Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 30 Maret 2010

vertigo kti

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk pelayanan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang bersifat komprehensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia untuk mencapai derajat kesehatan optimal (La Ode Jumadi Gaffar, 1981).


Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng, sempoyongan, mumet, pusing, pening, tujuh keliling, rasa mengambang, kepala terasa enteng, rasa melayang. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum, bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun, 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo.. (Setya Negara, 1998).

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar . Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.

Kelainan ini terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer, kelainan pada telinga sering menyebabkan vertigo. Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokter THT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi).

Seorang yang menderita vertigo perasaannya seolah-olah dunia sekeliling berputar (vertigo objektif) atau penderita sendiri merasa berputar dalam ruangan (vertigo subjektif). Bagi masyarakat awam vertigo disebut juga sebagai tujuh keliling.

Perasaan pusing ini selain disertai rasa berputar kadang-kadang disertai mual dan muntah. Bila gangguan ini berat, penderita bahkan tak mampu berdiri atau bahkan terjatuh. Hal ini biasanya disebabkan oleh gangguan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.

Menurut dr Hendra Pranata, SpS dari Nusantara Medical Center, pada dasarnya keseimbangan tubuh dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi mengenai posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata. Vertigo biasanya timbul akibat gangguan telinga tengah dan dalam atau gangguan penglihatan.

Gangguan pada otak kecil yang mengakibatkan vertigo jarang sekali ditemukan. Namun, pasokan oksigen ke otak yang kurang dapat pula menjadi penyebab. Beberapa jenis obat, seperti kina, streptomisin, dan salisilat, diketahui dapat menimbulkan radang kronis telinga dalam. Keadaan ini juga dapat menimbulkan vertigo.

Gangguan ini diatasi dengan menangani penyebabnya. Biasanya pemberian vitamin B12, B1, antihistamin, diuretika, dan pembatasan konsumsi garam dapat mengurangi keluhan.

Ada beberapa jenis vertigo berdasarkan penyebabnya. Vertigo epileptica yaitu pusing yang mengiringi atau terjadi sesudah serangan ayan, vertigo laryngea yaitu pusing karena serangan batuk, vertigo nocturna yaitu rasa seolah-olah akan terjatuh pada permulaan tidur, vertigo ocularis yaitu pusing karena penyakit mata khususnya karena kelumpuhan atau ketidakseimbangan kegiatan otot-otot bola mata, vertigo rotatoria yaitu pusing seolah-olah semua di sekitar badan berputar-putar.

Benign Paroxysmal Positional Vertigo merupakan penyakit yang sering ditemukan, di mana vertigo terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 1 menit. Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun, berguling di atas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya vertigo ini. Penyakit ini tampaknya disebabkan oleh adanya endapan kalsium di dalam salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam. Vertigo jenis ini mengerikan, tetapi tidak berbahaya dan biasanya menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan. Tidak disertai hilangnya pendengaran maupun telinga berdenging.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul sebagai berikut : “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. M DENGAN VERTIGO DI RUANGAN NEUROLOGI RUMAH SAKIT DAERAH RADEN MATTAHER JAMBI TAHUN 2009”


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data yang diperoleh diatas rumusan masalah yang diangkat yaitu : Bagaimana memberikan Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. M Dengan Vertigo Di Ruangan Neurologi Rumah Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi Tahun 2009”.


C. Tujuan
1. Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran perbandingan konsep teori praktek dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Vertigo di Ruang Neorologi Rumah Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Vertigo diruang Neorologi Rumah Sakit Daerah Raden Matther Jambi serta membandingkannya dengan teori.

b. Mampu merumuskan Diagnosa Keperwatan pada klien Vertigo yang dirawat di Ruang Neoroligi Rumah Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi serta membandingkannya dengan teori.

c. Mampu menyusun rencana keperawatan pada klien Vertigo yang dirawat di ruang neorologi Rumah Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi serta membandingkannya dengan teori.

d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan terhadap pasien dengan Vertigo yang dirawat di Ruang neorologi Rumah Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi serta membandingkannya dengan teori.

e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada pasien dengan Vertigo yang dir rawat diruang Neorologi Rumah Sakti Umum Raden Mattaher Jambi serta membandingkannya dengan teori.



D. Manfaat
1. Bagi Pendidikan

a. Dapat memberikan masukan atau informasi bagi pendidik, khususnya mahasiswa Prodi D.III Keperawatan Baiturrahim Jambi.

b. Sebagai pengembangan belajar mahasiswa dalam menyusun sebuah asuhan keperawatan.

2. Bagi Rumah Sakit

Dapat digunakan sebagai gambaran bagi perawat ruangan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan Vertigo.

3. Bagi Mahasiswa

a. Sebagai pedoman dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien dengan Vertigo.

b. Menambah wawasan tentang askep pasien dengan Vertigo.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



A. Konsep Dasar
1. Definisi

Vertigo adalah perasaan berputar sering kali merupakan sinonim dari sakit kepala dalam bahasa Indonesia. Istilah pusing sangat membingungkan sebab terlalu luas pemakaiannya ada istilah daerah yang lebih tepat misalnya, pusing tujuh keliling (Betawi), Oyong (Jawa), Lieur (Sunda) dapat dipakai sebagai pengganti Vertigo. Istilah pusing yang tidak berputar dipakai kata “pening”. (Depkes RI : 1996 : 61).

Vertigo adalah situasi gerakan pada diri seseorang atau lingkungan sekelilingnya, sensasi, vertigo dapat dirasakan sebagai berputar-putar, berayun, miring dan oleng. (Kapita Selekta Kedokteran, 1982 : 301).

Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan. (Arief Mansjoer, 2000).

Vertigo Postural (Vertigo Posisional) adalah vertigo (perasaan berputar) berat yang berlangsung kurang dari 30 detik dan terjadi pada posisi kepala tertentu (Satya Negara, 1998).



2. Etiologi

Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak.

Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telingan dengan otak dan di dalam otaknya sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba.

Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :

1. Lesi vestibular :

a. Fisiologik

b. Labirinitis

c. Menière

d. Obat ; misalnya quinine, salisilat.

e. Otitis media

f. “Motion sickness”

g. “Benign post-traumatic positional vertigo”

2. Lesi saraf vestibularis

a. Neuroma akustik

b. Obat ; misalnya streptomycin

c. Neuronitis

d. vestibular

3. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal

a. Infark atau perdarahan pons

b. Insufisiensi vertebro-basilar

c. Migraine arteri basilaris

d. Sklerosi diseminata

e. Tumor

f. Siringobulbia

g. Epilepsy lobus temporal



Menurut (http://www.kalbefarma.com)

1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :

a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing.

b. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.

c. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.

d. Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.

e. Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.

2. Penyakit SSP :

a. Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.

b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.

c. Trauma kepala/ labirin.

d. Tumor.

e. Migren.

f. Epilepsi.

3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.

4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.

5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.

6. Intoksikasi.



Penyebab umum dari vertigo:

1. Keadaan lingkungan

- Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)

2. Obat-obatan

- Alkohol

- Gentamisin



3. Kelainan sirkulasi

- Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler

4. Kelainan di telinga

- Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)

- Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri

- Herpes zoster

- Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)

- Peradangan saraf vestibuler

- Penyakit Meniere

5. Kelainan neurologis

- Sklerosis multipel

- Patah tulang tengkorak yang disertai pusing pada labirin, persarafannya atau keduanya

- Tumor otak

- Tumor yang menekan saraf vestibularis.



3. Patofisiologi

Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.

Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.

Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (http://www.kalbefarma.com).



4. Klasifikasi

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :

1. Vertigo paroksismal

Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :

1) Yang disertai keluhan telinga :

Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.

2) Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).

3) Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.

2. Vertigo kronis

Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:

1) Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.

2) Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.

3) Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.

3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :

1) Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, pusing pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.

2) Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.

Ada pula yang membagi vertigo menjadi :

1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.

2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.



5. Manifestasi Klinis

Di dalam klinik setiap dokter sering menanggapi keluhan “pusing” bagi penulis pribadi, mengenal kasus organik yang terselip diantara sejumlah besar penderita yang menyajikan keluhan “pusing” psikogenik selalu merupakan suatu tantangan yang sangat menarik. Sebenarnya dengan sikap yang positif tidaklah sulit untuk mengadakan seleksi organik dan psikogenik. Oleh karena perbedaan kedua jenis gangguan mudah diungkapkan oleh anamnesa dan pemeriksaan fisik diagnostik.



6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan fisik :

1. Pemeriksaan mata

2. Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh

3. Pemeriksaan neurologik

4. Pemeriksaan otologik

5. Pemeriksaan fisik umum.

b. Pemeriksaan khusus :

1. ENG

2. Audiometri dan BAEP

3. Psikiatrik

c. Pemeriksaan tambahan :

1. Laboratorium

2. Radiologik dan Imaging

3. EEG, EMG, dan EKG.



7. Penatalaksanaan

a. Medis

Pengobatan simtomatik dengan salah satu obat sedative vestibular yag jarang bermanfaat sempurna. Melakukan kembali gerakan-gerakan kembali yang memprovokasikan sempurna. Melakukan kembali gerakan-gerakan kembali yang memprovokasi vertigo akhirnya akan melelehkan respon simtomatik, sehingga remisi dapat diperoleh dengan melakukan latihan kepala tersebut.

b. Perawatan

Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) :
Terdiri dari :

1. Terapi kausal

2. Terapi simtomatik

3. Terapi rehabilitatif.



B. Proses Keperawatan

Langkah – langkah yang perlu dilakukan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Klien Vertigo adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian

a. Data Biografi Klien

Meliputi nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku, bahasa yang dipakai, alamat.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pada umumnya klien dengan Vertigo datang kerumah sakit dalam keadaan sadar, atau baru pulih dari sadar, sakit kepala, mual, muntah, terdapatnya luka pada kulit atau tidak, dan hal – hal tersebut terjadi setelah trauma, juga disertai adanya penurunan kesadaran dalam waktu singkat sampai normal kembali.

c. Riwayat Penyakit Terdahulu

Riwayat Penyakit Terdahulu, baik yang berhubungan dengan sistem persyarafan maupun penyakit sistemik lainnya.

d. Penyakit Kesehatan Keluarga

Penyakit penyakit Keluarga perlu diketahui terutama yang menular dan yang merupakan turunan.



e. Riwayat Psikososial

Apabila mengkaji klien dengan gangguan sistem persyarafan perhatikan juga lingkungan rumah dan pekerjaan yang bersangkutan, ketegangan yang bersumber dari rumah, adanya kontak terhadap bahan toksik tertentu dan pemahaman akan kondisi psikososial klien penting untuk dikaji.

f. Aktivitas Sehari - hari

Pengkajian pada aktivitas sehari – hari ditujukan untuk mengetahui adakah perubahan pola yang berhubungan dengan penyimpangan atau terganggunya sistem tubuh tertentu, serta dampaknya terhadap pemenuhan kebutuhan dasar klien.

g. Aktivitas / Istirahat

1) Letih, lemah, malaise

2) Keterbatasan gerak

3) Ketegangan mata, kesulitan membaca

4) Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.

5) Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.

h. Sirkulasi

1) Riwayat hypertensi

2) Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.

3) Pucat, wajah tampak kemerahan.

i. Integritas Ego

1) Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu

2) Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi

3) Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala

4) Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).

j. Makanan dan cairan

1) Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).

2) Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)

3) Penurunan berat badan

k. Neurosensoris

1) Pening, disorientasi (selama sakit kepala)

2) Riwayat kejang, pusing kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.

3) Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.

4) Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.

5) Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore

6) Perubahan pada pola bicara/pola pikir

7) Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.

8) Penurunan refleks tendon dalam

9) Papiledema.

l. Nyeri/ kenyamanan

1) Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.

2) Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.

3) Fokus menyempit

4) Fokus pada diri sendiri

5) Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.

6) Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

m. Keamanan

1) Riwayat alergi atau reaksi alergi

2) Demam (sakit kepala)

3) Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis

4) Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).

n. Interaksi sosial

1) Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.

o. Penyuluhan / pembelajaran

1) Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga

2) Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.

p. Pemeriksaan Fisik

1) Aspek Neurologis

Yang dikaji adalah tingkat kesadaran disorientasi orang, tempat dan waktu, perubahan tanda – tanda vital, kemampuan klien untuk mengingat kejadian sebelum dan sesudah sadar, adanya gangguan keseimbangan dimana klien sadar dapat terlihat linglung atau tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuh.

2) Aspek Kardiovaskuler

Didapatkan perubahan yaitu tekanan darah menurun kecuali apabila terjadi peningkatan tekanan intrakranial, maka tekanan darah meningkat, denyut nadi bradicardi, kemudia tacikardi dan iramanya tidak terarah.

3) Aspek Sisem Pernafasan

Terjadinya pola nafas dimana umumnya klien sesak karena terjadi penyumbatan trakeo bronkial karena adanya sekret pada trakeogronkialus irama nafas tidak teratur nutrisi kedalam maupun frekuensi cepat dan dangkal.

4) Aspek Muskuloskletal

Yang perlu dikaji adalah terjadinya gangguan fungsi motoris yang dapat berakibat terjadinya mobilisasi, pusing atau kerusakan pada motor neuron mengakibatkan perubahan pada kekuatan otot tonus otot dan aktifitas reflek.

5) Aspek Sistem Eliminasi

Sistem eliminasi akan terdapat referensi atau trikontinen dalam BAB atau BAK, terdapat ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, dimana terdapat hiporat remia atau sipokalemia.



6) Aspek Psikologis

Pada klien yang tingkat kesadaran agak normal terlihat adanya perubahan tingkah laku, gangguan emossi, emosi biasanya stabil.

7) Aspek Sosial

Dikaji bagaimana klien berhubungan dengan orang yang terdekat dari yang lain, kemampuan berkomunikasi dan peranan dalam keluarga serta pandangan klien terhadap dirinya setelah mengalami trauma kepala

8) Aspek Spritual

Diperlukan adalah kekuatan agamanya, semangat falsafah hidup klien serta ketuhanan yang diyakininya.



2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada Klien dengan Vertigo menurut Doenges, 1999 ada delapan, menurut Barbara Engram, 1999 ada empat, yaitu :

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan mengeluh kepalanya sakit, klien meringis dengan skala 6, keadaan umum lemah (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999 : 273).

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah ditandai dengan klien mual muntah + 5 kali dalam sehari, turgor jelek, banyak keringat. (Barbara Engram, 1999 : 644).

c. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ditandai dengan klien tidak mau makan, porsi yang disediakan hanya ¼ bagian yang dihabiskan, BB menurun dari 56 kg menjadi 54 kg dalam waktu 1 minggu.. (Barbara Engram, 1999 : 644)

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri kepada ditandai dengan sebagian aktivitas dibantu oleh keluarga, kepala klien nyeri bila banyak digerakkan, kekuatan otot menurun.. (Barbara Engram, 1999 : 644)

e. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah. (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999 : 273).

f. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999 : 273).

g. Anxietas berhubungan dengan kurang informasi mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan ditandai dengan klien selalu bertanya mengenai penyakitnya, klien gelisah dan klien cemas. (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999 : 273).



3. Perencanaan

Adapun rencana tindakan keperawatan pada Klien dengan Vertigo berdasarkan sumber diatas adalah :

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial

Tujuan : Nyeri berkurang serta teratasi dalam waktu 2 hari.

Keriteria hasil :

- Klien tidak mengeluh nyeri lagi

- Skala nyeri berkurang atau hilang dari 6 menjadi 0

Intervensi :

- Kaji tingkat nyeri

- Observasi tanda-tanda vital

- Masase daerah kepala, leher dan lengan

- Berikan obat sesuai indikasi misal, oral mertigo dan diazepam

Rasionalisasi :

- Dapat diketahui sejauh mana nyeri dirasakan oleh klien hingga tindakan dapat disesuaikan.

- Untuk diketahui perkembangan tanda-tanda vital kesehatan klien

- Menghilangkan ketegangan dan meningkat relaksasi otot

- Dapat bermanfaat mengurangi atau menghilangka nyeri



b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.

Tujuan : Kekurangan volume cairan teratasi dalam waktu 1 hari.

Kriteria hasil :

- Klien tidak mual dan muntah

- Turgor baik

- Keseimbangan cairan yang kuat

Intervensi :

- Catat katakteristik muntah

- Observasi tanda-tanda vital

- Pantau masukan dan keluaran serta keseimbangan cairan dalam tubuh

- Beri cairan sesuai indikasi.

Rasionalisasi :

- Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan

- Hipotensi, takikardi dapat menunjukkan respon atau efek kehilangan cairan

- Memberikan informasi tentnag status cairan, kecenderungan keseimbangan ciaran negative dapat menunjukkan terjadinya deficit

- Mempertahankan cairan dalam tubuh.



c. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam waktu 2 hari.

Kriteria hasil :

- Klien ada nafsu makan, BB kembali normal atau bertambah menjadi 56 kg.

Intervensi :

- Beritahukan kepada klien tentang pentingnya nutrisi bagi kesehatan

- Timbang berat badan klien setiap hari

- Beri nutrisi porsi kecil tapi seri9ng

- Konsul pada ahli gizi.

Rasionalisasi :

- Diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

- Mengawasi penurunan berat badan klien

- Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan.

- Membantu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien



d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri kepala

Tujuan : aktivitias dapat terpenuhi dalam waktu 2 hari.

Kriteria hasil :

- Klien dapat melakukan aktivitas sendiri

- Kekuatan otot kembali normal

Intervensi :

- Kaji skala kekuatan otot

- Bantu klien dalam melakukan aktivitas

- Penuhi kebutuhan klien

- Dekatkan peralatan yang diperlukan pasien.

Rasionalisasi :

- Dengan mengkaji skala kekuatan otot dapat menentukan perkembangan kekuatan otot klien

- Dengan membantu klien diharapkan klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.

- Dengan memenuhi kebutuhan klien diharapkan klien tidak terlalu lelah dalam memenuhi kebutuhannya

- Dengan mendekatkan peralatan yang diperlukan pasien diharapkan klien dapat mudak memperolehnya tanpa harus banyak bergerak.



e. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan.

Tujuan : Ansietas teratasi dalam waktu 3 hari

Kriteria hasil :

- Klien tidak gelisah

- Klien tidak cemas

- Klien dapat mengerti tentang penyakinya

Intervensi :

- Kaji stauts mental dan tingkat ansietas dari klien dan keluarga

- Berikan penjelasan sehubungan dengan penyakitnya

- Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.

- Libatkan pasien atau keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari.

Rasionalisasi :

- Derajat ansietas akan dipengaruhik bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.

- Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas

- Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat dihilangkan

- Meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.



f. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial.

Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria Hasil :

- Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang

- Tanda-tanda vital normal

- pasien tampak tenang dan rileks.

Intervensi :

- Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri.

- Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.

- Atur posisi pasien senyaman mungkin

- Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

- Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

Rasionalisasi :

- Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.

- istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.

- posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.

- relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.

- Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.



g. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.

Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat

Kriteria Hasil :

- Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif

- Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki.

- Mengkaji situasi saat ini yang akurat

- Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.

Intervensi :

- Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.

- Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.

- Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.

- Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.

Rasionalisasi :

- Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.

- klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang.

- agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.

- membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.



4. Perencanaan

Pelaksanaan kegiatan merupakan realisasi kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan. Dalam perencanaan meliputi tindakan yang telah direncanakan oleh perawat. Dalam memenuhi kebutuhan klien, perawat melakukan fungsinya secara independent (mandiri), interdependent (kolaborasi) dan dependent (ketergantungan), jenis tindakan yang dilakukan adalah tindakan keperawatan promotif, kuratif dan rehabilitatif.





5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan yang merupakan penilaian keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilakukan. Komponen tahap evaluasi adalah pencapaian kriteria hasil, keefektifan tahap – tahap proses keperawatan, revisi atau terminasi atau rencana asuhan keperawatan.

Tidak ada komentar: