Sabtu, 09 Oktober 2010

artikel keperawatan anak dengan demam rematik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Defenisi
Demam reumatik adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jaringan konektif jantung, tulang, jaringan subkutan dan pembuluh darah pada pusat sistem persarafan, sebagai akibat dari infeksi beta-Streptococcus hemolyticus grup A
B. Etiologi
- Secara pasti belum diketahui
- Penderita dengan infeksi saluran nafas yang tak terobati (kuman; A beta Hemolytic streptococcus).

C. Manifestasi klinis
- Polyarthritis
- Karditis
- Chorea (Pergerakan yang tanpa disadari pada tungkai, lengan dan muka)
- Eritema marginal (merah pada kulit yang lesi kemudian muncul makula pada truncus dan perifer)
- Adanya nodul pada subkutan.

D. Patofisiologi
- Demam reumatik adalah suatu hasil respon imunologi abnormal yang disebabkan oleh kelompok kuman A beta-hemolitic treptococcus yang menyerang pada pharynx
- Streptococcus diketahui dapat menghasilkan tidak kurang dari 20 prodak ekstrasel; yang terpenting diantaranya ialah streptolisin O, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, difosforidin nukleotidase, deoksiribonuklease serta streptococca erythrogenic toxin. Produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi. Demam reumatik yang terjadi diduga akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa produk tersebut.
- Sensitivitas sel B antibodi memproduksi antistreptococcus yang membentuk imun kompleks. Reaksi silang imun komleks tersebut dengan sarcolema kardiak menimbulkan respon peradangan myocardial dan valvular. Peradangan biasanya terjadi pada katup mitral, yang mana akan menjadi skar dan kerusakan permanen.
- Demam rematik terjadi 2-6 minggu setelah tidak ada pengobatan atau pengobatan yang tidak tuntas karena infeksi saluran nafas atas oleh kelompok kuman A betahemolytic.
- Mungkin ada predisposisi genetik, dan ruangan yang sesak khususnya di ruang kelas atau tempat tinggal yang dapat meningkatkan risiko.
- Penyebab utama morbiditas dan mortalitas adalah fase akut dan kronik dengan karditis.

E. Pemeriksaan diagnostik
- Riwayat adanya infeksi saluran nafas atas dan gejala
- Positif antistretolysin titer O
- Positif stretozyme positif anti uji DNAase B
- Meningkatnya C-reaktif protein
- Meningkatnya anti hyaluronidase, meningkatnya sedimen sel darah merah (eritrosit)
- Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
- Elektrokardiogram menunjukkan arrhtythmia E
- Ehocardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi

F. Penatalaksanaan teraupetik
- Pemberian antibiotik
- Mengobati gejala peradangan, gagal jantung, dan chorea
- Pilihan pengobatan adalah antibiotik pencillin dan anti peradangan misalnya; aspirin atau penggantinya untuk 2-6 minggu.

G. Penatalaksanaan perawatan
a. Pengkajian
• Riwayat penyakit
• Monitor komplikasi jantung (CHF dan arrhythmia)
• Auskultasi jantung; bunyi jantung melemah dengan irama derap diastole
• Tanda-tanda vital
• Kaji adanya nyeri
• Kaji adanya peradangan sendi
• Kaji adanya lesi pada kulit
b. Diagnosa keperawatan
1. Kurangnya pengetahuan orang tua/ anak berhubungan dengan pengobatan, pembatasan aktivitas, risiko komplikasi jantung
2. Tidak efektif koping individu berhubungan dengan kondisi penyakit
3. Nyeri berhubungan dengan polyartritis.
4. Risiko ijury berhubungan dengan infeksi streptococcus
c. Perencanaan
1. Orang tua dan anak akan memahami tentang regimen pengobatan dan pembatasan aktivitas.
2. Anak tidak akan menunjukakan stress emosional dan dapat menggunakan strategi koping yang efektif
3. Anak dapat menunjukkan dalam pengontrolan nyeri sesuai tingkat kesanggupan.
4. Anak akan memperlihatkan tidak adanya gejala-gejala sakit menelan untuk pertama kali atau tidak ada injury
d. Imlementasi
1. Mencegah atau mendeteksi komplikasi
• Auskultasi bunyi jantung untuk mengetahi adanya perubahan irama
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Pembatasan aktivitas sampai manifestasi klinis demam reumatik tidak ada dan berikan periode istirahat.
• Berikan terapi bermain yang sesuai dan tidak membuat lelah.
2. Support anak dalam pembatasan aktivitas
• Kaji keinginan untuk bermain sesuai dengan usia dan kondisi
• Buat jadual aktivitas dan istirahat
• Ajarkan untuk partisipasi dalam aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Ajarkan pada anak/ orang tua bahwa pergerakan yang tidak disadari adalah dihubungkan dengan Chorea dan temporer.
3. Memberikan kontrol nyeri yang adekuat
• Kaji nyeri dengan skala
• Pemberian analgeik, anti peradangan dan antipiretik sesuai program
• Reposisi untuk mengurangi stress sendi
• Berikan terapi hangat dan dingin pada sendi yang sakit
• Lakukan distraksi misalnya; teknik relaksasi dan hayalan.
4. Mencegah infeksi dan injury
• Monitor temperatur setiap 4 jam selama dirawat.
• Pemberian antibiotik sesuai program
• Lihat juga dalam perencanaan pemulangan
• Anak diistirahatkan


e. Perencanaan pemulangan
• Berikan informasi tentang kebutuhan aktivitas bermain yang sesuai dengan pembatasan, aktivitas
• Istirahat 2-6 minggu, bantu segala pemenuhan aktivitas kebutuhan sehari-hari
• Jelaskan pentingnya istirahat dan membuat jadual istirahat dan aktivitas sampai tanda-tanda klinis tidak ada.
• Jelaskan terapi yang diberikan; dosis, efek samping, risiko komplikasi jantung
• Berikan support lingkungan yang aman, jangan biarkan anak tidur di lantai
• Instruksikan untuk menginformasikan jika ada tanda sakit menelan
• Tekankan pentingnya kontrol ulang.

Tidak ada komentar: