Kamis, 16 September 2010

Anemia Hemolitik

Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari), baik sementara atau terus menerusBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Berdasarkan tujuan Pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar derjat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduk yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia (Tujuan pembanguna kesehatan, 1999).
Jika terjadi anemia ringan maka akan merasa lemah, mudah lelah, kaki bengkak dan kulit tampak pucat, mata berkunang-kunang serta pusing, akan sangat kekurangan darah bila tidak cepat mendapatkan darah maka akan timbul berbagai macam penyakit (Wirakusuma, 1999). Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari), baik sementara atau terus menerus.
Untuk itu penulis sangat tertarik untuk mengetahui bagaimana cara perawatan yang lebih intensif, untuk itu penulis memilih judul laporan kasus “ Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Penyakit Anemia Hemolitik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah penelitian bagaimana melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Penyakit Anemia Hemolitik.


C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Untuk memberikan gambaran secara umum tentang penerapan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Penyakit Anemia Hemolitik serta membandingkannya secara teoritis.
Manfaat
Sebagai bahan perbandingan antara tinjauan teori dengan studi kasus yang ditemui di lapangan.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari seperti, kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat, atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah. (Marilynn E. Doenges).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb 12 g/dl dan Ht 37% pada wanita. (Arif Mansjoer, dkk, 1999).
Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari), baik sementara atau terus menerus. (Arif Mansjoer, dkk, 1999).
Anemia hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. dalam keadaan normal, sel darah merah mempunyai waktu hidup 120 hari.
jika menjadi tua, sel pemakan dalam sumsum tulang, limpa dan hati dapat mengetahuinya dan merusaknya. jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal.jika penghancuran sel darah merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.pembesaran limpa.
Banyak penyakit yang dapat menyebabkan pembesaran limpa.
jika membesar, limpa cenderung menangkap dan menghancurkan sel darah merah; membentuk suatu lingkaran setan, yaitu semakin banyak sel yang terjebak, limpa semakin membesar dan semakin membesar limpa, semakin banyak sel yang terjebak.
Anemia yang disebabkan oleh pembesaran limpa biasanya berkembang secara perlahan dan gejalanya cenderung ringan.
pembesaran limpa juga seringkali menyebabkan berkurangnya jumlah trombosit dan sel darah putih.
pengobatan biasanya ditujukan kepada penyakit yang menyebabkan limpa membesar. kadang anemianya cukup berat sehingga perlu dilakukan pengangkatan limpa (splenektomi).

B. Etiologi
Penyakit ini dapat dibagi menjadi dalam 2 golongan besar yaitu:
1. Golongan dengan penyebab hemolisis yang terdapat dalam eritrosit sendiri. Umumnya penyebab hemolisis dalam golongan ini ialah kelainan bawaan (konginetal)
2. Golongan dengan penyebab hemolisis ekstraseluler. Biasanya penyebabnya merupakan faktor yang didapat (acquired)

a. Gangguan intrakorpuskuler (konginetal)
Kelainan ini umumnya disebabkan oleh karena adanya gangguan metabolisme dalam eritrosit itu sendiri. Keadaan ini dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
- Gangguan pada struktur dinding eritrosit
- Gangguan enzim yang mengakibatkan kelainan metabolisme dalam eritrosit
- Hemoglobinopatia
b. Gangguan struktur dinding eritrosit
- Sferositosis
Penyebab hemolisis pada penyakit ini diduga disebabkan oleh kelainan membran eritrosit. Kadang-kadang penyakit ini berlangsung ringan sehingga sukar dikenal. Pada anak gejala anemianya lebih menyolok daripada dengan ikterusnya, sedangkan pada orang dewasa sebaliknya. Suatu infeksi yang ringan saja sudah dapat menimbulkan krisis aplastik
Pengobatan
Transfusi darah terutama dalam keadaan krisis. Pengangkatan limpa pada keadaan yang ringan dan anak yang agak besar (2-3 tahun). Sebaiknya diberikan roboransia
- Ovalositosis (eliptositosis)
Pada penyakit ini 50-90% dari eritrositnya berbentuk oval (lonjong). Dalam keadaan normal bentuk eritrosit ini ditemukan kira-kira 15-20% saja. Penyakit ini diturunkan secara dominan menurut hukum mendel. Hemolisis biasanya tidak seberat sferositosis. Kadang-kadang ditemukan kelainan radiologis tulang. Splenektomi biasanya dapat mengurangi proses hemolisis dari penyakit ini.
- A-beta lipropoteinemia
Pada penyakit ini terdapat kelainan bentuk eritrosit yang menyebabkan umur eritrosit tersebut menjadi pendek. Diduga kelainan bentuk eritrosit tersebut disebabkan oleh kelainan komposisi lemak pada dinding sel
- Gangguan pembentukan nukleotida
Kelainan ini dapat menyebabkan dinding eritrosit mudah pecah, misalnya pada panmielopatia tipe fanconi
- Gangguan struktural pembentukan hemoglobin (hemoglobin abnormal). Misal HbS, HbE dan lain-lain
- Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa) rantai globin. Misal talasemia
c. Gangguan ekstrakorpuskuler
Gangguan ini biasanya didapat (acquired) dan dapat disebabkan oleh :
- Obat-obatan, racun ular, jamur, bahan kimia (bensin, saponin, air), toksin(hemolisin) streptococcus, virus, malaria, luka bakar juga dapat menyebabkan anemia hemolitik
- Hipersplenisme. Pembesaran limpa apapun sebabnya sering menyebabkan penghancuran eritrosit
- Anemia oleh karena terjadinya penghancuran eritrosit akibat terjadinya reaksi antigen-antibodi.
- Antagonisme ABO atau inkompatibilitas golongan darah lain seperti Rhesus dan MN
- Alergen atau hapten yang berasal dari luar tubuh, tetapi dalam tubuh akan melekat pada permukaan eritrosit dan menimbulkan reaksi antigen-antibodi pada permukaan eritrosit dan hal ini dapat menyebabkan hemolisis. Kejadian tersebut dapat ditimbulkan oleh virus, bakteri atau obat-obatan seperti kina, PAS dan insektisida.
- Hemolisis dapat pula timbul akibat adanya reaksi autoimun.
Perjalanan penyakitnya bergantung pada penyebab hemolisisnya, bisa berlangsung ringan tetapi dapat juga terjadi akut, cepat dan dapat menyebabkan kematian. Pada keadan yang sangat berat sering terjadi hemoglobinuria dan hemoglobin yang bebas ini diduga merusak tubulus ginjal sehingga terjadi oliguria, bahkan kerusakan ginjal itu bukan disebabkan oleh hemoglobin bebas semata-mata, tetapi juga oleh karena terjadinya mikroangiopatia dari pembuluh darah ginjal. Oleh karena terjadi pembuatan trombin yang berlebihan, maka dalam hal ini diperlukan pemberian heparin.

Pengobatan
Pada keadaan yang berat, akibat keracunan obat-obatan, pemberian transfusi darah dapat menolong penderita. Kadang-kadang diperlukan pula transfusi tukar. Pada anemia hemolitik oleh karena proses imun maka pemberian darah harus hati-hati oleh karena hal ini dapat menambah proses hemolisis. Dalam hal ini sebaiknya diberikan transfusi eritrosit yang telah dicuci.
Diberikan pula prednison atau hidrokortison dengan dosis tinggi pada anemia hemolitik imun ini. Bila perlu diberikan preparat kortikosteroid secara intravena. Apabila didapatkan gagal ginjal akut, maka diberikan cairan dan obat-obatan sesuai dengan penatalaksanaan dari gagal ginjal akut. Pada anemia hemolitik autoimun yang biasanya berlangsung lama, maka disamping pemberian prednison, juga diberikan azatioprin (imuran).

C. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau akibat dari keduanya .kegagalan sum-sum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,pajanan toksik,invasi tumor atau akibat kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui (idiopatik).sel darah merah dapat hilang melalui pendarahan atau hemolisis.
Lisis sel darah merah terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,terutama Dallam hati dan limfa.sebagai hasil samping proses ini ,bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah merah(hemolisis) segera di refleksikan dengan peningkatan billirubin plasma.
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik,maka Hb akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia).apabila konsentrasi plasmanya malebihi kapasitas haptoglobin plasma maka Hb akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan akan dikeluarkan melalui urine (hemoglobinuria)

D. Manifestasi Klinis
Anemia menyebabkan kepucatan ringan pada kulit, biasanya yang paling terlihat adalah pucatnya warna bibir, garis kelopak mata (Konjungtiva), dan kuku jari ( bagian merah muda dari kuku) .Anak yang anemik juga menjadi peka, agak lemah atau mudah lelah ,bernafas pendek, mempunyai denyut jantung cepat, pembengkakan tangan serta kaki, jika berlanjut dapat mengganggu pertumbuhan normal.( Steven P. Shelov, M.D., F.A.A.P.).
Terdapat Gejala umum anemia, pada system kariovaskuler terdapat takikardia, telapak tangan hangat dan basah, tekanan darah sistolik dapat meninggi, normal atau menurun, nadi teraba kuat bila terjadi kardiomegaliktuskordis akan bergaser ke kiri bawah, pada anemia berat dapat terjadi gagal jantung (A. H Markum, dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak) .

E. Pemeriksaan Penunjang
Terdiri dari :
1. Pemeriksaan penyaring
Pemeriksaan penyaring untuk kasus anemia terdiri dari pengukuran kadar Hb,indeks eritrosit dan hapusan darah tepi
2. Pemeriksaan darah seri anemia
Pemeriksaan ini meliputi hitung leukosit,trombosit,hitung retikulosit dan laju endap darah.
3. Pemeriksaan sum-sum tulang
Pemeriksaan ini memnerikan informasi yang sangat berharga mengenai system hematopoesis.pemeriksaan ini dibutuhkan untuk diagnosis definitive pada beberapa jenis anemia (anemia aplastik,anemia megaloblastik,serta kelompok hematomegalis)
4. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus .misalnya pada:
a. Anemia defisiensi besi : serum iron.TIBC (Eatal iron binding capacity), saturasi transferin, protoporfirin, eritrosit, feritin serum, siseptor transferin dan pengecatan besi pada sum-sum tulamng (Perl’s Stain)
b. Anemia megaloblastik : folat serum,vitamin B12 serum,tes supresi deoksiuridin dan tes schilling
c. Anemia hemolitik : bilirubin serum,Ees colomb,elektroforesis hemoglobin dll.
d. Anemia aplastik : biopsy sum-sum tulang ,juga diperlukan pemeriksaan non hemologik tertentu seperti pemeriksaan faal hati,faal ginjal dan faal tiroid.

F. Penatalaksanaan
1. Medik
a. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai.
b. Pemberian preparat Fe :
Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal.
c. Bedah
Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel.
d. Suportif
Makanan gizi seimbang terutama yang megandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan).

2. Penatalaksanaan terapi
Setelah diagnosis ditegakan maka dibuat rencana pemberian terapi,terapi terhadap anemia difesiensi besi dapat berupa :
a. Terapi kausal: tergantung penyebabnya,misalnya : pengobatan cacing tambang, pengobatan hemoroid, pengubatan menoragia. Terapi kausal harus dilakukan, kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali.
b. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh :
- Besi per oral : merupakan obat pilihan pertama karena efektif, murah, dan aman.preparat yang tersedia, yaitu:
· Ferrous sulphat (sulfas ferosus): preparat pilihan pertama (murah dan efektif). Dosis: 3 x 200 mg.
· Ferrous gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate,harga lebih mahal, tetepi efektivitas dan efek samping hampir sama.
- Besi parenteral
Efek samping lebih berbahaya,serta harganya lebih mahal. Indikasi, yaitu :
· Intoleransi oral berat;
· Kepatuhan berobat kurang;
· Kolitis ulserativa



BAB III
ASUHAN KEPERAWTAAN SECARA TEORITIS

A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise umum, kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak Toleransi terhadap latihan rendah
Tanda : Takikardia,/ takipnea, dipsnea pada bekerja dan istirahat, kelemahan otot dan penurunan kekuatan otot.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat kehilangan darah Hemolitik,
Tanda : TD, peningkatan sistolik, diastolic stabil dan tekanan nadi melebar.
3. Eliminasi
Gejala : Hematemesis, Feses dengan darah segar, melana . Diare atau konstipasi , Penurunsn haluaran urine
Tanda : Distensi Abdomen.
4. Makanan / Cairan
Gejala : Penurunan masukan Diet, Masukan protein hewani rendah / masukan produk serea tinggi,mual muntah, penurunan BB
Tanda : Membran mukosa tampak mongering , turgor kulit memburuk , terdapat stomatitis.


5. Neurosensori
Gejala : Ketidakmampuan berkonsentrsi, kelemahan sakit kepala berdenyut, pusing, Vrtigo , tinnitus, ketidak
Tanda : Peka rangsangan, Epistaksis, perdarahan dilubang- lubang, gangguan koordinasi
6. Pernafasan
Gejala : Riwayat TB, Abses Paru, Nafas pendek pada aktivitas dan istirahat.
Tanda : Takipnea, ortopnea dan dipsnea.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan oleh tubuh untuk pemgiriman oksigen / nutrient ke sel.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan absrpsi Nutrien yang di perlukan oleh tubuh.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya petahanan sekunder.
5. Kurang pengetahuan Mengenai penyakit berhubungan dengan Kurang mengenal sumber informasi.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan pengiriman oksigan ke jaringan
7. Ansietas berhubungan dengan prosedur diagnistik

C. Perencanaan
1. Perubahan perfisi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan oleh tubuh untuk pemgiriman oksigen / nutrient ke sel
Intervensi
· Awasi tanda tanda vital ,kaji pengisian kapiler ,warna kulit atau membrane mukosa , dasar kuku
· Awasi upaya pernafasan
· Selidiki keluhan nyeri dada
· Catat adanya keluhan rasa dingin , pertahankan suhu Tubuh dan lingkungan hangat sesuai indikasi
· Berikan Trasfusi drah sesuai indikasi
· Berikan Oksogen Tambahan sesuai indikasi
Rasional
· Memberikan informasi mengenai derajat / keadekuatan perfusi jaringan
· Untuk mengetahuiadanya dipsnea
· Iskemia seluler dapat Mempengaruhi jaringan miokardial
· Vasokontriksi ( ke organ vital ) Menurnkan sirkulasi perifer
· Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan
· Memaksimalkan traspor oksigen ke jaringan

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan absrpsi Nutrien yang di perlukan oleh tubuh.
Intervensi
· Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
· Observasi dan catat masukan makanan pasien
· Timbang berat badan setiap hari
· Berikan makan sedikit dan frekuensi sering
· Konsul pada ahli gizi
· Berikan obat sesuai indikasi
Rasional
· Mengidentifikasi defisiensi menduga kemungkinan intervensi
· Mengawasi masukan kadar kalori atau kualitas konsumsi makanan
· Mengawasi penurunan berat badan
· Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dapat meningkatkan pemasukan
· Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual
· Menurunkan resiko anemia berlanjut

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
Intervensi
· Kaji kemampuan klien dalam melakukan tugas, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas
· Awasi tanda – tanda vital
· Berikan bantuan dalam aktivitas / ambulasi bila diperlukan
· Gunakan teknik penghematan energi misalnya mandi dengan duduk.
Rasional
· Mengetahui seberapa dalam kemampuan klien dalam melakukan aktivitas,dan menentukan piliha intervensi yang tepat
· Mengetahui keadaan umum klien
· Membantu pemenuhan kebutuhan klien
· Mendorong klien melakukan aktivitas sebanyak mungkin dengan membatasi penyimpanan energi


4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder.
Intervensi
· Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan pasien
· Dorong perubahan posisi / ambulasi yang sering
· Tingkatkan masukan cairan yang adekuat
· Pantau suhu dan catat adanya mengigil dan takikardia dengan atau tanpa demam
Rasional
· Mencegah kontaminasi silang, kolonisasi bakterial dan infeksi bakterial
· Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu sekresi untuk mencegah pneumonia
· Membantu dalam pengenceran sekret pernafasan untuk mempermudah pengeluaran dan pencegahan stasis cairan tubuh
· Untuk mengetahui adanya proses inflamasi

5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan Kurang mengenal sumber informasi.
Intervensi
· Berikan informasi mengenai anemia secara spesifik
· Jelaskan kepada keluarga mengenai program perawatan
· Intruksikan pasien atau orang terdekat tentang pemberian obat
Rasional
· Memberikan dasar pengetahuan mengenai penyakit yang diderita
· Mengurangi ansietas / takut tentang ketidaktahuan
· Mencegah terjadinya anemia lanjut

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan pengiriman oksigan ke jaringan
Intervensi
· Observasi adanya tanda – tanda kerja fisik ( takikardia, palpitasi, takipnea, nafas pendek, sesak nafas, pusing ) dan keletihan
· Antisipasi dan bantu dalam aktivitas sehari – hari yang mungkin diluar batas kemampuan anak
· Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi
· Kaji tanda – tanda vital
Rasional
· Untuk mengetahui batas kemampuan klien dalam aktivitas
· Untuk mencegah kelelahan
· Untuk meningkatkan oksigen ke jaringan
· Untuk menentukan nilai dasar perbandingan selama peride aktivitas

7. Ansietas berhubungan dengan prosedur diagnistik
Intervensi
· Siapkan anak untuk tes ataupun program perawatan
· Jelaskan tujuan pemberian transfuse
Rasional
· Menghilangkan ansietas / rasa takut
· Untuk meningkatkan pemahaman terhadap tindakan perawatan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb 12 g/dl dan Ht 37% pada wanita.
Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari), baik sementara atau terus menerus. (Arif Mansjoer, dkk, 1999).
Anemia hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. dalam keadaan normal, sel darah merah mempunyai waktu hidup 120 hari.
jika menjadi tua, sel pemakan dalam sumsum tulang, limpa dan hati dapat mengetahuinya dan merusaknya. jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal.jika penghancuran sel darah merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.pembesaran limpa.
Diagnosa yang mungkin muncul :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan oleh tubuh untuk pemgiriman oksigen / nutrient ke sel.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan absrpsi Nutrien yang di perlukan oleh tubuh.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya petahanan sekunder.
5. Kurang pengetahuan Mengenai penyakit berhubungan dengan Kurang mengenal sumber informasi.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan pengiriman oksigan ke jaringan
7. Ansietas berhubungan dengan prosedur diagnistik

B. Saran
1. Dalam melakukan pengkajian anemia sebaiknya data difokuskan pada masalah yang benar-benar sangat berhubungan dengan pasien.
2. Data-data yang ditegakkan henkdanya berdasarkan data-data yang ditemukan pada pengkajian sesuai dengan teoritis.
3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebaiknya dilakukan sesuai dengan prosedur perawatan dan kode etik perawatan.
4. Hendaknya dalam melakukan evaluasi harus memperhatikan kemajuan yang dapat menghalangi kemajuan diantaranya pengkajian, diagnsoa keperawatan yang telah dimodifikasi dengan criteria hasil.
.


DAFTAR PUSTAKA

- Doenges, Marilynn E, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC. Jakarta.
- Wikjnjo Sastro Hanifa, 2002, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
- Mansjoer, dkk, 2001, kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Media Aesculapius Fakultas Universitas Indonesia, Jakarta.
- Tucker susan Martin, dkk, 1999, Standar Perawatan Pasien, Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Vol IV, EGC Jakarta.

1 komentar:

Ritha Amran mengatakan...

contoh kasusnya???