Kamis, 16 September 2010

Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahunB. Etiologi
Apendisitis disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel imfoid, fekalit, benda asing, struktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.

C. Patofisiologi
Obstruksi apendiks menyebabkan mukosa yang diproduksi mengalami bendungan, makin lama mukosa tersebut makin banyak, dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tekanan intra lumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema yang terasa sakit di umbilikus.
- Sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, mukus tersebut akan mengalami infeksi oleh bakteri dan menjadi nanah. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. Peradangan akan meluas mengenai peritonium setempat sehingga menimbulkan nyeri perut pada kanan bawah. Bila aliran arteri terganggu maka akan terganggu maka akan timbul ganggren dan hal inilah yang disebut dengan Apendiks Perforasi (Junaidi, 1992:341).
- Gejala yang biasa timbul pada Apendiks seperti mual, muntah, nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik Mc. Burney dan disertai dengan Mansjoer, 2000:307-308).

D. Manifestasi Klinis
Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 jam nyeri akan beralih kekuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperbesar bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan suatu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rovsing, psoas dan obturator positif akan semakin meyakinkan diagnosis klinis apendisitis.

E. Pemeriksaan Penunjang
Akan terjadi leukositosis ringan (10.000 – 20.000/ml) dengan peningkatan jumlah netrofil. Pemeriksaan urin juga perlu dilakukan untuk membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih.
Paa kasus akut tidak diperbolehkan melakukan barium enema, sedangkan pada aendisitis kronis tindakan ini dibenarkan. Pemeriksaan USG dilakukan bila telah terjadi infiltrat apendikularis.

F. Penatalaksanaan
1. Sebelum Operasi
a. Observasi
Dalam 8 – 12 jam setelah keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini operasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Lakstif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis dilakukan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
b. Intubasi bila perlu
c. Antibiotik
2. Operasi Apendiktomi
3. Pasca Operasi
Bila dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan.
Kemudian berikan minuman mulai 15 ml/jam selama 4 – 5 jam lalu naikkan menjadl 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
4. Penatalaksanaan Gawat Darurat Non Operasi
Bila tidak ada fasilitas bedah, berikan penalataksanan seperti dalam peritonis akut. Dengan demikian, gejala apendisitis akut akan mereda dan kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang.

G. Komplikasi
Apendisitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan, tetapi penyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan dalam masa tertentu.
Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran untuk kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam, malaise dan leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak pasien pertama kali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti.
Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa dikuadran kanan bawah yang cenderung menggelembung kearah rektum atau vagina. Terapi dini dapat diberikan kombinasi antibiotik (biasanya ampisilin, gentamisin, metronidazol, atau klindamisin). Dengan sediaan ini abses akan segera menghilang dan pendiktomi dapat dilakukan 6 – 12 minggu kemudian.

TINJAUAN KASUS SECARA TEORITIS

A. Pengkajian Data Subjektif
1. Klien mengeluh nyeri pada daerah Mc. Burney
2. Nyeri bertambah apabila digerakkan
3. Klien mengatakan mual dan muntah, tidak ada nafsu makan
4. Klien mengatakan tidak bisa istirahat dan tidur

B. Pengkajian Data Subjektif
1. Klien tampak lemah
2. Klien tidak ada nafsu makan
3. Ekspresi wajah meringis
4. Mata klien tampak cekung
5. Klien selalu berbaring, aktivitas klien dibantu, klien terpasan infus dan kateter.

C. Penunjang Diagnosa
1. Rontgen abdomen
2. Laboratorium, leukosit meningkat

D. Diagnosa Keperawatan
· Diagnosa keperawatan secara umum menurut Barbara Engram tahun 1999 adalah sebagai berikut :
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi / takut tentang beberapa aspek pembedahan.
· Diagosa keperawatan yang muncul menurut Susan Martin Tucker, dkk tahun 1999 adalah sebagai berikut :
1. Perubahan eliminasi perkemihan (oliguria) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal untuk mengekstrak air.
3. Ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal utuk mengatur dan mengeluarkan elektrolit.
- Diagnosa keperawatan yang mucul menurut Marilynn E. Doenges adalah sebagai berikut :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.

E. Perencanaan
· Perencanaan menurut Barbara Engram :
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi / pre operasi.
Tujuan : Ansietas hilang/berkurang
Kriteria hasil : Cemas berkurang, ekspresi wajah rileks
Intervensi :
- Jelaskan apa tindakan yang akan dilakukan
- Biarkan klien mengungkapkan perasaan tentang pengalaman operasi.
- Beritahu dokter jika ada kelainan hasil tes laboratorium
Rasionalisasi :
- Diharapkan dapat membantu mengurangi ansietas klien
- Mendorong keterlibatan klien dalam perawatan diri
- Mengurangi resiko yang tidak diinginkan

· Perencanaan menurut Susan Martin Tucker :
1. Perubahan eliminasi perkemihan (oliguria) berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal.
Tujuan : Eliminasi klien kembali normal
Kriteria hasil :
- Klien mempertahankan tingkat eliminasi perkemihan yang ada/lebih baik.
- Nilai laboratorium normal untuk BUN dan kreatinin dalam 2 minggu.
Intervensi :
- Perawatan kateer setiap 8 jam
- Ukur masukan dan haluaran dengan adekuat
- Berikan D5W IV sesuai pesanan
Rasionalisasi :
- Mengetahui tingkat perkembangan dan menjaga kateter agar tetap baik
- Mengetahui jumlah masukan dan haluaran
- Untuk keseimbangan cairan
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal untuk mengekstrak air.
Tujuan : Volume cairan kembali normal
Kriteria hasil :
- Klien menunjukkan tidak ada kelebihan volume cairan
- Tidak ada edema pitting perifer
Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital
- Timbang berat badan pasien
- Berikan es batu untuk mengontrol haus
Rasionalisasi :
- Langkah dasar untuk menentukan intervesi
- Mengetahui tingkat perkembangan klien
- Mengetahui apakah klien haus/tidak
3. Ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal untuk mengatur dan mengeluarkan elektrolit
Tujuan : Klien mempertahankan kadar kalium serum
Kriteria hasil :
- Kalium serum < 4,5
- Tidak ada tanda dan gejala hiperkalemia

Intervensi :
- Pantau elektrolit serum tiap 4 jam
- Pantau dan laporkan gejaala ketidakseimbangan kalium
- Berikan kalium sesuai pesanan
Rasionalisasi :
- Mengetahui tingkat perkembangan klien
- Untuk menghindari komplikasi lebih lanjut
- Mengurangi resiko dehidrasi

· Perencanaan menurut Marilynn E. Doenges :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik.
Tujuan : Volume cairan dan elektrolit terpenuhi
Kriteria hasil : Kelembapan membran mukosa, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, haluaran urin adekuat.
Intervensi :
- Pantau vital sign setiap 2 jam sekali
- Pantau intake-output cairan
- Berikan cairan sesuai kebutuhan
Rasionalisasi :
- Tindakan dasar untuk melakukan intervensi
- Mengurangi resiko dehidrasi
- Agar kebutuhan cairan klien terpenuhi
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil : Rasa nyeri berkurang/hilang, ekspresi wajah tenang.
Intervensi :
- Kaji tingkat nyeri, lokasi, lamanya, intensitas dan karakternya
- Ajarkan teknik relaksasi
- Berikan posisi yang menyenangkan sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik

Rasionalisasi :
- Untuk mengetahui tingkat nyeri
- Untuk mengurangi nyeri yang dirasakan klien
- Agar klien nyaman dengan posisinya
- Agar dokter dapat memberikan terapi sesuai penyakit klien

F. Evaluasi
Kemungkinan yang dapat dijumpai alam evaluasi adalah :
1. Tujuan tercapai, yaitu jika klien menunjukkan perubahan dari kriteria hasil yang ditemukan.
2. Tujuan tercapai sebagian, yaitu klien menunjukkan perubahan sebagian dengan kriteria hasil yang ditentukan.
3. Tujuan tidak tercapai, yaitu jika klien tidak menunjukkan perubahan / kemajuan.
(Sumber: Rencana Asuhan Keperawatan, EGC : Edisi 3, Hal : 508).


DAFTAR PUSTAKA

- Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Fakultas Kedokteran, EGC : Jakarta.
- Carpenito, L.J, 1998, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi Enam, EGC : Jakarta.
- Doenges, M.E, 1993, Rencanan Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC.
- Tucker, Susan. M. 1999. Standar Perawatan Pasien Edisi V, EGC : Jakarta.

Tidak ada komentar: