perfusi jaringan, gangguan mobilitas.
D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tergantung pada kondisi dasar perlunya amputasi dan digunakan untuk menentukan tingkat yang terjadi untuk amputasi
2. Foto rontgen : mengidentifikasi abnormalitas tulang
3. Skan CT : mengidentifikasi lesi neoplastik, asteomelis, pembentukan hematoma
4. Aggiografi dan pemeriksaan aliran darah : mengevaluasi perubahan sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu memperkira kan potensial penyembuhan jaringan setelah amputasi.


BAB III
TINJAUAH KASUS SECAR TEORITIS

A. Pengertian Secara Umum
Merupakan dasar utama/tingkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan dan data juta dapat diambil berdasarkan keluhan utama.
Pengkajian keperawatan pada penderita amputasi secara umum dibuat dan dilihat dari :
1. Pengkajian
1.1. Pengumpulan Data
a. Biodata klien
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama (chief complaint)
Pada amputasi yang umum dirasakan klien adalah nyeri pada luka/area amputasi.
2) Riwayat kesehatan masa kini (PQRST)
Nyeri area amputasi dengan kualitas nyeri dapat dirasakan secara terus menerus, atau hilang timbul, skala yang dirasakan 6-10.
3) Riwayat kesehatan masa lalu
4) Riwayat kesehatan keluarga
5) Kebiasaan sehari-hari sebelum masuk rumah sakit
6) Data biologis di rumah sakit
a) Keadaan nutrisi
b) Eliminasi
c) Iistirahat dan tidur
d) Personal higiene

1.2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
b. Keadaan umum
1) Kesan umum yang ada pada klien
2) Kesadaran klien
3) Kepala : adakah kelainan pada daerah kepala
4) Mata ; apakah terjadi gangguan penglihatan
5) Telinga : apakah ada kelainan atau gangguan pendengaran
6) Mulut
7) Leher
8) Dada : apakah ada kelainan pada dada akibat trauma
9) Adakah terjadi gangguan penyakit jantung bawaan
10) Status neurologis
Tingkat kesadaran GCS
11) Integumen/kulit
Apakah kelainan pada integumen
12) Muskuloskeletal
Terjadi kelemahan secara umum, keterbatasan rom dan masalah fungsi gerak lain
13) Pemeriksaan penunjang
Berdasarkan pemeriksaan diagnostik/laboratorium
14) Progran pengobatan
Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan.


2. Data Dasar Pengkajian Pasien
Data tergantung pada alasan dasar untuk prosedur bedah :
Aktivitas/Istirahat
Gejala : Keterbatasan aktual/antisipasi yang dimungkinkan oleh kondisi/amputasi.
Integritas Ego
Gejala : Masalah tentang antisipasi perubahan pola hidup situasi finansial reaksi orang lain perasaan putus asa, tidak berdaya.
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka, marah, menarik diri, keceriaan semua.
Seksualitas
Gejala : Masalah tentang keintiman hubungan
Interaksi Sosial
Gejala : Masalah sehubungan dengan penyakit/kondisi masalah tentang peran fungsi, reaksi orang lain.

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien amputasi.
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial sehingga membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah klien dapat ditanggulangi.
Adapun rumusan keperawatan pada klien amputasi menurut asuhan keperawatan menurut Marilynn E. Doenges, edisi 3 adalah :
1. Perubahan gangguan harga diri berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh ditandai dengan antisipasi perubahan pola hidup, takut penolakan/reaksi orang lain, perasaan negatif tentang tubuh, fokus pada kekuatan masa lalu, perasaan tidak berdaya, putus asa.
2. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik ditandai dengan keluhan nyeri, fokus diri menyempit, respon automonomik, perilaku melindungi/berhati-hati.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakade kuatan pertahanan primer.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan tungkai ditandai dengan menolak upaya bergerak, gangguan koordinasi, penurunan kekuatan otot, kontrol.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi berhubungan dengan kurang mengingat, salah interpensi informal ditandai dengan pertanyaan meminta informasi, menyatakan masalah.

C. Intervensi
Pada tahap ini adalah menentukan prioritas masalah, kriteria hasil dan tindakan keperawatan. Adapun rencana tindakannya adalah sebagai berikut :
a. DX I
Tujuan : Mengenali dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat tanpa harga diri negatif.
K/H : Mulai menunjukkan adaptasi dan menyatakan penerimaan pada situasi diri.
Intervensi :
- Kaji/pertimbangkan persiapan pasien dan pandangan terhadap amputasi
- Dorong ekspresi ketakutan, perasaan negatif dan kehilangan bagian tubuh
- Beri dorongan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari
- Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien.

Rasionalisasi :
- Dengan demikian pasien yang memandang amputasi sebagai pemotongan hidup atau rekonstruksi akan menerima diri yang baru lebih cepat
- Ekspresi emosi dapat membantu pasien mulai menerima kenyatan dan realitas hidup tanpa tungkai
- Meningkatkan kemandirian dan perasaan harga diri
- Dukungan yang cukup dari orang terdekat dan teman dapat membantu proses rehabilitasi.

b. DX II
Tujuan : Klien tidak merasakan nyeri lagi
K/H :
- Skala nyeri 0
- Klien tampak rileks
- Dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi :
- Kaji skala nyeri
- Tinggikan bagian yang sakit dengan meninggikan kaki tempat tidur/menggunakan bantal/guling untuk amputasi tungkai atas
- Berikan tindakan kenyamanan
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
- Berikan pijatan lembut pada puntung sesuai toleransi bila larutan telah dilepas
- Beri obat analgetik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan intervensi berikutnya
- Mengurangi terbentuknya edema dengan peningkatan aliran balik vena, menurunkan kelelahan otot dan tekanan jaringan
- Agar klien terasa nyaman dan rileks
- Untuk mengalihkan perhatian dari rasa nyeri tersebut
- Meningkatkan sirkulasi
- Karena obat analgetik dapat mengurangi rasa nyeri.

c. DX III
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
K/H :
- Mencapai penyembuhan tepat pada waktunya, bebas drainase purulen atau eritema
- Tidak demam
Intervensi :
- Pertahankan teknik antiseptik bila mengganti balutan/merawat luka
- Tatap balutan dengan plastik dengan sabun ringan dan air setelah pembalutan dikontraindikasikan
- Awali TTV
- Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasionalisasi :
- Dengan demikian kesempatan intradukasi bakteri
- Mencegah kontaminasi pada amputasi tungkai bawah
- Peningkatan suhu tubuh/dapat menunjukkan terjadinya sepsis
- Antibiotik spektum luas dapat digunakan secara profilaktik atau terapi antibiotik.

d. DX IV
Tujuan : Menyatakan pemahaman situasi individual
K/H :
- Menentukan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas
- Menunjukkan teknik/perilaku yang memampukan tindakan aktivitas
Intervensi :
- Bantu latihan rentang gerak khusus untuk area yang sakit atau yang tidak sakit
- Dorong latihan aktif
- Bantu dengan ambulasi
- Rujuk ke tim rehabilitasi.
Rasionalisasi :
- Mencegah kontraktur, perubahan bentuk, yang dapat terjadi dengan cepat dan dapat memperlambat penggunaan prostese
- Meningkatkan kekuatan otot untuk membantu pemindahan ambulasi
- Dapat menurunkan potensial untuk cedera
- Dapat memberikan bentuk latihan/program aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan kekuatan individu, membantu meningkatkan kemandirian.

D. Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan dari intervensi.

E. Evaluasi
Hasil akhir dari intervensi dan implementasi.


BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Amputasi : Pengangkatan melalui bedah/traumatik pada tungkai (Marilynn E. Doenges, 2000).
Amputasi : Pengangkatan semua atau sebagian ekstremitas (Barbara Engram, 2000).
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Perubahan gangguan harga diri berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh.
2. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakade kuatan pertahanan primer.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan tungkai.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi berhubungan dengan kurang mengingat, salah interpensi informal.

B. Saran
1. Untuk Akademi
Diharapkan dapat lebih meningkatkan dan mempertahan kan kualitas pendidikan sehingga bisa menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional.
2. Untuk Para Mahasiswa
Agar dapat mengikuti masa perkuliahan dengan lebih fokus sehingga bisa mencerna materi yang diberikan dosen.


DAFTAR PUSTAKA

Shires Spencer, 2000. Intisari Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6, EGC. Jakarta.

Marilynn Engram, 2000. Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Jakarta.

Marilynn E. Doenges, dkk, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar: