Rabu, 13 Januari 2010

anemia pada anak

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasar seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak aekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pembangkit oksigen darah

A. Pengertian
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasar seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak aekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pembangkit oksigen darah.
1. Anemia Aplastik
Merupakan keadaan yang disebabkan berkurangnya sel darah dalam darah tepi, sebagai akibat berhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang.
Sistem limfopoetik dan RES sebenarnya dalam keadaan aplastik juga, tetapi realtif lebih ringan dibandingkan dengan ketiga sistem hemopoetik lainnya. Aplasia ini dapat terjadi hanya pada satu, dua atau ketiga sistem hemopoetik (eirtopoteik, granulopoetik dan trombopoetik).
Aplasia yang hanya mengenai sistem eritropoetik disebut eritroblastopenia (anemia hipoplastik) yang hanya mengenai sistem granulopoetik saja disebut agranulositosis (penyakit schultz) sedangkan yang hanya mengenai sistem trombopoetik disebut amegakariositik trombositopenik purpura (ATP). Bila mengenai ketiga sistem disebut panmieloptisis atau lazimnya disebut anemia aplastik. Dalam buku ini istilah anemia aplastik dipakai terhadap aplasia sistem eritropoetik, granulopoetik dan trombopoetik.

2. Panmieloptisis (Anemia Aplastik)
Kecuali jenis kongenital, anemia aplastik biasanya terdapat pada anak besar berumur lebih dari 6 tahun. Depresi sumsum tulang oleh obat atau bahan kimia, meskipun dengan dosis rendah tetapi berlangsung sejak usia muda secara terus menerus, baru akan terlihat pengaruhnya setelah beberapa tahun kemudian. Misalnya pemberian kloramfenikol yang terlampau sering pada bayi (sejak umur 2-3 bulan), baru akan menyebabkan gejala anemia aplastik setelah ia berumur lebih dari 6 tahun. Di samping itu pada beberapa kasus gejala sudah timbul hanya beberapa saat setelah ia kontak dengan agen penyebabnya.

B. Etiologi
1. Faktor Kongenital
Sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan sebagainya.
2. Faktor didapat
a. Bahan kimia : benzene, insektisida, senyawa As, Au,Pb
b. Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin – kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya)
c. Radiasi : sinar rontgen, radioaktif
d. Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain – lain
e. Infeksi : tuberkulosis milier, hepatitis dan sebagainya
f. Lain – lain : keganasan, penyakit ginjal, gangguan endokrin
g. Idiopatik : merupakan penyebab yang paling sering. Akhir – akhir ini faktor imunologis telah dapat menerangkan aetiologi golongan idopatik ini.

C. Gejala Klinis dan Hemotologi
Pada prinsipnya berdasarkan kepada gambaran sumsum tulang yang berupa aplasia sistem eritropoetik, granulopoetik dan trombopoetik, serta aktifitas relatif sistem limfopoetik dan RES. Aplasia sistem eritropoetik dalam darah tepi akan terlihat sebagai retikulositopenia yang disertai dengan merendahnya kadar Hb, hematokrit dan hitung eritrosit. Klinis akan terlihat anak pucat dengan berbagai gejala anemia lainnya seperti anoreksi, lemah, palpitasi, sesak karena gagal jantung dan sebagainya.
Oleh akrena itu sifatnya aplasia sistem hematopoetik, maka umumnya tidak ditemukan ikterus, pembesaran limpa, hepar maupun kelenjar getah bening.
Bergantung pada gambaran sumsum tulang dibedakan 2 jenis anemia aplastik, yaitu jenis hiposelular. Jenis hiposelular masih memperlihatkan gambaran sumsum tulang dengan sel yang tidak terlampau aplastik. Jumlah sel eritropoetik 5-10%.

D. Diagnosis
Dibuat atas adanya gejala klinis berupa panas pucat, pendarahan, tanpa organomegali (hepato – splenomegali). Gambaran darah tepi menunjukkan pansitopenia dan limfositosis relatif. Diagnosis pasti ditentukan dari pemeriksaan sumsum tulang yaitu gambaran sel sangat kurang, banyak jaringan penyokong dan jaringan lemak ; aplasia sistem eritopoetik, granulopoetik dan trombopoetik. Diantara sel sumsum tulang yang sedikit ini banyak ditemukan limfosit, sel RES (sel plasma, fibrosit, osteoklas, sel endotel). Hendaknya dibedakan antara sediaan sumsum tulang yang aplastik dan yang tercampur darah.

Ikhtisar Gejala Klinis dan Hematologis Anemia Aplastik
Sumsum Tulang Darah Tepiu Gejala Klinis Keterangan
Aplasia eritropoesis Retikulositopenia Anemia (pucat) - Akibat retikulositopenial : kadar Hb, hematokrit dan jumlah eritrosit rendah- Akibat anemia : anoreksia, pusing, gagal jantung dan lain – lain.
Aplasia granulopresis Granulositopenia, leukopenia Panas (demam) - Bila leukosit normal, periksalah hitung jenis- Panas terjadi karena infeksi skunder akibat granulositopenia
Aplasia trombopoetik Trombositopenia Diatesis hemoragi - Perdarahan dapat berupa ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi dan sebagainya
Relatif aktif limfopoesis Limfosmosis - - Limfositosis biasanya tidak lebih dari 80%
Relatif aktif RES Mungkin terdapat sel plasma monosit bertambah - -
Gambaran umum : sel sangat kurang, banyak jaringan penyokong dan lemak Tambahan : - hepar, limfa, kelenjar getah bening, tidak membesar dan tidak ada ikterus


E. Diagnosis Banding
1. Idiopathic Thrombocycopenic Purpura (ITP) dan Amegakaryocytic Thrombocytopenic Purpura (ATP).
Pemeriuksaan darah tepi dari kedua kelainan ini hanya menunjukkan trombositopenia tanpa retikulositopenia atau granulositopenia / leukopenia. Pemeriksaan sumsum tulang dari ITP menunjukkan gambaran yang normal sedangkan apda ATP tidak ditemukan megakariosit.
2. Leukemia akut jenis aleukemik, terutama LLA (Leukemia Limfositik Akut) dengan jumlah leukosit yang kurang dari 6.000/mm3. kecuali pada stadium dini, biasanya pada LLA ditemukan splenomagali.
Darah tepi sukar dibedakan, karena kedua penyakit mempunyai gambaran yang serupa (pansitopenia dan relatif limfositosis) kecuali bila terdapat sel blas dan limfositosis yang lebih dari 90%, diagnosis lebih cenderung kepada LLA.
3. Stadium praleukemik dari leukemia akut
Sukar dibedakan baik gambaran klinis, darah tepi maupun sumsum tulang, karena masih menunjukkan gambaran anemia aplastik. Biasanya setelah 2-7 bulan kemudian baru terlihat gambaran khas LLA.

F. Pengobatan
1. Prednison dan Testosteron
Prednison diberikan dengan dosis 2-5 mg/kgbb/hari eproral, sedangkan testosteron dengan dosis 1-2 mg/kgbb/hari sebaiknya secara parenteral. Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa testosteron lebih baik diganti dengan oksimetolon yang mempunyai daya anabolik dan merangsang sistem hematopoetik lebih kuat dan diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgbb/hari peroral. Pada pemberian oksimetolon ini hendaknya diperhatikan fungsi hati..
Pengobatan biasanya berlangsung berulan – bulan, bahkan dapat sampai bertahun – tahun. Bila telah terdapat remisi, dosis obat diberikan separuhnya dan jumlah sel darah diawasi setiap minggu. Bila kemudian terjadi relaps, dosis obat harus diberikan penuh kembali.

2. Transfusi Darah
Hendaknya harus diketahui bahwa tidak ada manfaatnya mempertahankan kadar hemoglobin yang tinggi, karena dengan tranfusi darah yang terlampau sering, akan timbul depresi terhadap sumsum tulang atau dapat menyebabkan timbulnya reaksi hemolitik (reaksi transfusi), sehingga dalam hal ini tranfsui darah “gagal” karena eritrosit, leukosit dan trombosit akan dihancurkan sebagai akibat dibentuknya antibodi terhadap sel – sel darah tersebut. Dengan demikian transfusi darah hanya diberikan bila diperlukan. Pada keadaan yang sangat gawat (perdarahan masif, perdarahan otak dan sebagainya) dapat diberikan suspensi trombosit.
3. Pengobatan terhadap infeksi skunder
Untuk menghindarkan anak dari infeksi, sebaiknya anak diisoloasi dalam ruangan yang suci hama. Pemberian obat antibiotika hendaknya dipilih yang tidak menyebabkan depresi sumsum tulang. Kloramfenikol tidak boleh diberikan.
4. Makanan
Disesuaikan dengan keadaan anak, umumnya diberikan makanan lunak, hati – hati pada pemberian makanan melalui pipa lambung karena mungkin menimbulkan luka / perdarahan pada waktu pipa dimasukkan.
5. Istirahat
Untuk mencegah terjadinya perdarahan, terutama perdarahan otak.

G. Prognosis dan Perjalanan Penyakit
Prognosis bergantung kepada :
1. Gambaran sumsum tulang (hiposeluler atau aseluler)
2. Kadar Hb F yang lebih dari 200 mg% memperlihatkan prognosis yang lebih baik.
3. Jumlah granulosit yang lebih dari 2.000/mm3 menunjukkan prognosis yang lebih baik
4. Pencegahan infeksi skunder, terutama di Indonesia karena kejadian infeksi masih tinggi.

Gambaran sumsum tulang merupakan parameter yang terbaik untuk menentukan prognosis :
Mortalitas Anemia Aplastik
Berdasarkan Pengobatan Utama yang diberikan
Jenis Obat Mortalitas
PrednisonPrednison + TestosteronPrednison + Oksimetolon 100%40-50%20-30%

Sebab kematian :
1. Infeksi, biasanya bronkopneumonia atau sepsis. Harus waspada terhadap tuberkulosis pada pemberian prednison yang lama.
2. Perdarahan otak atau abdomen
Remisi biasanya terjadi beberapa bulan setelah pengobatan (dengan oksimetolon setelah 2-3 bulan), mula – mula terlihat perbaikan pada sistem eritropoetik, kemudian sistem granulopoetik dan terakhir sistem trombopoetik. Kadang – kadang remisi terlihat pada sistem granulopoetik lebih dahuluk, disusul oleh sistem eritropoetik dan trombopoetik. Untuk melihat adanya remisi hendaknya diperhatikan jumlah trombosit. Pemeriksaan sumsum tulang sebulan sekali merupakan indikator terbaik untuk menilai keadaan remisi ini. Bila remisi parsial telah tercapai, yaitu timbulnya aktifitas sistem eritropoetik dan granulopoetik, bahaya perdarahan yang fatal masih tetap ada, karena perbaikan sistem trombopoetik terjadi paling akhir. Sebaiknya penderita diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah jumlah trombosit mencapai 50.000 – 100.000/mm3.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA PADA ANAK

A. Diagnosa Keperawatan
1. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan
3. Perubahan pola nafas berhubungan dengan menurunnya sistem kerja jantung
4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
5. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen selulur yang diperlukan untuk pengiriman O2 / nutrisi ke sel
6. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan eprtahanan skunder (tidak ada adekuat : penurunan Hb)
7. Kurangnya pengetahuan klien tentang kondisi penyakit berhubungan dengan tidak mengenalnya sumber informasi.

B. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia ditandai dengan keluarga klien mengatakan tidak ada nafsu makan, keadaan umum lemah, pucat, anoreksia, porsi yang disediakan hanya ¼ bagian yang habis.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpneuhi dalam waktu 2 hari
Kriteria hasil :
- Klien ada nafsu makan
- Porsi yang disediakan habis
- Keadaan umum baik

Intervensi :
- Beri penjelasan pada keluarga dan anak (pasien) tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Beri makan dalam porsi kecil tapi sering
- Beri makan dalam keadaan hangat
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit
Implementasi :
- Memberi penjelasan pada keluarga dan anak (pasien) tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Memberi makan dalam porsi kecil tapi sering
- Memberi makan dalam keadaan hangat
- Mengkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit
Rasionalisasi :
- Agar keluarga dan anak mengerti tentang pentingnya kebutuhan nutrisi bagi tubuh
- Porsi kecil tapi sering supaya klien ada nasu makan
- Makanan dalam keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan klien
- Dengan adanya kolaborasi dengan ahli gizi agar kebutuhan nutrisi pada pasien terpenuhi.

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan ditandai dengan keluarga klien mengatakan badan klien lemah, aktifitas klien dibantu dengan perawat dan keuarga, keadaan umum lemah, pucat.
Tujuan : Klien dapat beraktifitas seperti semula dalam waktu 2 hari.
Kriteria hasil :
- Klien dapat beraktifitas secara bertahap
- Klien tidak pucat lagi
- Keadaan umum baika.

Intervensi :
- Anjurkan orangtua untuk melakukan aktifitas klien secara bertahap
- Latih ROM pasif
- Observasi tanda – tanda vital (N, S, R)
Implementasi :
- Menganjurkan orangtua untuk melakukan aktifitas klien secara bertahap
- Melatih ROM pasif
- Mengobservasi tanda – tanda vital (N, S, R)Rasionalisasi :
Rasionalisasi :
- Agar klien dapat beraktifitas secara bertahap dan dapat termotivasi
- Dengan ROM pasif, maka otot – otot gerak pasien menjadi tidak kaku
- Untuk mengetahui perkembangan kesehatan tubuh klien.




DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC. Jakarta.

Mansjoer, dkk, 2001, Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Media Aesculapius Fakultas Universitas Indonesia, Jakarta.

Tucker susan Martin, dkk, 1999, Standar Perawatan Pasien, Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Vol IV, EGC Jakarta.

Wikinjo Sastro Hanifa, 2002, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

1 komentar:

Sakinah Umar mengatakan...

terima kasih, sangat membantu^_^