Kamis, 16 September 2010

Aneurisme

Aneurisme adalah pelebaran abnormal yang permanen pada pembuluh arteri yang merupakan kelainan kongenital atau lebih lazim lagi terjadi akibat kelainan degeneratif arterial. Bentuk Aneurisme bisa fusiformis, sakulasi ( membentuk kantong) atau diseksi. I. Konsep Dasar Medis

1. Pengertian

Aneurisme adalah pelebaran abnormal yang permanen pada pembuluh arteri yang merupakan kelainan kongenital atau lebih lazim lagi terjadi akibat kelainan degeneratif arterial. Bentuk Aneurisme bisa fusiformis, sakulasi ( membentuk kantong) atau diseksi.

Dengan terbentuknya hubungan antara pembuluh arteri dan vena yang biasa nya terjadi akibat cedera. Kelainan kongenital pembuluh darah otak yang dapat mengalami ruptur sehingga terjadi pendarahan subaraknoid.


2. Etiologi

Aneurisme bawaan berkembang dari kelemahan tunika media arteri dan bentuk kantongan terjadi secara sekunder. Predileksi Aneurisme bawaan adalah arteri dasar otak, aorta asenden, aorta pulmonalis utama dan kadang-kadang juga terjadi pada aorta abdominalis dan jarang sekali pada aorta renalis.

Aneurisme arteriosklerotik hampir pasti mengenai penderita berusia diatas 50 tahun, tempat yang paling sering terserang adalah aorta abdominalis sekmen infrarenal, aorta pemoralis komunis dan aorta publitea. Obtruksi perifer sering di sebabkan oleh lepas nya emboli arteri dari kantong Aneurisma.







2

Aneurisma sifilis pada umumnya berkembang dari angiitis sifilitika di vasa vasorum pada sifilis stadium III. Kerusakan tunika media terjadi secara progresif bersamaan dengan pembentukan parut pada jaringan ikat.setelah di kenal nya salvarsan dan antibiotic sifilis stdium III hamoir tidak di temukan lagi sehingga kejadian Aneurisme sifilis dapat berkurang. Tempat yang paling sering terserang adalah arkus aorta. Ciri khusus Aneurisme sifilis adalah cenderung progresif di sertai erosi struktur di sekitar nya seperti tulang belakang atau sternum di dekat nya sehingga cenderung mengalami ruptur.

Aneurisme pascatrauma terbentuk akibat robekan dinding pembuluh darah sebagian atau total pada trauma tajam atau tumpul. Aneurisme pascatrauma banyak di temukan di daerah extremitas. Sebagian di sebabkan oleh luka tembak, sebagian oleh fungsi arteri atau luka tusuk.

Aneurisme mikotik terbentuk akibat proses radang di dinding arteri seperti pada endokarditis bacterial. Jadi sebenar nya nama mikotik adalah nama yang salah karena biasanya radang ini tidak ada hubungan dengan jamur.

Aneurisme pascastenosis terbentuk karena perubahan hemodinamik akibat penyempitan pembuluh darah. Aneurisme ini di sebut juga dilatasi pascatenosis baisanya kelainan ini terdapat di bagian arteri subklavia, aorta asenden, arteri pulmonalis utama, dan distenosis katub aorta atau pulmonal.


3. Patofisiologi

Pada Aneurisme asli, dinding Aneurisme berbentuk dari dinding pembuluh yang bersangkutan dan dapat berbentuk kosentrik atau eksentrik. Menurut bentuk Aneurisme ini dapat di bedakan atas 3 bentuk yaitu futus, sacculius, dan disscare.

Pada Aneurisme palsu berbentuk kantong yang berasal dari hematom akibat robek atau terbuka nya dinding terbentuk oleh bekas thrombus yang mungkin sebagian mengalami fibrosis.

3


Kuman mati Virulensi tinggi

Destruksi jaringan

Pola nafas tak Shunt darah arteriole alveoli


Devisit vol.




Perdarahan cerebral

Tekanan perfusi vaskukar distal

Iskemia


Anoksia Aktifitas elektrolit terhenti

Metabolisme anaerob Pompa NA-dari K+ gagal

Metabolit asam NA- dan H2O masuk sel

Acidosis lokal Edema intrasel

Pompa NA- gagal Edema ektrasel

Edema- mekrosis jaringan Perfusi jaringan cerebral



Sel otak mati secara progresif
(devisit fungsi otak )


4
4. Gejala klinis

Tanda dan gejala klinis suatu Aneurisme tergantung dari letak dan besar gelembung, tanda subjektif maupun objektif berupa tumor pembuluh darah yang berdenyut dan expansif kesegala jurusan. Pada auskultasi terdengar bising yang sering dapat di raba sebagai getaran.

Pada Aneurisme yang letak nya perifer, diagnosis klinik biasanya tidak sulit Aneurisme sentral yang letak di dalam rongga tubuh yang besar seperti rongga toraks atau rongga abdomen sangat sulit di diagnosis. Tidak jarang penderita datang dengan salah satu dari komplikasi Aneurisme, biasa nya berupa tuptur. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi dan arteriografi dapat memberikan diagnosis pasti.



5. Komplikasi


Komplikasi Aneurisme arteri dapat berupa ruptur atau emboli. Ruptur Aneurisme aorta abdominalis tidak jarang terjadi emboli yang berasal dari thrombus didalam Aneurisme dapat menyebabkan obtruksi arteri di ektremitas maupun alat di dalam nya.

Komplikasi dini yang tejadi setelah operasi efektif meliputi iskemia jantung, aritmia, dan gagal jantumg kongestif (15%), insufisiensi pulmonal (8%), kerusakan ginjal (6%), perdarahan (4%), tromboemboli distal (3%), dan infeksi luka(2%).







5



6. Pengobatan

Biasanya aneurisme aorta perut perlu operasi dan mengganti bagian yang mengalami kerusakan degan alat Dacron. Apabila aneurisme masih kecil dan tidak menimbulkan gejala, oprasi dapat di tunda meski adakala nya aneurisma kecil dapat robek. Pemeriksaan fisik dan ultrasosonografi secara rutin sangat di perlukan untuk mengetahui pembesaran yang berlanjut robek. Aneurisma yang membesar dan memberikan gejala serta memiliki risiko perobekan perlu segera dioprasi.

Dubost adalah orang yang pertama yang sukses melakukan reseksi aneurisme aorta di Paris, 29 Maret 1951. Sejak iyulah teknik pembedahan mulai di kembangkan.

Bedah efektif. Keputusan untuk melakukan operasi pada pasien aneurisme asimtomatik bergantung pada risiko aneurisme tersebut mengalami ruptur. Masih sedikit data yang dapat menunjukan seberapa besar diameter aneurisme yang berisiko mengalai ruptur.

Bedah darurat. Pasien dengan dugaan ruptur aneurisme perlu di pertimbangkan di lakukan bedah darurat. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian selama pembedahan adalah usia lebih dari 80 tahun, kesadaran menurun, konsentrasi Hb rendah, cardiac arrest, penyakit kardiorespiratori parah.

Bedah Konvensional. Bedah Konvensional adalah dengan menggunakan graft prosthetic. Pemasangan graft di nila efektif, dan kematian 30 hari nya hanya 5 %. Risiko kematian paska pemasangan graft bergantung dari status kesehatan pasien

RENCANA KEPERAWATAN

1. DX I
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak ditandai dengan klien mengeluh sakit kepala, keadaan umum lemah nyeri seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, klien tampak meringis.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Nyeri tidak ada lagi
- Skala nyeri o
Intervensi :
- Kaji, frekuensi, kuantitas dan lokasi nyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Berikan kompres dingin pada kepala
- Anjurkan klien untuk istirahat / ajarkan teknik relaksasi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
Rasionalisasi :
- Untuk memilih intervensi yang cocok dan mengevaluasi terapi yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda dan keadaan klien
- Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan vasadilatasi
- Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala
- Penanganan sakit kepala secara umum.

2. DX II
Hipertermia berhubungan dengan “Sus, badan saya panas”, keadaan umum lemah, badan terasa panas, klien tampak gelisah, suhu 39o C, klien berkeringat.
Kriteria hasil :
- Suhu kembali normal
- Badan tidak panas lagi
- Klien tampak rrileks
Intervensi :
- Kontrol tanda-tanda vital
- Beri kompres hangat didaerah yang banyak pembuluh darah (axila dan didahi).
- Beri minum banyak lebih kurang 2,5 liter
- Longgarkan pakaian
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipeuretik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan tanda-tanda vital
- Dengan kompres dibagian yang banyak pembuluh darah dapat merangsang hypotalamus sebagai pusat pengatur panas
- Akan mengganti cairan yang hilang
- Membantu proses pertorasi
- Antipeuretik berfungsi untuk menurunkan panas.

3. DX III
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan klien mengeluh kurang nafsu makan, keadaan umum lemah, berat badan menurun, porsi yang disediakan hanya 2 – 3 sendok yang dihabiskan, nafsu makan menurun.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
- Berat badan kembali normal
- Keadaan umum baik
- Porsi yang disediakan habis
Intervensi :
- Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
- Beri makan porsi kecil tapi sering
- Timbang berat badan sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit.
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengetahui bahwa pentingnya gizi bagi kebutuhan tubuh
- Untuk memenuhi nutrisi klien dan dapat menaikkan selesa makan klien
- Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
- Untuk mengindentifikasi kebutuhan kalori / nutrisi tergantung pada usia berat badan, dll.

4. DX IV
Perubahan isitrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kepala ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa tidur karena adanya nyeri kepala, keadaan umum lemah, konjungtiva anemis, sering terbangun pada malam hari, frekuensi tidur hanya 3 jam terpenuhi.
Tujuan : Istirahat dan tidur terpenuhi
Kriteria hasil :
- Klien tampak rileks
- Klien dapat tidur dengan tenang
Intervensi :
- Ciptakan suasana lingkiungan yang aman dan tenang
- Atur posisi klien senyaman mungkin
- Batasi pengunjung
- Jelaskan klien tentang pentingnya istirahat dan tidur
Rasionalisasi :
- Agar klien dapat beristirahat dan tidur dengan tenang
- Posisi yang nyaman dapat merambat motivasi klien untuk tidur dan istirahat
- Dapat menambah rasa nyaman dan tenang
- Agar klien dapat mengerti dan memahami bahwa tidur yang cukup baik untuk kesehatan.

5. DX V
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien mengeluh tidak bisa memenuhi semua aktivitas sehari-hari, keadaan umum lemah, tonus otot menurun, kekuatan otot 4, sebagian aktivitas dilakukan perawat dan keluarga.
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
Kriteria hasil :
- keadaan umum baik
- klien tidak dibantu oleh keluarga dan perawat
Intervensi :
- Motivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap
- Libatkan keluarga dalam tindakan keperawatan
- Kaji penyebab kelemahan
- Evaluasi peningkatan toleransi aktivitas
Rasionalisasi :
- Dapat memotivasi klien diharapkan dapat melakukan aktivitas secara mandiri
- Dapat melibatkan keluarga klien dapat dilatih secara rutin
- Nyeri juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan
- Dapat menunjukkan peningkatan dekompersasi jantung daripada kelebihan aktivitas.

6. DX VI
Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatannya ditandai “Sus, apakah penyakit saya masih bisa sembuh, klien tampak cemas dan gelisah, klien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya.
Tujuan : Anxietas dapat teratasi
Kriteria hasil :
- Klien mengerti tentang penyakitnya
- Klien mengetahui bahwa penyakitnya bisa disembuhkan

Intervensi :
- Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang keadaan penyakitnya
- Beritahu klien sebelum dilakukan tindakan
- Anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi
- Ciptakan suasana yang tenang dan nyaman
Rasionalisasi :
- Diharapkan klien dapat mengerti tentang penyakitnya
- Diharapkan klien merasa yakin tentang tindakan yang akan dilakukan
- Memberikan arti penghilangan respons ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi.
- Diharapkan dapat mengurangi rasa cemas.









PENUTUP

Kesimpulan
1. Anuerisma adalah : Pelebaran setempat pada arteri.
2. Gejala Anuerisma adalah : Pingsan, suhu tubuh menaik.
3. Keluhan utama pasien dengan anuerisma adalah sakit kepala yang sakitnya seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 7, nyeri dirasakan setiap saat.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelumpuhan saraf otak.
5. Intervensi dari gangguan rasa nyaman nyeri
- Kaji lokasinyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Kompres dingin pada kepala
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anagetik.

DAFTAR PUSTAKA

- Smeltzer C. Suzanne, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
- Brunner & Suddarth,edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran, 2001.
- SPK. Dep. Kes. RI. Medan.
- Hichliff Sue, Kamus Keperawatan, edisi 17, Penerbit Buku Kedokteran, 1999.

Tidak ada komentar: