Kamis, 16 September 2010

Ancietas

Ansietas adalah suatu keadaan dimana individu merasa tidak nyaman, gelisah, prihatin dan adanya aktivitas sistem saraf otonom sebagai respon terhadap ancaman yang tidak spesifikBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses keperawatan merupakan sarana / wahan kerjasama perawat dan klien, yang umumnya pada tahap awal peran perawat lebih besar dari peran klien.
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, memperlihatkan gejala yang berbeda dan muncul oleh berbagai penyebab.
Hubungan saling percaya antara perawat dan klien keperawatan pada klien merupakan pada klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena peran perawat dalam asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum : Agar dapat mengetahui gambaran-gambaran tentang ansietas dan cata pelaksanaan asuhan keperawatan itu dengan ilmu pengetahuan, keterampilan yang ada untuk pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus :
- Mahasiswa mampu menyebutkan tentang pengertian, gejala, perawatan klien
- Mahasiswa mampu melakukan pengkajian klien dengan ansietas
- Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil usaha keperawatan yang telah diberikan pada klien dengan ansietas



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Kecemasan (ansietas) ada perasaan yang tidak menyenangkan dan hampir sama dengna ketakutan fear), baik subjek maupun dalam proses faalnya.
Ansietas adalah suatu keadaan dimana individu merasa tidak nyaman, gelisah, prihatin dan adanya aktivitas sistem saraf otonom sebagai respon terhadap ancaman yang tidak spesifik.

2. Gejala Ansietas
Gejala ansietas (kecemasan) yang nampak pada pasien banyak dipengaruhi keadaan fisiologiknya, gejala yang tampak adalah : ketegangan otot, kegelisahan (agitasi), gemetar (tremor), keringat yang berlebihan (hyperhidrosis), pelebaran pupil (mydriasis), denyut nadi cepat, peninggian TD, mulut kering dan RR cepat, semua ini dapat mengakibatkan atau disertai dengan kelemahan, sukar tidur, keadaan mudah tersinggung, kesulitan memusatkan pikiran, mudah lupa dan gangguan organ atau sistem tubuh seperti tidak adanya nafsu makan, diare, meningkatnuya frekuensi BAK.

3. Pengembangan Ansietas
Ansietas dapat dibagi dalam beberapa tingkatan :
a. Ansietas Ringan
Pada tingkatan ringan ini ansietas berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan menyebabkan individu waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.

b. Ansietas Sedang
Pada tingkat ini individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat ini dan menyampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan persepsinya.
c. Ansietas Berat
Pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat menurun dan cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal lain, semua perilaku ditunnjukkan untuk mengurangi ansietas.
d. Ansietase Panik
Pada tingkat ini individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan, menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain dan kehilangan pikiran yang rasional.

4. Mekanisme Koping
a. Reaksi yang Berorientasi pada Tugas
Yaitu upaya yang disadari dan berorientasi apda tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres.
- Perilaku menyerang digunakan untuk merubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan
- Perilaku menarik diri digunakan vaik secara fisik maupun psikologis untuk memindahkan seseorang dari sumberstres
- Perilaku kompromi digunakan untuk cara seseorang mengganti tujuan atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.
b. Mekanisme pertahanan ego
Membantu mengatasi cemas ringan dan sedang, terhadap jiwa klien berlangsung pada tingkat tidak sadar, maka mekanisme penipuan diri dan distorsi relita, maka mekanisme ini dapat merupakan respon mal adaptif terhadap stress.

5. Perawatan pasien dengan Ansietas
Setelah perawat mengetahui gejala kecemasan, maka dapat disimpulkan masalah yang harus diatasi yaitu : kegelisahan, kesulitan tidur, gangguan konsentrasi, tingkah laku yang tidak wajar dan masalah fisik yang dicetuskan oleh pasien serta masalah penyebab timbulnya kecemasan itu sendiri.
Tindakan yang dapat dilakukan :
a. Memberi rasa aman
b. Perawatan fisik
c. Pelaksanaan program terapi dokter
d. Pendekatan pada pasien untuk :
- Menggali latar belakang permasalahannya
- Membantu klien untuk menganalisa masalah yang sebenarnya
- Mencari jalan keluar yang wajar dan mengatasi masalahnya
e. Hubungan dengan keluarga

B. Tinjauan Kasus Secara Teoritis
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan datar utama dari proses keperawatan.
a. Identitas Klien
Meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, status, alamat, ruang, tanggal masuk, DX medis.
b. Keluhan Utama / Alasan Masuk
Klien masuk rumah sakit jiwa diantar oleh keluarga dikarenakan mengalami kehilangan kendali, ketakutan, gelisah, dan cemas yang tak terkontrol.
c. Faktor Propodisposisi
Sebelumnya klien tidak pernah mengalami gangguan jiwa, pola pikir klien pendek setelah adanya ketidak harmonisan didalam keluarga, klien sebelumnya aktif dan giat bekerja, setelah pola pikir telah berubah, bingung, diam dan sering marah ngomong ngelantur, klien tidak mau makan.
Masalah keperawatan : Resiko tinggi : Mencederai diri sendiri atau orang lain.
d. Pemeriksaan Fisik
TD : 160/70
N : 100 x/i
S : 37o C
RR : 30 x/i

e. Psikososial
1. Genogram









Keterangan :
= Laki-laki
= Perempuan
= Klien
= Satu atap / rumah

2. Konsep diri
* Citra tubuh : Kien menyatakan bahwa dia senang dengan semua
bagian tubuhnya
* Identitas : Kien merasa puas menjadi perempuan
* Peran : Klien saat dirumah berperan sebagai anak patuh
pada orang tua
* Ideal diri : Kien mengatakan kalau sudah sembuh akan pulang
berkumpul dengan keluarga
* Harga diri : Klien mengganggap dirinya tidak berarti dan tidak
penting oleh lingkungan sekitarnya karena klien jarang berinteraksi dan lebih suka menyendiri
Masalah keperawatan : gangguan konsep diri HDR.

3. Hubungan sosial
- Klien mengatakan kedua orang tuanya adalah orang yang berarti
- Klien jarang terlibat dalam kegiatan sosial
- Hambatan berhubungan dengan yang lain : klien lebih senang didatangi teman dan tidak mau.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri.

4. Spiritual
Klien mengatakan : “saya beragama Islam dan percaya bahwa Allah ada, setelah di rumah sakit jiwa ibadah klien berkurang.

5. Status mental
a. Penampilan
Penampilan klien rapi, cara berpakaian klien seperti biasa, klien mengatakan 2 x/hari, pakaian bersih, kulit bersih, gigi dan rambut bersih.
b. Pembicaraan
Dalam pembicaraan terkadang kasar, cepat dan kurang jelas
c. Aktifitas motorik
Klien dapat beraktifitas sesuai tenaga yang dimilikinya
d. Alam perasaan
Klien sering termenung, sepertinya memikirkan harta yang diambil kakaknya
e. Efek
Ekpresi wajah sedih, pandangan kosong.
Masalah keperawatan : perubahan proses berpikir

f. Interaksi selama wawancara
Selama wawancara klien tidak dapat menjawab pertanyaan dengan jelas, klien hanya menatap saat perawat berbicara.
Masalah keperawatan : perubahan proses berpikir
g. Persepsi
Klien tidak pernah mengalami halusi nasi klien mampu mengingat kejadian saat-saat sebelum klien mengalami gangguan pola pikir seperti Ancietas
h. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang tampak pada klien seperti, ketegangan otot, kegelisahan (agitasi) gemetar (tremor) pelebaran pupil (mydriasis) denyud nadi cepat (tachicardia) meningkatnya tekanan darah, keadaan susah tidur (imsoinnia)
i. Masalah psikososial dan lingkungan
Klien kurang bersosialisasi dengan kelompok, sering berdiam diri, dan kurang mau bicara dengan orang lain, seperti perawat
j. Pengetahuan kurang tentang kejiwaan
Klien dan keluarga yang lainnya kurang pengetahuan tentang kejiwaan, penyebabnya, akibatnya dan pengobatannya, klien selalu memendam perasaan
k. Aspek medis
- CPZ 100 mg 3x1
- THP 2 mg 3x1
- Amoxcicillin 500 mg 3x1

6. Kebutuhan persiapan pulang
a. Kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan
Klien memperoleh makanan, keamanan dari pihak rumah sakit jiwa, sedangkan pakaian klien 2 stel di rumah sakit jiwa, dan pakaian yang lain dibawakan oleh keluarganya dari rumah.
Masalah keperawatan : menurunnya motivasi perawatan diri

b. Kegiatan hidup sehari-hari
- Perawatan diri
Klien mandi 2x sehari, menggunakan sabun, gosok gigi, klien ganti baju 2x sehari, klien mengalami gangguan BAK dan BAB.
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri
- Nutrisi
Klien menerima apa saja yang disajikan oleh rumah sakit jiwa, klien makan 3x sehari dan nafsu makan menurun.
Masalah keperawatan : gangguan nutrisi
- Tidur
Siang : 14.00 – 16.00 wib
Malam : 21.00 – 05.00 wib
Tidak ada kebiasaan sebelum tidur

C. Daftar Maslah Keperawatan
1. Resiko tinggi : mencederai diri sendiri atau orang lain
2. Gangguan konsep diri HDR
3. Isolasi sosial : menarik diri
4. Proses berpikir
5. Defisit perawatan diri
6. Gangguan nutrisi
7. Perubahan eliminasi


D. Pohon Masalah

Resiko tinggi kekerasan : Akibat
Mencideai diri sendiri dan orang lain

Defisit perawatan diri

Isolasi sosial : MD
Menurunnya motivasi

Gangguan konsep diri : HDRK Penyebab



Ganguan nutrisi Perubahan eliminas


Gangguan penyesuaian Cemas


Perubahan Proses pikir




2. Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosa keperawatan yang terjadi adalah :
a. Resiko tinggi kekerasan : mencederai diri sendiri / orang lain berhubungan dengan panik.
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi ansietas.
Tujuan Khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Intervensi :
- Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terpenuhi.
- Sapa pasien dengan ramah, baik, verbal maupun non verbal.
- Perkenalkan diri dengan respon
- Jelaskan tujuan pertemuan
- Tunjukkan sifat empati dan menerima klien apa adanya
- Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan klien.
Rasionalisasi :
- Hubungan saling percaya merupakan dasar kelancaran dalam berinteraksi selanjutnya.

b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas sedang
Tujuan Umum : Klien dapat beristirahat secara baik tanpa ada gangguan yang berhubungan dengan kecemasan.
Tujuan khusus : klien dapat mengenal permasalahan yang sedang terjadi dan dapat menyelesaikan.
Intervensi :
- Jadilah pendengar yang hangat dan responsif
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Ajarkan klien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri
- Dorong klien untuk menggunakan relaksasi dalam menurunkan tingkat kecemasan
- Gali aktivitas, apa yang sering dilakukan sebelum terjadi.
Rasionalisasi :
- Agar klien mengetahui pentingnya istirahat dan dapat menghilangkan faktor penghambat dari ansietas.

c. Ansietas sedang berhubungan dengan prestasi belajar yang menurun
Tujuan Umum : Klien dapat belajar kembali dan dapat meningkatkan prestasi.
Tujuan Khusus : Klien dapat menyebutkan penyebab prestasi belajarnya yang menurun.
Intervensi :
- Tunjukkan sikap yang tenang
- Terima klien apa adanya dan jangan menentang keyakinannya
- Beri klien aktifitas yang sifatnya mendukung dan menguatkan perilaku sosialnya yang produktif
- Beri klien latihan fisik yang sesuai dengan bakatnya
- Libatkan anggota kleuarga dan sistem pendukung lainnya.
Rasionalisasi :
- Agar dapat meningkatkan hubungan saling percaya dan membina hubungan baik terhadap klien.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ansietas adalah suatu keadaan dimana individu merasa tidak nyaman, gelisah, prihatin dan adanya aktivitas sistem saraf otonom sebagai respon terhadap ancaman yang tidak spesifik. Sumber umumnya tidak diketahui atau tidak dikenali. Kondisi dialami secara subjektif dalam dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.
Cemas mulai dirasakan seiring dengan tumbuh kembang apabila mendapat situasi yang baru cemas dibagi kedalam 4 tingkatan :
1. Cemas ringan
2. Cemas sedang
3. Cemas berat
4. Tingkat panik

B. Saran
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa dengan masalah
ansietas ini dengan baik dan diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan tersebut kepada masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

- Carpenito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 8, Penerbit EGC, 1988, Jakarta.

- Keliat Anna Budi, SKP, dkk, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, 1999, Buku Kedokteran, Jakarta.

Tidak ada komentar: