Kamis, 16 September 2010

Angina Pektoris

Angina Pektoris ialah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada tersebut. Biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnyaAngina Pectoris yaitu nyeri dada sementara atau suatu perasaan tertekan yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen akibat pembuluh darah yang menyempit. Lokasinya biasanya di dada sebelah kiri,dengan penjalaran ke leher,rahang,bahu kiri sampai lengan. Rasa nyeri dapat berlangsung 3-15 menit & nyeri akan kurang jika istirahat.

2. Pembagian Angina Pectoris
ANGINA PECTORIS ada 2 jenis :
a. Angina Pectoris Stabil
Timbul saat melakukan aktivitas fisik sampai kapasitas tertentu & nyeri dapat hilang bila istirahat.

PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan ini dilakukan pemeriksaan fisik seperti pasien-pasien sebelumnya,tidak ada yang spesifik, tapi pemeriksaan fisis dapat dilakukan waktu nyeri dada dapat menemukan adanya aritma,gallop bahkan murmur,
split S2 paradoksal, ronki basah pada bagian paru, yang menghilang pada waktu nyeri sudah berhenti.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
- HB
- HT
- Trombosit
- Faktor Resiko Koroner seperti Gula darah
- Profil Lipid

PENEGAKAN DIAGNOSA
- EKG waktu istirahat
- Foto Toraks
- EKG waktu aktivitas/Latihan
- Ekokardiografi
- Stress imaging,dengan Ekokardiografi atau Radionuklir
- Angiografi Koroner

PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan agar mencegah kematian dan terjadinya serangan jantung. Sedangkan yang lainnya adalah mengontrol serangan angina sehingga memperbaiki kualitas hidup.

Pengobatan ada 2 jenis yaitu farmakologis & non farmakologis :
Farmakologis :
· Aspirin
· Penyekat Beta
· Nitrogliserin
· Pemakaian obat-obatan utk penurunan LDL pd pasien LDL
· Antagonis Ca / Nitrat jangka panjang
· Klopidogrel utk pengganti aspirin
· Terapi pada faktor resiko

Non Farmakologis :
Selain pemberian oksigen dan istirahat,dapat melakukan perubahan life style ( berhenti merokok,dll ) , penurunan BB, penyesuaian diet, olahraga teratur.

b. Angina Pectoris Tak Stabil
Angina Pectoris tak stabil yaitu pada pasien dengan :
1) Angina yang masih baru dalam 2 bulan,di mana angina cukup berat dan frekuensi cukup sering.
2) Angina yang makin bertambah berat,sebelumnya stabil, lalu serangan angina timbul lebih sering dan lebih berat sakit dadanya.
3) Angina pada waktu istirahat.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
· Elektrokardiografi (ECG)
· Exercise test
· Ekokardiografi

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
· Pemeriksaan Troponin T atau I
· Pemeriksaan CK-MB

PENATALAKSANAAN / PENGOBATAN
Tindakan umum:
Pasien perlu dirawat di Rumah Sakit, sebaiknya di unit intensif koroner, pasien perlu diistirahatkan, diberi penenang dan oksigen, untuk pasien yang masih merasakan sakit dada walau sudah mendapat nitrogliserin dapat diberikan morfin.

Terapi Medikamentosa:
- OBAT ANTI ISKEMIA
- Nitrat
- Penyekat Beta
- Antagonis Kalsium

OBAT ANTIAGREGASI TROMBOSIT
- Aspirin
- Tiklopidin
- Klopidogrel
- Glikoprotein llb / llla inhibitor

OBAT ANTITROMBIN
- Unfractionated Heparin
- Low Molecular Weight Heparin (LMWH)

3. Etiologi
Pada sebagian besar kasus nyeri Angina Pektoris terjadi karena penyempitan pembuluh arteri koronia utama oleh anteroskierosis. Namun demikian setiap keadaan yang menyumbat aliran darah koroner atau meningkat kerja jantung dapat berakibat oksigenasi miokardium yang tidak memadai sehingga menimbulkan penumpukan zat-zat penghasil nyeri dalam otot yang iskemik. Dengan demikian Angina Pektoris dapat terjadi sebagai komplikasi dari aourtitis sifilitika penyakit katup aorta. Kardiomiopati hipertropik, hipertiroidisme dan anemi berat.

Faktor-faktor lain penyebab Angina Pectoris :
a. Latihan fisik meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
b. Udara dingin mengakibatkan kontriksi, peningkatan tekanan darah serta peningkatan kebutuhan oksigen jantung.
c. Makanan berat meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrikus sehingga mengurangi ketersediaan darah untuk jantung.
d. Stres atau emosi menyebabkan pelepasan adrenalin sehingga kontraktilitas jantung meningkat

4. Patofisiologi
Sakit dada pada Angina Pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia miokard karena suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Aliran darah berkurang karena penyempitan pembuluh darah koroner. Penyempitan terjadi karena proses anteroskletoris atau spasme pembuluh koroner atau kombinasi proses anterosklerosis dan spasme.
Pada mulanya suplai darah tersebut walaupun berkurang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan miokard pada waktu istirahat tetapi tidak cukup bila kebutuhan oksigen miokard meningkat seperti pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Oleh karena itu sakit pada Angina Pektoris tumbul pada waktu pasien melakukan aktivitas fisik misalnya sedang berjalan cepat atau berjalan mendaki.

5. Manifestasi Klinis
Penyakit Angina Pektoris terutama ditandai dengan nyeri dan respon fisiologis individu terhadap nyeri angina secara khas digambarkan sebagai nyeri subternal atau perasaan penuh/ tertekan, nyeri ini menjalar kelengan atau leher dan rahang, secara khas individu yang merasa nyeri ini akan diam, tampak pucat berkeringat dan sesak safas.
6. Penatalaksanaan
Pada waktu mendapat serangan Angina obat yang paling baik adalah preparat nitrogliserin atau derivatnya yang diberikan secara sublingual. Dosis nitrogliserin bervariasi daro 0,5 – 1. Tablet yang dapat diulang sampai beberapa kali pemberian. Untuk mencegah timbulnya serangan angina dapat dipakai beberapa preparat yaitu : 1 gr actiry nitrase, seperti issosorbiddinitrat atau nitrogliserin dalam bentuk salep atau refard/sustained



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1. Pengkajian
Data Obyektif :
- nyeri pada dada
- Kolesterol serum tinggi
- terlalu banyak merokok

Data Subyektif :
- sesak nafas
- kelelahan
- tidak nafsu makan
- mual

2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.


3. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia.
Tujuan : Nyeri dada berkurang.
Intervensi :
- Analisa dan catat karakteristik nyeri dada, keluhan verbal, ekspresi wajah, TD
- Ciptakan suasana nyaman dan tenang
- Beri oksigen
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat : analgetik.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui perkembangan
- Agar klien merasa tenang
- Untuk memenuhi kebutuhan oksigen
- Dalam pemberian obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak klien.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Mengembalikan/meningkatkan kemampuan beraktivitas secara bertahap.
Intervensi :
- Catat dan analisa perubahana tanda-tanda vital sebelum, selama, sesudah beraktivitas adanya nyeri dada dan seska nafas
- Anjurkan istirahat, hindari dan batasi kegiatan yang memelahkan.
Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui batas kemampuan klien dalam beraktivitas
- Untuk melatih/merenggangkan otot-otot yang tegang secara bertahap
- Untuk mengurangi rasa nyeri dan sesak pada klien.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi bagi tubuh bisa terpenuhi.
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dalam proses penyembuhan
- Beri makanan yang bervariasi dalam porsi kecil tapi sering
- Timbang BB klien.
Rasionalisasi :
- Untuk memberi pengetahuan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan motivasi agar klien mau makan
- Agar klien lebih ingin untuk makan dan merasa tidak bosan dengan menu yang diberikan
- Untuk mengetahui perkembangan BB klien.

4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.
Tujuan : Memperoleh pengetahuan tentang penyakit
Intervensi :
- Beri penjelasan tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Jawab semua pertanyaan dari klien
- Pantau pasien untuk mengidentifikasi sumber stress
- Diskusikan ASA sesuai indikasi
Rasionalisasi :
- Untuk memberikan pengetahuan kepada klien tentang tinggi jantung dan dampak penyakit
- Agar klien memperoleh informasi yang diinginkannya dan klien merasa puas dengan jawaban yang diterima
- Mencegah serangan angina
- Diberikan secara profilaksis untuk menurunkan agresasi trombosit dan memperbaiki sirkulasi koroner.

4. Implementasi
Dalam melaksanakan implementasi keperawatan pada klien dengan Angina Pektoris, sesuai dengan keperawatan yang telah disusun perencanaan yang ada pada masing-masing diagnosa keperawatan, telah dilaksanakan dan sebagai perawat kita harus berusaha melaksanakan keperawatan pada klien dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan sarana dan fasilitas yang ada.
Ada beberapa tindakan yang tidak dapat dilakukan penulis secara mandiri memerlukan bantuan dari tim kesehatan yaitu dokter dan perawat ruangan.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, hasil yang diperoleh dari pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Angina Pektoris adalah sebagai berikut :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoxia ditandai dengan skala nyeri 5, klien tampak lemah, muka pucat, tidur 4 – 5 jam/hari.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dengan kelemahan fisik ditandai dengan klien tampak lemah, nadi 56 x/menit, RR 34 x/menit, aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga, klien terpasang oksigen.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan keadaan umum lemah, porsi yang disediakan tidak habis.
d. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang tinggi jantung dan dampak penyakit jantung.

BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
1. Angina pektoris adalah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekankan atau terasa berat didala tersebut. Biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.
2. Pengkajian yang dilakukan pada klien Angina Pektoris berdasarkan pada keluhan utama, riwayat.
3. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan berdasarkan data yang didapat dari pengkajian.
4. Perencanaan tindakan pada klien Angina Pektoris disesuaikan dengan kondisi atau keadaan klien.
5. Pelaksanaan tindakan harus dievaluasi setiap waktu.

B. Saran
1. Dalam memberikan askep pada klien dengan Angina Pektoris, rekan-rekan seprofesi hendaknya lebih mendalami ilmu tentang Angina Pektoris.
2. Dalam memberikan askep hendaknya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
3. Hendaknya masyarakat, keluarga melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit Angina Pektoris.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilynn E (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3, EGC.

Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga Jilid I Media Aesculapiun.

Tidak ada komentar: